10 October 2008
Sebagaimana sudah menjadi tradisi umat Muslim di Indonesia, beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri datang, saya pulang ke daerah asal saya di Kabupaten Tegal. Artinya, saya sempat menghabiskan hari-hari terakhir bulan Ramadhan di sana.
Ada yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun ini. Ibu mengajak saya ke suatu perkampungan di belakang pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di sana ada suatu daerah dinamakan Legok yang berarti cekungan. Ya, daerah tersebut merupakan cekungan yang seharusnya menjadi jalan mengalirnya air kali, namun malah dibangun gubug-gubug kecil untuk ditinggali beberapa keluarga. Keluarga yang tinggal di sana bukan keluarga biasa. Anak-anak mereka sudah pandai bekerja : mengemis di pusat perbelanjaan
. Ayah-ibu bekerja sebagai pecinta lingkungan yang peduli akan kebersihan kota : pemulung.
Sudah beberapa bulan, Ibu saya dan teman-teman pengajiannya mengajar ngaji di sana dengan perlengkapan ala kadarnya. Para orangtua menyambut dengan antusias. Saya masih ingat awal perjumpaan kami dulu. Ketika itu, saya, Ibu dan teman-temanya (terkadang ikut pula sukarelawan) datang, beberapa ibu langsung menggelar tikar. Ibu-ibu yang lain ngoprak-oprak anak-anaknya untuk segera ganti baju, menutup aurat, dan bergabung bersama kami sambil berdiri menyusui (entah anak yang ke berapa). Jangan bayangkan mereka mengenakan baju muslim rapi dan indah seperti yang biasa dikenakan saat hendak mengikuti pengajian. Mereka mengenakan kaos sponsor dari parpol atau promo warung makan yang kebesaran sehingga cukup menutup tangan mereka. Yang perempuan juga mengenakan jilbab lusuh dan kekecilan. Mungkin itu jilbab turun-temurun dari kakaknya yang dia pake sejak kecil sampai sekarang.
<img src=’/images/legok1.JPG’ alt=’Anak-anak Legok’ />
Ada pula bapak-bapak yang marah-marah
karena anaknya malu bergabung dengan kami. Dia menegur anaknya hingga si anak mau bergabung masih dengan rasa malu dan mungkin sedikit terpaksa.
Tak lama, kami sudah bisa melangsungkan kegiatan belajar. Suasananya ramai, tapi semarak
. Para orang tua dari anak-anak tersebut duduk mengelilingi kami mengawasi anak mereka kalau-kalau berulah atau membuat kegaduhan. Lucu memang, tapi itulah semangat mereka. Walaupun beralas tikar beratap rimbunnya rumpun bambu, tapi semangat mereka (Subhanallah) luar biasa.
<img src=’/images/Legok2.JPG’ alt='’ />
Saat hari-hari terakhir Ramadhan kemarin, kami mengadakan buka puasa bersama dengan mereka. Suguhannya sangat sederhana, minuman ta’jil, nasi bungkus, dan salah satu buah yang biasa menjadi hidangan berbuka puasa. Kami sedikit khawatir mereka kurang antusias karena menu tersebut.
Ternyata yang terjadi sebaliknya
.
Buah yang kami suguhkan hanya mereka pandangi. Salah seorang dari mereka memberanikan diri mengambil satu buah, lalu bertanya pada Ibu, "Bu Guru, ini apa?"
. Teman-temannya menoleh ke arah anak itu seperti memiliki pertanyaan yang sama. Seorang yang lain menyahut, "Itu jajanan yang biasanya dijual kalo puasa itu lho.. Kayak manisan cermai tapi warnanya coklat."
Ibu dan saya saling berpandangan. Sulit dipercaya, buah yang hampir setiap hari kami makan untuk berbuka, belum mereka kenal.
Kemudian seorang anak lain mengambil satu buah di piring seraya berkata,"Halah… Dimakan saja, gratis ini!" lalu memakan kurma itu dengan lahap. Anak-anak lain mengikuti.
Komentar tentang buah tersebut mulai bermunculan, macam-macam sekali. Mulai dari rasanya yang manis, kulitnya yang keriput, bijinya yang tidak bulat,…
Kami terharu dengan suasana saat itu. Begitu aneh, asing, tapi nyata kami alami sendiri. Di tengah keharuan tersebut, salah seorang di antara kami mengalihkan perhatian anak-anak tersebut dari buah tadi.
"Ini namanya buah kurma, di sini memang tidak ada pohonnya. Yang ada di daerah arab sana. Berbuka puasa dengan kurma merupakan sunnah Rasul, apalagi dimakan dalam jumlah ganjil, tiga atau lima." jelas teman Ibu
.
"Bu Guru, saya kan tadi baru makan enam, berarti nambah satu lagi boleh ya Bu? Kan biar ganjil.." sahut seorang anak.
Teman Ibu tersenyum mengangguk dan berkata, "Iya, tapi jangan banyak-banyak ya.. Nanti kekenyangan, nggak kuat makan ta’jil lho…" lalu si anak tadi kembali mengambil kurma dengan girang.
Yang menggelitik di sini, apakah selama ini kita begitu acuh dengan orang-orang di sekitar kita? Begitu nikmatnya kita berbuka dengan buah kurma hingga kita lupa sudahkah mereka menikmati berbuka seperti kita? Ketika kita mentradisikan Idul Fitri dengan mudik dan baju baru, berlakukah tradisi itu bagi mereka??
28 August 2008
Semua ini memang bukan kehendakku. Kecewa itu memang terlanjur menyayatku. Tapi di hatiku kau masih sama seperti yang dulu, walau tidak bagi mereka. Aku tak peduli apa kata mereka, bagaimana mereka menilaimu bahkan memandangmu sinis penuh tanya.
Aku pun mungkin bukan yang dulu lagi. Mungkin, hingga kau pun bungkam. Tapi aku siap bungkam ketika kau ingin memuntahkan duniamu, gelapmu sekalipun, karena aku pun punya hitam itu.
Kau sahabatku, kau perempuanku. Kau masih punya harta, dan jangan pernah berikan itu pada siapapun.
Suatu hari kau akan tahu, bagaimana rasanya bila apa yang terjadi dan kau alami sekarang terjadi pada adik atau anak perempuanmu. Kemudian kau melihat semua itu, dan hancurlah rasa itu…
3 April 2008
Saya menulis artikel ini sebagai satu dari sekian banyak mahasiswa yang menerima beasiswa, khususnya Beasiswa Unggulan dari Departemen Pendidikan. Tenang saja, saya hanya satu dari 10 penerima di ITS atau 2200 penerima di Indonesia dengan jenjang S1 koq.
Mendapatkan beasiswa bukanlah hal yang sulit
. Asal ada niat dengan ekstra kesungguhan dan setetes keberuntungan, insya Allah beasiswa bisa didapat. Beasiswa Unggulan, misalnya. Beasiswa Unggulan adalah salah satu jenis beasiswa yang disediakan Departemen Pendidikan untuk mahasiswa dalam dan luar negeri. Kalau yang dalam negeri biasa disebut Beasiswa Unggulan Reguler. Beasiswa ini bisa Anda lirik bahkan Anda comot langsung di http://www.beasiswaunggulan.diknas.go.id. Dari flyer yang saya baca, sasaran penerima Beasiswa Unggulan antara lain:
1. Lulusan terbaik SMA/MA/SMK/Ponpes/PT yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/Kabupaten/Kota), masyarakat (LSM), dan industri.
2. Lulusan cum-laude dari Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi/Akademi
3. Pemenang Lomba IPTEK/Lomba Karya Ilmiah Remaja/MIPA Tingkat Nasional
4. Pemenang Lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional
5. Pemenang Olimpiade Sains/Teknologi Tingkat Nasional
6. Pemenang Lomba Bidang Olahraga Tingkat Nasional
7. Pemenang Lomba Bidang Seni Tingkat Nasional
8. Pemenang Lomba Bidang Bahasa Tingkat Nasional
9. Para Aktivis Mahasiswa (Pengurus; UKM, BEM, Senat, HMI)
10. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit-unit utama serta jajarannya.
Dilihat dari sasarannya, beasiswa tersebut memang bukan beasiswa biasa, tapi bukan berarti orang biasa tidak bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada lembaga atau instansi pemberi beasiswa yang mau memberikan beasiswa secara cuma-cuma. Maksud saya, mereka (baca: pemberi beasiswa) pasti selektif dalam memilih penerima beasiswa. Bukan hanya kualitas saja yang mereka perhatikan, tapi juga timbal balik yang bisa mereka dapatkan. Timbal balik di sini bisa berupa pengabdian atau prestasi yang tidak biasa. Sekali lagi saya misalkan pada Beasiswa Unggulan.
"Program beasiswa dalam skala nasional (Beasiswa Unggulan Reguler) dan internasional (Beasiswa Atdikbud RI di luar negeri) yang dikembangkan dalam rangka menyiapkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif sesuai dengan visi pendidikan nasional. Dengan adanya program beasiswa unggulan, diharapkan di akhir program akan muncul critical mass dan bangsa Indonesia yang berdaya saing tinggi di masa yang akan datang," begitu kata flyer-nya.
Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang nggak doyan beasiswa? Hampir semua mahasiswa apalagi kelas menengah bawah pasti tidak akan menolak beasiswa yang diberikan pada mereka. Bayangkan saja, biaya pendidikan (seperti SPP) sudah tertangani. Biaya hidup juga tersedia dalam jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi uang buku (untuk beli buku kuliah, bukan Komik Detective Conan!) yang juga rutin diberikan. Pokoke makmur!
Sayangnya yang sering kali terlupakan oleh pelamar juga penerima adalah amanat yang terkandung dalam setiap rupiahnya. Beasiswa bukan rejeki nomplok. Mendapatkan beasiswa bukan berarti kita bisa beli baju Dolce Gabanna, Mango, atau Zara, padahal sebelumnya cukup made in Pasar Blauran. Mendapatkan beasiswa bukan berarti jajanan kita De Espresso (tulisane bener gak yo?), Gelato, Starbucks Coffee, padahal biasanya cukup kacang goreng plus kopi asli warkop lokal. Perbaikan gizi sih boleh saja, tidak dilarang koq
. Tapi mbok ya yang wajar…
Memang benar, beasiswa tidak selalu diberikan pada mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi pun berhak. Bahkan ada juga beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang aktif di organisasi. Apapun jenis beasiswa, berapa pun besarnya, dan siapa pun sasarannya, beasiswa mengandung amanat. Jangan sampai penerima beasiswa ‘mengecewakan’ pemberi beasiswa. Kebayang donk, betapa malunya Anda ketika sudah mendapatkan beasiswa kemudian tiba-tiba dipanggil Pembantu Rektor I karena prestasi Anda yang nol besar…
Jadi, saya sarankan bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, pastikan dahulu bahwa Anda akan mampu mengemban amanat yang dibebankan. Setelah itu baru penuhi syaratnya.
Tenang saja, ada banyak provider beasiswa koq. So far, yang saya tahu dari Majalah Tempo minggu ini (31 Maret-6 April 2008):
a. Asian Development Bank-Japan Foundation (adb.org)
tujuan AS, Asia, Australia, waktu aplikasi Januari-Desember
b. ADS (adsjakarta.org)
tujuan Australia, syarat IELTS 5 atau TOEFL 500, waktu aplikasi 5 September
c. Chevening (chevening.or.id)
tujuan Inggris Raya (Great Britain), syarat IELTS 6,5, waktu aplikasi 1 September-16 Nobvember
d. Neso (nesoindonesia.or.id)
tujuan Belanda, syarat IELTS 6 atau TOEFL 550, waktu aplikasi Desember-Maret
e. Sampoerna Foundation (sampoernafoundation.org)
tujuan AS, Inggris, Australia, Prancis, Singapura, syarat TOEFL 600, waktu aplikasi 30 Mei
f. Departemen Pendidikan (beasiswaunggulan.diknas.go.id)
tujuan dalam dan luar negeri
g. Aminef (aminef.or.id)
tujuan AS, syarat TOEFL 550, waktu aplikasi 31 Mei
h. Komisi Eropa (mundus-urbanu.eu)
tujuan Eropa, waktu aplikasi Juni-Januari
i. ASEAN Foundation (aseanfoundation.org)
tujuan Thailand, waktu aplikasi 31 Maret
j. Nanyang University (ntu.edu.sg)
tujuan singapura, waktu aplikasi Desember.
Selamat mencoba!
13 February 2008
Artikel ini saya ketik ulang dari teks Pak SN. Ratmana ketika peluncuran buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis tanpa edit. Tujuannya? 1. Bagi-bagi ilmu; 2. Penghargaan tak ternilai saya untuk beliau.
Menuju “Pribadi Tulis” *)
Oleh SN. Ratmana
Yang saya maksud “pribadi tulis” adalah unsur terkecil dari masyarakat tulis (writing society). Sebutan penulis atau pengarang umumnya ditujuka bagi orang yang sudah berprestasi dan memiliki karya yang memenuhi standar. Sedangkan “pribadi tulis” bisa berlaku bagi siapa saja yang menjadikan menulis sebagai kebiasaan dalam mencurahkan pikiran dan perasaannya serta mendokumentasikannya.
Pribadi tulis bisa lahir karena faktor pembawaan, memang ‘dari sononya’ berpotensi untuk jadi penulis. Namun bisa juga karena dibentuk atau diarahkan. Yang terang writing society adalah tahap lanjutan dari reading society. Demikian pula pribadi tulis adalah tahap lanjutan dari pribadi baca. Jadi pada umumnya pribadi tulis merangkap pribadi baca, alas kutu buku. Dengan demikian mengembangkan minat baca merupakan langkah awal terciptanya pribadi tulis.
Bagi orang awam dan masyarakat dengar (listening society) membaca dianggap sebagai pekerjaan perintang waktu saja. Sinambi kalaning nganggur kata orang Jawa. Tidak mengherankan bila orang semacam itu baru mau membaca sesudah tidak ada pekerjaan atau kegiatan lain yang “lebih bermanfaat”. Atau membaca dianggap sebagai kegiatan yang kelewat berat karena –antara lain- harus memusatkan perhatian pada apa yang dibaca. Bandingkan misalnya dengan mendengar atau menonton yang bisa dilakukan lebih santai, malah bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain bahkan sambil mengantuk.
* * *
Kejadian nyata atau fakta yang diulas dan ditelaah pada aspek-aspeknya, bisa melahirkan tulisan yang digolongkan pada nonfiksi. Tulisan semacam itu dicerna dan dikonsumsi oleh otak kita sehingga menambah pengetahuan, memperluaskan wawasan dan mencerdaskan otak. Sebagai imbangannya ada tulisan lain yang oleh penulisnya dimaksud untuk diresapi oleh pembaca sehingga bisa memperkaya batin dan perasaannya. Apa yang terjadi bisa fakta, tetapi bisa fakta melainkan rekaan. Ada semacam pesan yang oleh si penulis secara aluriah ingin dismapaikan kepada pembaca. Itulah tulisan fiksi yang lazim disebut juga karya sastra.
Penulis fiksi umumnya mentransformasikan pengalaman batin dirinya kepada pembaca. Sedangkan pembaca yang dihadapinya adalah manusia yang tidak hanya memiliki otak dan pikiran saja, melainkan juga perasaan, nurani, dan bathin. Karenanya membaca fiksi orang bisa terharu, geram, geli, dan bahkan mencucurkan air mata. Hal itu tidak otomatis fiksi mengabaikan logika maupun fakta.
Karena sasaran kedua jenis tulisan itu tidak sama, maka bis dipahami bila latar belakang yang melahirkannya pun berbeda. Faktor bathiniyah pada tulisan non fiksi tidak sekental penulisan fiksi. Ilham atau inspirasi pada penulisan fiksi bisa digolongkan pada bisik hati yang berbau metafisis. Yang terang ilham penulisan sastra sangat personal dan unik. Itulah sebabnya fiksi tidak bisa lahir atas dasar bujukan, perintah orang lain, apalagi dilakukan secara massal.
Karena sastra sebagai perwujudan fiksi selalu bersifat menusiawi. Padahal nilai-nilai kemanusiaan bersifat abadi. Jadi tidak mengherankan bila karya sastra yang berbobot, tidak hanya monumental tetapi juga abadi. Ramayana, Mahabarata, dan karya-karya Yunani kuno yang berumur ribuan tahun masih relevan dengan kehidupan masa kini. Tulisan Shakespeare, Gide, Tolstoy, dan lain-lain, meski sudah ratusan tahun, masih bisa dinikmati oleh pembaca sekarang. Contoh lain yang sederhana terjadi pada contoh karangan saya yang berjudul Tojo. Untuk pertama kalinya cerpen itu dimuat atau disiarkan oleh Harian KOMPAS, 27 September 1977. Dua puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, cerpen itu disiarkan lagi dalam sebuah antologi cerpennya yang diterbitkan oleh Penerbit KOMPAS padahal fakta yang mengilhami cerpen itu sudah lama dilupakan orang. Para pelakunya pun sudah banyak yang meninggal. Harap maklum, kaean peristiwa yang dituturkan dalam cerpen itu terjadi dalam awal Oktober 1945, 60 tahun yang lalu. Karena Tojo dihimpun dalam sebuah buku, bukan mustahil masih terus akan dibaca pada generasi yang akan datang. Mengapa bisa sampai begitu? Karena cerpen itu menyentuh sisi kehidupan yang manusiawi.
Dari sisi saya telah menunjukkan kelebihan karya fiksi dibandingkan non fiksi. Tentu saja jangan diartikan bahwa karya non fiksi lebih rendah mutu maupun manfaatnya dibandingkan fiksi. Sikap paling adil dicontohkan Akademi Swedia dalam memberi Hadiah Nobel kepada orang-orang berprestasi luar biasa. Penghargaan paling bergengsi itu diberikan kepada orang penemu di bidan sains dan teknologi, penggerak perdamaian, dan penulis sastra.
* * *
Pribadi baca dapat diapstikan pernah mengagumi atau terpana oleh kehebatan karya seseorang. Rasa-rasanya tidak mungkin seseorang sampai menjadi “kutu buku” kalau belum pernah jatuh cintah pada sebuah atau bahkan beberapa buah buku. Khusus dalam hal sastra, pembaca yang pernah “kesengsem” oleh sebuah bacaan, biasanya tertantang untuk terampil, minimum mencoba tampil, sebagai penulis. Sebagai orang yang berkepribadian maka pembaca yang tertantang itu biasanya berusaha untuk tidak sepenuhnya di dalam karya sastra yang pernah dikaguminya. Dia pun bisanya berusaha untuk tampil khas.
Pada saat pribadi baca melangkah ke arah pribadi tulis, dapat dipastikan tersandung-sandung aneka kendala. Salah satu kendala itu adalah masalah bahasa. Yang dimaksud bahasa bukanlah semata-mata penguasaan kosakata, atau vocabulary saja, melainkan lebih-lebih ketrampilan “bertutur” secara runtut dan logis. Sebagaimana kita ketahui seorang pembicara berhadapan dengan audiens bisa dibantu oleh gerak tubuh, isyarat, dan bahkan mimik. Sehingga kekuranglengkapan bahasa lisannya tertutup oleh bahasa lainnya. Tidak demikian halnya dengan penulis. Dia harus sepenuhnya bersandar pada kemampuannya berbahasa tulis. Karenanya bahasa tulisnya yang berantakan, tidak kenal aturan dan logika, bisa membuat bingung pembaca. Jadi sebelum mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan seorang pribadi tulis harus lebih dulu menatanya. Kebiasaan menulis buku harian atau catatan sederhana lainnya semacam itu sangat besar manfaatnya bagi tumbuhnya ketrampilan menata pikiran sebelum diwujudkan dalam bentuk tulisan.
* * *
Perkembangan media audiovisual seperti televisi dna sejenisnya yang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat, ternyata punya dampak negatif terhadap pembentukan pribadi baca maupun pribadi tulis. Orang bisa asyik berjam-jam lamanya di depan pesawat televisi tanpa harus memeras orang apalagi tenaga. Tanpa bermaksud mengurangi makna televisi sebagai media komunikasi, saya perlu menyampaikan bahwa buku sebenarnya tidak kalah mengasyikannya dibandingkan media itu. Mengapa? Otak manusia, sebagai otak paling mulia di muka bumi, ternyata tidak hanya mapu memecahkan persoalan, menyimpan memori yang luar biasa serta mengatur metabolisme tubuh saja, tetapi juga memiliki imajinasi dan asosiasi yang tidak ada pada otak binatang.
Informasi yang masuk ke otak kita tentang sesuatu daerah yang belum pernha kita lihat misalnya, langsung saja ditanggapi oleh otak kita dengan “bayangan” atau “gambaran” tentang daerah itu. Bila pada suat saat kita dapat datang ke sana, bisa terjadi “bayangan” dan “gambaran” yang pernah bermain di otak kita jauh berbeda dengan kenyataan yang kita saksikan. Kerna itu ketika kita membaca novel atau cerpen misalnya, maka yang bermain di otak kita bukan hanya kata-kata, pengertian-pengertian saja, melainkan juga imajinasi tentang peristiwa yang kita baca. Tokoh-tokohnya, dari tampang sampai tabiatnya, juga lokasi dan alam sekitarnya semuanya membayang. Manakala sebagai pembaca kita bisa larut di dalam apa yang kita baca, maka yang tergambar dalam imajinasi kita serba memikat, menarik, dan tentu saja mengasyikkan.
Novel-novel yang sukses di pasaran sering dibuat film. Itu artinya sang sutradara berupaya memvisual imajinasinya. Ada yang berhasil, tetapi lebih banyak yang gagal dalam arti sebagai tontonan menjadi lebih jelek daripada sebagai bacaan. Contoh film yang justru menjatuhkan martabat sebuah novel yang bagus adalah film Kafir yang mengadaptasi novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.
Buku berisi karangan orang lain saja bisa menimbulkan keasyikan dan kenikmatan bagi pembaca, apalagi kalau buku itu karangan kita sendiri. Untuk bisa menikmati karangan orang lain diperlukan adanya semacam kecocokan transaksi seperti yang berlaku dalam dunia bisnis. Sebagai contoh beberapa orang pembaca menilai novel saya, Ketika Tembok Runtuh sebagai novel yang jelek. Itu berarti saya telah gagal mentransformasikan pikiran dan emosi saya selama menulis novel itu kepada mereka. Atau “harga jual” saya tidak cocok dengan pendekatan mereak. Sebaliknya pihak penerbit – sebagaimana tercerpennya pada kata pengantarnya – bisa menangkap pas apa saja yang bergejolak dalam bathin saja. Karenanya berani menerbitkannya. Meskipun beresik mengalami kerugian secara materi. Alhamdulillah bisa mengalami cetak ulang.
Bagi diri si penulis terbitnya karangannya adalah ibarat kemenangan dalam sebuah perjuangan. Ya nikmat, ya bangga disertai rasa syukur yang mendalam. Sebab, apa-apa yang semula hanya ada di alam imajinasi bisa terwujud, untuk kemudian semua pengalaman bathinnya ditularkan kepada orang lain bahkan bisa mengarungi arus waktu yang tak terbatas. Alangkah ajaibnya!
*) : Disampaikan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis (Penerbit Wacana Bangsa) karya SN. Ratmana yang diadakan oleh Tegal Post Production 6 Maret 2005 di Pendopo Ki Gede Sebayu, Tegal
22 November 2007
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak
tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai
merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira
nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu
nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah
ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen
merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan
ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang
duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di
kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar
pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya
kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi
tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di
toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita
disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di
stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter
pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi
merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam
lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang
ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap
rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip
berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke
mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99
butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan
kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut
tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan
ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau
tak tahan, Di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15
penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000
zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung
rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di
ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan
cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud
untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
6 November 2007
…dedicated to Christiani……….
Namanya Christiani, gadis Chinese kelahiran 29 April 1989. Cantik, manis, ulet, dan ternyata sangat perhatian.
Mostly perfect…
Tapi Tuhan mengakhiri hidupnya tepat 44 hari setelah sang Ayah dipanggil atau tepat 28 hari sebelum ia merayakan sweet seventeennya…
Hari itu, Sabtu siang, wajah sumringah terlukis di SMAku. Secara, hari itu kami pulang lebih cepat karena hari Senin kami akan menghadapi ujian. Rencananya, aku, Eky dan Ani (begitu kami memanggilnya) hendak mem-fotokopi LKS Kimia teman-teman dari kelas reguler. Tapi…
Seketika, sebuah pesan singkat dikirim oleh adik kelasku. Pesan singkat yang ditujukan padaku itu memintaku untuk membantu mereka penerbitan majalah dinding. Teringat sumpah akan tanggung jawabku sebagai ketua mading, rencana fotokopi ku tunda.
Karena penundaan tersebut, Ani pulang bersama Bayu, kekasihnya saat itu.
15 menit kemudian…
Aku hendak membimbing adik-adikku menempelkan artikel. Di koridor sekitar 2 meter sebelum papan mading, aku bertemu Ani.
"Lho? Ni? Koq masih di sini?" sapaku.
"Iya, aku masih pengen di sini," jawabnya dengan pandangan hampa.
Tak ingin mengganggunya, aku berlalu menuju papan mading. Belum ada lima artikel ku pasang, dua orang siswi kelas sepuluh berbisik. Katanya, ada kawan mereka yang meninggal.
Cuek aku dengan bisik-bisik itu karena aku tak terlalu akrab dengan kelas sepuluh selain kelas immersi dan adik-adik Mading.
Artikel hampir selesai ku pasang. Aku kembali ke ruang mading memastikan tak ada artikel yang tertinggal di sana. Kemudian aku kembali ke papan mading. Kau tahu apa yang ku temukan?
Teman-temanku menangis histeris di depan gerbang SMA.
"Tika, Ani udah nggak ada…." kata mereka tersedu.
Percaya? Tentu saja tidak. Spontan ku hubungi HPnya. Nada sambung Kenangan Terindah dari Samsons terdengar. Sepintas aku teringat ceritanya tentang nada sambung pemberian Bayu.
"Halo?" seorang wanita yang ternyata perawat rumah sakit menjawab teleponku. Ia katakan bahwa empunya HP sedang di rumah sakit dan belum ada yang menjenguknya. Ketika ku tanya keadaannya, sang perawat menjawab,
"Sudah almarhumah, Mbak.."
Kau tau yang terjadi???
Ani pulang dengan Bayu. Di daerah Kajen yang jalannya memnyempit, Bayu mendahului sebuah truk. Tanpa Bayu sadari, Ani terjatuh dari motornya ketika mereka melintas di atas aspal labil yang berupa cekungan. Tak jauh dari tempat Ani jatuh, orang-orang meneriakki Bayu.
"Koq mereka neriakin kita, Ni?" tanya Bayu. Barulah ia sadari, pacar pertamanya tak lagi di sisi. Ia berbalik arah, kembali ke jalan semula. Terkejutlah ia tatkala menemukan raga kekasihnya ditutup daun pisang dengan darah segar di sekitarnya. Kepalanya hancur tak berbentuk (maaf) karena terlindas ban truk.
Kini Ani bersemayam di balik bongpay tak jauh dari rumahku. Mau tak mau, aku melewatinya setiap hari. Mau tak mau, senyumnya masih berbekas di ingatanku…
21 July 2007
Akhirnya, jadi juga gw di ITS. Masih pre engineering sih, tapi seenggaknya administratively, gw dah pegang KTM. Tapi sementara dink!
He he he… Lepas dari gosip miring yang banyak dibicarakan orang tentang ITS dan lingkungannya, gw merasa hommy di sini. Secara, gw tinggal di asrama dengan sejuta kisah. Temen gw lebih banyak dari anak kos umumnya en dari fakultas, jurusan, plus ras yang nggak sama.
This is my new life, at ITS Dormitories. I’ll start my new story about independence here.
Baru seminggu gw di ITS Dormitory, tapi cerita yang gw simpen udah nggak sedikit. Mulai dari jemuran yang nyebur di comberan, kamar mandi antik andalan gw, sampe fenomena nyuci bersama tiap weekend.
Di sini gw selalu belajar en mencoba untuk berbaur dengan semua penghuni asrama. Tapi yang ukhti… Blok gw didominasi nak-nak dari Depag. Jadi, mereka dapet beasiswa dari Depag untuk masuk ITS. Tapi sebelumnya mereka musti ikut matrikulasi en beberapa tes dulu. Kalo lulus tes, baru deh mereka bisa kuliah dengan beasiswa dari Depag. Kalo nggak lulus tes, mereka boleh mengulang matrikulasi selama maksimal satu tahun. Nah, kalo satu tahun matrikulasi masih belum lulus tes, mereka akan dipulangkan kembali ke kampung halaman. Na udzubillah…. That’s why, temen-temen dari Depag tu rajin-rajin banget. Pulang matrikulasi, ishoma, de el el. Malemnya, mereka belajar sama senior di aula belajar. Kadang mereka belajar sampe jam setengah sebelas malem lho. Ntar, setengah dua belasnya mereka rame-rame sholat tahajud. Wah, salut deh.
Gw juga seasrama ma nak-nak PMDK Kemitraan, Mandiri, en Reguler. Mereka sedikit lebih santai. Tapi bukan berarti mereka nggak pernah belajar lho. Kalo anak Depag belajar di aula bareng kakak kelas, temen-temen PMDK itu lebih seneng belajar bareng di kamar siapa, gitu. Mereka lebih fun en kelihatan bener-bener menikmati hidup. Mereka sempet seneng-seneng, tapi tetep belajar giat, nggak melulu di kamar. Kalo bosen, mereka juga nggak sombong sama TV di lantai 2.
Gw? Nggak ngikut keduanya. Gw punya dunia dengan cara dan kebiasaan gw sendiri. Gw tiap hari nyuci. Sendiri, nggak di laundry kayak anak PMDK. Tiap hari, nggak seminggu sekali kayak anak Depag. Gw belajar sendiri di kamar sambil dengerin Prambors atau Hard Rock. Kalo bosen di kamar, gw serbu tuh nak-nak lantai 2 yang seru en gokil.
Keberadaan gw sekarang di warnet ini juga karena gw bosen en sakaw. Gw bosen, en akhirnya gw pinjem sepeda Elly wat ke warnet. Ini pertama kalinya gw puter-puter ke Keputih tanpa Bapak. Dan di kali pertama ini, gw puter-puter sendirian bermodal bismillah.
11 June 2007
11:08 11/05/2007
Aku seperti bukan aku
Degupku seperti deru kuda mata merah
Tak ingin ada yang tegak berdiri di depan kornea
Aku seperti bukan aku
Mata merah ini ingin hancurkan segala
Tangan seperti hendak melumat dunia
Ini bukan aku….