20 September 2008
Judul ini saya ambil dari judul bukunya Fani Kartikasari, S.T terbitan PT Elex Media Komputindo tahun 2008. Buku setebal 123 halaman ini dihargai Rp 34.800 di Toko Buku Gramedia. Tampilan dalamnya cukup menarik, tidak membosankan. Content-nya cukup simple dan tidak bertele-tele
. Sebenarnya tips yang diberikan tergolong ringan dan merupakan sesuatu yang jelas sudah kita ketahui, tapi memang sulit diamalkan. Nah, kalo belum sempat beli bukunya, saya beri bocoran dikit deh…
Di Bab 3, Fani membahas tentang 5 Prinsip Smart utk mencapai Cum Laude, yaitu
:
-
Be positive thinking
-
Strong motivation
-
Ready to change
-
Disiplin, komitmen, dan konsisten
-
Do our best, and let God do the rest.
Kemudian pada Bab 4 ada Tip dan Trik di kelas
:
-
Pilih bangku depan
-
Siap materi sebelum kuliah
-
Siap fisik
-
Buku pegangan sendiri
-
Aktif di kelas
-
NO titip absen
-
Catatan sendiri
-
Dekati dosen
Nggak cuma di kelas, di rumah pun ada tip dan triknya lho…
-
Pintar-pintar bagi waktu
-
Pilih waktu, tempat, dan suasana paling sreg
-
Menghafal dengan warna / suara / inisial / gambar
-
Banyak latihan soal
-
Buat ringkasan
-
Jangan menunda
Nah lho, lengkap kan? Tip di kelas sudah, di rumah sudah. Nah..tinggal menanti masa ujian neh.. Tapi ujian pun ternyata ada tip dan triknya juga!
-
NO SKS (Sistem Kebut Semalam)
-
Cari tahu siapa pembuat soal dan buku pegangannya
-
Cari soal-soal tahun kemarin dari senior
-
Prekdisikan soal yang akan keluar
-
Siap fisik, siap mental
-
Jangan stres ketika melihat soal
-
Pastikan jam dan tempat ujian
-
Tulisan dan cara menjawab
Sebenernya masih ada lagi sih, Gaul Asyik ala Cum Laude, Tip dan Trik Membuat Skripsi sampe ke sidangnya. Tapi kalo ta tulis di sini juga, kasihan Mbak Fani, royalty-nya berkurang karena pada milih baca blog saya daripada bukunya Mbak Fani. Hehehe… Oya, FYI, Mbak Fani ini lulusan Teknik Industri Trisakti yang lulus dengan IPK 3,92 dalam waktu 3,5 tahun
. Bisa enggak ya kita mengikuti jejaknya di jurusan Statistika ITS?
Semestinya, saya nggak boleh menuliskan ringkasan saya dan mem-publish-nya, nanti banyak saingan sarjana cum laude. Tapi nggak pa pa deh, ilmu kan untuk dibagi, bukan disimpan sendiri. Setuju?
Buat Mbak-Mas yang sudah mengalami cum laude, mohon bimbingan dan koreksinya juga ya, apakah tips dan triknya Mbak Fani ini sesuai dengan apa yang Anda terapkan..??
Buat yang belum Cum laude, bareng-bareng usaha yuk! Aku juga belum cum laude koq…
8 September 2008
Sebelumnya, simak artikel yang saya ambil dari Tempo Interaktif.
LELAKI DARI DUNIA TAK NYATA
SEJUMLAH karyawan Grup Media mengenal pria itu sebagai teknisi pendingin ruangan. Ia biasa datang bila ada masalah pada alat pendingin gedung di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Asiong, begitu pria pertengahan 40-an tahun itu dikenal.
Nama aslinya Alfian Sanjaya. Ia lahir dan besar di Jambi. ”Saya ini orang kampung, hanya lulus sekolah menengah pertama,” katanya. Kenyataannya, Asiong bukan orang kampung biasa.
Alfian tercatat sebagai Komisaris PT Vista Bella Pratama, perusahaan pembeli hak tagih (cessie) pemerintah di PT Timor Putra Nasional. Membeli cessie dengan harga Rp 446 miliar dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 2003, Vista berhak atas piutang senilai hampir Rp 4,5 triliun di perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto itu.
Kepada Tempo, Alfian mengaku tak tahu apa-apa soal pembelian hak tagih Timor itu. ”Saya dulu cuma disuruh tanda tangan. Setelah itu, enggak tahu apa-apa,” ujarnya. ”Bahkan saya enggak tahu bila Anda tanya: apa itu cessie?”
Menurut sumber Tempo, nama Alfian sebenarnya hanya dipakai untuk kepentingan Surya Paloh, pemilik Grup Media, dalam transaksi hak tagih utang Timor. Ia memang dikenal dekat dengan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar itu. Ia antara lain biasa menyiapkan berbagai hal jika Surya berlibur ke Kaliage, pulau di kawasan Kepulauan Seribu milik sang pengusaha.
Awalnya adalah keputusan Surya Paloh mengikuti tender pembelian piutang Timor, yang dinilai sebagai ”barang bagus”. Politikus Partai Beringin itu meminta Taufik Surya Darma, 43 tahun, juga orang kepercayaannya, membentuk perusahaan guna keperluan ini. Dipakailah Vista Bella, perusahaan yang pada akta awal pendiriannya dibuat untuk perdagangan dan kontraktor umum, yang akhirnya memenangi tender.
Taufik cukup berpengalaman menjalankan bisnis Surya Paloh. Pada 1992, ia memimpin pembangunan Hotel Sheraton Media di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Ia juga berperan penting antara lain dalam pembangunan Hotel Tiara, Medan, dan gedung Metro TV di Jakarta.
Pembangunan Hotel Sheraton juga menjadi awal pertautan Alfian Sanjaya dengan Surya Paloh. Sumber Tempo memastikan, Alfian terlibat dalam pemasangan instalasi listrik, termasuk pemasangan alat penyejuk udara, di hotel bintang lima itu. Sejak itu, ia pelan-pelan masuk lingkaran dekat Surya Paloh, hingga akhirnya diminta menjadi Komisaris Vista Bella.
Alfian tidak menjawab tegas ketika dimintai konfirmasi soal hubungannya dengan Surya Paloh. ”Saya enggak mau banyak berkomentar, takut salah,” katanya. Ketika kemudian ditanyai mengapa bisa menjadi Komisaris Vista Bella, Alfian menjawab, ”Anda tahu sendirilah, zaman sekarang, mana ada yang riil?” Taufik Surya juga menolak menjelaskan kaitan Vista dengan Surya Paloh.
Surya Paloh belum bisa dimintai konfirmasi soal keterkaitannya dengan Vista Bella. Kepada Tempo, yang mengirim faksimile daftar pertanyaan konfirmasi ke kantornya, sekretaris Surya Paloh mengatakan bosnya sedang ke luar negeri. Dalam wawancara sebelumnya dengan Tempo, Presiden Komisaris PT Media Televisi Indonesia itu membantah memiliki kaitan dengan Vista Bella.
Sumber Tempo menuturkan, Komisi Pemberantasan Korupsi, yang terlibat dalam usaha pembatalan transaksi Vista Bella, telah meminta keterangan Taufik dan Alfian, juga seorang anggota staf Surya Paloh yang tahu soal jual-beli itu. Candra M. Hamzah, Wakil Ketua Komisi, membenarkan soal pemanggilan itu. ”Saya lupa siapa saja,” katanya, ”tapi kami memang memanggil berbagai pihak untuk dimintai keterangan.”
Budi Setyarso, Sahala Lumbanraja, Vennie Melyani
Bisa Anda bayangkan, seorang teknisi pendingin ruangan yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga SMP saja namanya bisa tercatat sebagai Komisaris PT. Bella Vista Pratama dengan transaksi pembelian cessie senilai Rp 446 miliar. Di artikel tersebut ditulis pula pernyataan Asiong yang hanya membubuhkan tanda tangan tanpa tahu apa yang sedang terjadi dengan namanya.
Peristiwa semacam ini bukan yang pertama kali terjadi di negara kita yang unik ini. Nama-nama wong cilik juga pernah terdaftar sebagai donatur kampanye partai di putaran Pemilu 2004 lalu. Pemulung, tukang becak, nama mereka terdaftar sebagai donatur dengan nominal donasi yang tidak kecil, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Bagimana bisa hal ini terjadi di sini?
Masyarakat bawah yang bersahabat dengan kemiskinan memang pihak yang paling rawan menjadi pelanduk ketika dua gajah bertarung. Mereka tidak tahu banyak mengenai pergolakan orang-orang besar di negeri ini. Mereka tidak tahu dunia perbankan, strategi politik, apalagi cessie. Yang jadi pemikiran mereka bukan bagaimana mendapatkan dana yang cukup besar untuk lancarnya kampanye Pemilu, tapi bagaimana mendapatkan sesuap nasi untuk sekedar mengganjal perut yang lapar. Tak harus enak, yang penting terisi.
Kita tak perlu membahas, mengapa gajah-gajah itu tega melakukan hal ini pada pelanduk, bisa jadi mereka adalah gajah dengan strategi kancil yang selalu dikisahkan mencuri timun, tanpa ada kisah pertobatan atau pengakuan dosa. Yang perlu menjadi perhatian kita adalah betapa kemiskinan menimbulkan multiply effect di beberapa aspek kehidupan. Bukan salah mereka untuk tidak peduli, atau tepatnya kurang perhatian, terhadap permasalahan politik apalagi bisnis mikro. Bukan kehendak mereka juga untuk menjadi miskin dan lapar.
Memang tak banyak yang bisa kita perbuat atas situasi ini. Tapi kita tetap tidak bisa diam berpangku tangan, membiarkan mereka menjadi bahan lelucon orang besar. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini?
28 August 2008
Semua ini memang bukan kehendakku. Kecewa itu memang terlanjur menyayatku. Tapi di hatiku kau masih sama seperti yang dulu, walau tidak bagi mereka. Aku tak peduli apa kata mereka, bagaimana mereka menilaimu bahkan memandangmu sinis penuh tanya.
Aku pun mungkin bukan yang dulu lagi. Mungkin, hingga kau pun bungkam. Tapi aku siap bungkam ketika kau ingin memuntahkan duniamu, gelapmu sekalipun, karena aku pun punya hitam itu.
Kau sahabatku, kau perempuanku. Kau masih punya harta, dan jangan pernah berikan itu pada siapapun.
Suatu hari kau akan tahu, bagaimana rasanya bila apa yang terjadi dan kau alami sekarang terjadi pada adik atau anak perempuanmu. Kemudian kau melihat semua itu, dan hancurlah rasa itu…
3 April 2008
Saya menulis artikel ini sebagai satu dari sekian banyak mahasiswa yang menerima beasiswa, khususnya Beasiswa Unggulan dari Departemen Pendidikan. Tenang saja, saya hanya satu dari 10 penerima di ITS atau 2200 penerima di Indonesia dengan jenjang S1 koq.
Mendapatkan beasiswa bukanlah hal yang sulit
. Asal ada niat dengan ekstra kesungguhan dan setetes keberuntungan, insya Allah beasiswa bisa didapat. Beasiswa Unggulan, misalnya. Beasiswa Unggulan adalah salah satu jenis beasiswa yang disediakan Departemen Pendidikan untuk mahasiswa dalam dan luar negeri. Kalau yang dalam negeri biasa disebut Beasiswa Unggulan Reguler. Beasiswa ini bisa Anda lirik bahkan Anda comot langsung di http://www.beasiswaunggulan.diknas.go.id. Dari flyer yang saya baca, sasaran penerima Beasiswa Unggulan antara lain:
1. Lulusan terbaik SMA/MA/SMK/Ponpes/PT yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/Kabupaten/Kota), masyarakat (LSM), dan industri.
2. Lulusan cum-laude dari Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi/Akademi
3. Pemenang Lomba IPTEK/Lomba Karya Ilmiah Remaja/MIPA Tingkat Nasional
4. Pemenang Lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional
5. Pemenang Olimpiade Sains/Teknologi Tingkat Nasional
6. Pemenang Lomba Bidang Olahraga Tingkat Nasional
7. Pemenang Lomba Bidang Seni Tingkat Nasional
8. Pemenang Lomba Bidang Bahasa Tingkat Nasional
9. Para Aktivis Mahasiswa (Pengurus; UKM, BEM, Senat, HMI)
10. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit-unit utama serta jajarannya.
Dilihat dari sasarannya, beasiswa tersebut memang bukan beasiswa biasa, tapi bukan berarti orang biasa tidak bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada lembaga atau instansi pemberi beasiswa yang mau memberikan beasiswa secara cuma-cuma. Maksud saya, mereka (baca: pemberi beasiswa) pasti selektif dalam memilih penerima beasiswa. Bukan hanya kualitas saja yang mereka perhatikan, tapi juga timbal balik yang bisa mereka dapatkan. Timbal balik di sini bisa berupa pengabdian atau prestasi yang tidak biasa. Sekali lagi saya misalkan pada Beasiswa Unggulan.
"Program beasiswa dalam skala nasional (Beasiswa Unggulan Reguler) dan internasional (Beasiswa Atdikbud RI di luar negeri) yang dikembangkan dalam rangka menyiapkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif sesuai dengan visi pendidikan nasional. Dengan adanya program beasiswa unggulan, diharapkan di akhir program akan muncul critical mass dan bangsa Indonesia yang berdaya saing tinggi di masa yang akan datang," begitu kata flyer-nya.
Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang nggak doyan beasiswa? Hampir semua mahasiswa apalagi kelas menengah bawah pasti tidak akan menolak beasiswa yang diberikan pada mereka. Bayangkan saja, biaya pendidikan (seperti SPP) sudah tertangani. Biaya hidup juga tersedia dalam jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi uang buku (untuk beli buku kuliah, bukan Komik Detective Conan!) yang juga rutin diberikan. Pokoke makmur!
Sayangnya yang sering kali terlupakan oleh pelamar juga penerima adalah amanat yang terkandung dalam setiap rupiahnya. Beasiswa bukan rejeki nomplok. Mendapatkan beasiswa bukan berarti kita bisa beli baju Dolce Gabanna, Mango, atau Zara, padahal sebelumnya cukup made in Pasar Blauran. Mendapatkan beasiswa bukan berarti jajanan kita De Espresso (tulisane bener gak yo?), Gelato, Starbucks Coffee, padahal biasanya cukup kacang goreng plus kopi asli warkop lokal. Perbaikan gizi sih boleh saja, tidak dilarang koq
. Tapi mbok ya yang wajar…
Memang benar, beasiswa tidak selalu diberikan pada mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi pun berhak. Bahkan ada juga beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang aktif di organisasi. Apapun jenis beasiswa, berapa pun besarnya, dan siapa pun sasarannya, beasiswa mengandung amanat. Jangan sampai penerima beasiswa ‘mengecewakan’ pemberi beasiswa. Kebayang donk, betapa malunya Anda ketika sudah mendapatkan beasiswa kemudian tiba-tiba dipanggil Pembantu Rektor I karena prestasi Anda yang nol besar…
Jadi, saya sarankan bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, pastikan dahulu bahwa Anda akan mampu mengemban amanat yang dibebankan. Setelah itu baru penuhi syaratnya.
Tenang saja, ada banyak provider beasiswa koq. So far, yang saya tahu dari Majalah Tempo minggu ini (31 Maret-6 April 2008):
a. Asian Development Bank-Japan Foundation (adb.org)
tujuan AS, Asia, Australia, waktu aplikasi Januari-Desember
b. ADS (adsjakarta.org)
tujuan Australia, syarat IELTS 5 atau TOEFL 500, waktu aplikasi 5 September
c. Chevening (chevening.or.id)
tujuan Inggris Raya (Great Britain), syarat IELTS 6,5, waktu aplikasi 1 September-16 Nobvember
d. Neso (nesoindonesia.or.id)
tujuan Belanda, syarat IELTS 6 atau TOEFL 550, waktu aplikasi Desember-Maret
e. Sampoerna Foundation (sampoernafoundation.org)
tujuan AS, Inggris, Australia, Prancis, Singapura, syarat TOEFL 600, waktu aplikasi 30 Mei
f. Departemen Pendidikan (beasiswaunggulan.diknas.go.id)
tujuan dalam dan luar negeri
g. Aminef (aminef.or.id)
tujuan AS, syarat TOEFL 550, waktu aplikasi 31 Mei
h. Komisi Eropa (mundus-urbanu.eu)
tujuan Eropa, waktu aplikasi Juni-Januari
i. ASEAN Foundation (aseanfoundation.org)
tujuan Thailand, waktu aplikasi 31 Maret
j. Nanyang University (ntu.edu.sg)
tujuan singapura, waktu aplikasi Desember.
Selamat mencoba!
26 February 2008
20:25 20/02/2008
Sebelum mengerjakan tugas Praktikum Statistika, saya ingin berbagi satu pelajaran berharga yang saya dapat hari ini tentang ‘Mr/s.Gadget’.
Sejak SD (ketika disk masih segedhe muka dan CPU masih tertindas di kaki monitor CRT)
, saya sudah dikenalkan dengan dunia gadget, baik dalam komputer dan HP, oleh Ibu. Kalau tidak salah, HP Ibu saat itu Nokia 3310 atau berapa itu yang layar warna (dua warna thok maksude) dan baru ada yang namanya eS eM eS. Saya masih ingat betul nomornya, 08122967004 (coba aja miskol, lha wong udah bangkotan. He he he…)
. Emang bawaan lahir, saya sering usil dengan setiap gadget yang saya pegang
. Bahkan pernah HP Ibu itu saya ubah setting bahasanya ke Bahasa Mandarin. Mungkin kedengarannya biasa saja mengubah setting bahasanya, tapi itu kali pertama saya tahu HP, sehingga wajar saja kalau saya sempat berkeringat dingin gara-gara tidak bisa mengembalikan setting bahasa seperti semula.
Di SMP saya semakin akrab dengan dunia gadget. Bedanya, yang saya geluti saat itu lebih primitif, yaitu mesin ketik segedhe meja
. Saat pelajaran Mengetik, sering jari kelingking saya keseleo karena tutsnya yang ‘tidak manusiawi’ atau lecet karena tuts yang lepas meninggalkan besi tipis
. Yah, tapi pengorbanan saya terbayar lumayan karena setelah beberapa kali ujian kecepatan mengetik sepuluh jari, saya selalu bisa jadi yang tercepat dengan prosentase missed type terkecil.
Masuk SMA, saya kembali ke komputer, bukan mesin ketik, dan saya pun mulai ‘pegang’ HP sendiri. Waktu itu HP saya Samsung layar warna (dua warna juga: biru hitam) dan masih berantena
. Awal masuk SMA, guru TIK saya lumayan kejam kalau bikin soal. Bayangkan saja, buku bilang materinya Operating System, tapi yang keluar di ujian: Terbuat dari apakah floppy disk? Benar-benar menuntut pengetahuan umum. Sempat shock juga ketika melihat raport muncul angka 98 sedang teman-teman riang gembira dengan nilai 70. Di SMA juga sedikit primitif karena belum ada lab komputer, saat itu. Secara tertulis memang ada, persis di samping kelas saya. Tapi bagi kami, ruangan itu adalah Gudang Hardware, bukan lab komputer karena semuanya serba merakit sendiri dengan hardware seadanya. Hardware-hardware itu kami dapat dari berbagai penjuru, bahkan limbah Korea pun kami gunakan. Jadi ya wajar saja kalau semua komputer di ruangan itu keyboard-nya pakai huruf Korea. Namanya saja Gudang Hardware, komputer-komputernya pun mayoritas ‘telanjang’
, tidak ber-casing, karena setiap kali ada eror langsung bongkar pasang. Saya masih ingat betul, ketika saya dan beberapa teman-teman TOKI (semuanya laki-laki kecuali saya) diminta membuat perintah coding dalam pascal. Satu per satu di antara mereka berguguran meninggalkan Gudang Hardware hingga yang tersisa tinggal saya, Tazul, dan Gigih. Karena tidak kalah bosan dengan teman-teman yang sudah gugur, kami membuat perintah untuk menghapus semua tampilan termasuk start menu. Selanjutnya? Komputer diperkosa lalu kami ganti hardisknya dengan hardisk administrator sebab kami lupa kode perintah mengembalikan start menu seperti semula.
Sekarang sih enak, sudah ada lab komputer di depan kelas saya itu dengan AC dari sana-sini, berkarpet, mulai dari CPU sampai monitor bisa dibilang sudah canggih, apalagi setelah dilengkapi hotspot.
Tapi bukan canggih atau tidaknya suatu gadget yang ingin saya sampaikan di sini
, melainkan tentang keangkuhan yang sering kali muncul ketika kita merasa begitu merajai gadget
. Biasanya penyakit ini menyerang ‘penduduk’ usia remaja hingga dewasa
. Mereka ‘iseng-iseng’ menghapus data, membuat atau menyebarkan virus, menjadi hacker, semua dalam rangka ‘iseng-iseng’. Saat orang lain panas dingin kelimpungan gara-gara ulah kita, pasti ada suara ketawa cekikikan di belakang (suara kita tuh!) karena merasa menang. Saya akui, saya juga mengalami fase tersebut dan masih berpikiran bahwa saya hebat, I am a Ms.Gadget
, ketika saya berhasil merusak suatu sistem atau jaringan yang begitu sempurna dengan satu klik.
Pemikiran itu baru saya sadari hari ini.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, ada dua teman yang menjadi obyek cerita saya kali ini yaitu si Ali dan si Banu. Banu, laki-laki asal Jakarte ini sekilas sangat biasa. Pakaian casual, badan juga terbilang kurus, tidak ada stiker NOS di sepeda motor, amat sangat biasa
. Saat dia mengerjakan Praktikum Statistika di aula asrama, ia letakkan HPnya di meja lalu menyalakan laptopnya yang juga sangat biasa, masih AMD. Wow! Dopod
! Seorang biasa serupa Banu tidak pernah memunculkan handphone Dopodnya. Kerennya, dia mau meminjamkan Dopodnya pada saya untuk FSan. He he he, biasa, orang Asia Tenggara, bandwith-nya cuma buat friendster. Banu juga mengajari saya cara menggunakan Dopod dengan model slider sekaligus touch screen itu. Saya benar-benar merasa jadi wong ndeso, dan saya tidak pernah merasa sendeso ini
.
Beda lagi dengan Ali. Pakaian selalu necis, gaya top abiz, sering keliatan nyetir mobil orang, jauh berbeda dari Banu
. Lepas dari kenyataan bahwa Ali seorang perokok atau tidak (I hate smoker so much!), sekilas orang pasti menilai Ali lebih keren dari Banu. Apalagi dengan keberaniannya mengeluarkan kata-kata kasar, semakin sempurnalah ke-keren-annya
.
Sore tadi, dengan terpaksa karena tugas PrakStat, saya harus membawa notebook saya ke kampus. Saya buka di salah satu taman di sana. Ali langsung mengambil alih notebook saya (bahkan saya tidak diijinkan melihat apa yang dia lakukan terhadap laptop saya) membuka suatu jendela yang menampilkan detil notebook ini
.
"Ya ampun…masih 250an? Lelet banget nih?! Ya ampun…Vista? Ini kan produk gagalnya Windows?!…" dan ‘ya ampun ya ampun’ lainnya. Ali masih berkutat dengan flashdisk yang disuntikkan ke notebook saya sembari bercerita tentang BF yang disimpan di flasdisknya, sistem-sistem keren yang dia tau, dan sebagainya dan lain-lain.
Kemudian setelah selesai urusan dengan Ali, notebook kembali di bawah kontrol saya. Banu datang.
"Tik, gue ngopi file dari Ali tadi dunkz," kata Banu
.
Setelah saya persilahkan, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dibungkus kulit dengan tiga port USB. Wow! External Hardisk
! Banu juga tidak pernah cerita atau komentar tentang itu, tiba-tiba saja keluar External Hardisk sekeren Seagate.
"Nu! Seagatenya Free Agent, neh?" tanya saya setengah percaya. Dengan mata yang masih terkonsentrasi di layar monitor dia hanya mengiyakan pelan.
"Wuih, keren! Eh, sekalian dunkz, notebookku belum ada antivirusnya. So, minta antivirusnya dunkz, Nu…"
No talk but action, dia copykan antivirus di notebook saya.
"Tapi sorry nih, aku lupa expirednya kapan. Coba install ulang aja,"
Ow eM Gee. Cool banget, makhluk yang satu ini
. Dia tidak pernah mengomentari gadget saya yang tertinggal jauh, tapi dia mau membantu saya beberapa langkah lebih maju.
Salut untuk Banu. Saya merasa wajib mengambil 6 SKS di mata kuliahnya, andai ia seorang dosen dan membuka kelas ‘Be Low Profile as Mr/s.Gadget’ yang menjelaskan bahwa Mr/s.Gadget yang mau browsing di selasar rektorat, tekun belajar otodidak, dan tetep low profile jauh lebih keren daripada Mr/s.Gadget yang sibuk komentar sana-sini sementara ia tidak membantu memecahkan masalah. Banu, ingatkan saya, saya berhutang banyak kepada kamu.