10 October 2008

Oleh-Oleh Mudik yang Nyata

Sebagaimana sudah menjadi tradisi umat Muslim di Indonesia, beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri datang, saya pulang ke daerah asal saya di Kabupaten Tegal. Artinya, saya sempat menghabiskan hari-hari terakhir bulan Ramadhan di sana.emoticon

Ada yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun ini. Ibu mengajak saya ke suatu perkampungan di belakang pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di sana ada suatu daerah dinamakan Legok yang berarti cekungan. Ya, daerah tersebut merupakan cekungan yang seharusnya menjadi jalan mengalirnya air kali, namun malah dibangun gubug-gubug kecil untuk ditinggali beberapa keluarga. Keluarga yang tinggal di sana bukan keluarga biasa. Anak-anak mereka sudah pandai bekerja : mengemis di pusat perbelanjaanemoticon. Ayah-ibu bekerja sebagai pecinta lingkungan yang peduli akan kebersihan kota : pemulung.emoticon

Sudah beberapa bulan, Ibu saya dan teman-teman pengajiannya mengajar ngaji di sana dengan perlengkapan ala kadarnya. Para orangtua menyambut dengan antusias. Saya masih ingat awal perjumpaan kami dulu. Ketika itu, saya, Ibu dan teman-temanya (terkadang ikut pula sukarelawan) datang, beberapa ibu langsung menggelar tikar. Ibu-ibu yang lain ngoprak-oprak anak-anaknya untuk segera ganti baju, menutup aurat, dan bergabung bersama kami sambil berdiri menyusui (entah anak yang ke berapa). Jangan bayangkan mereka mengenakan baju muslim rapi dan indah seperti yang biasa dikenakan saat hendak mengikuti pengajian. Mereka mengenakan kaos sponsor dari parpol atau promo warung makan yang kebesaran sehingga cukup menutup tangan mereka. Yang perempuan juga mengenakan jilbab lusuh dan kekecilan. Mungkin itu jilbab turun-temurun dari kakaknya yang dia pake sejak kecil sampai sekarang.emoticon

<img src=’/images/legok1.JPG’ alt=’Anak-anak Legok’ />

Ada pula bapak-bapak yang marah-marahemoticon karena anaknya malu bergabung dengan kami. Dia menegur anaknya hingga si anak mau bergabung masih dengan rasa malu dan mungkin sedikit terpaksa.

Tak lama, kami sudah bisa melangsungkan kegiatan belajar. Suasananya ramai, tapi semarakemoticon. Para orang tua dari anak-anak tersebut duduk mengelilingi kami mengawasi anak mereka kalau-kalau berulah atau membuat kegaduhan. Lucu memang, tapi itulah semangat mereka. Walaupun beralas tikar beratap rimbunnya rumpun bambu, tapi semangat mereka (Subhanallah) luar biasa.emoticon

<img src=’/images/Legok2.JPG’ alt='’ />

Saat hari-hari terakhir Ramadhan kemarin, kami mengadakan buka puasa bersama dengan mereka. Suguhannya sangat sederhana, minuman ta’jil, nasi bungkus, dan salah satu buah yang biasa menjadi hidangan berbuka puasa. Kami sedikit khawatir mereka kurang antusias karena menu tersebut.

Ternyata yang terjadi sebaliknyaemoticon.

Buah yang kami suguhkan hanya mereka pandangi. Salah seorang dari mereka memberanikan diri mengambil satu buah, lalu bertanya pada Ibu, "Bu Guru, ini apa?"emoticon. Teman-temannya menoleh ke arah anak itu seperti memiliki pertanyaan yang sama. Seorang yang lain menyahut, "Itu jajanan yang biasanya dijual kalo puasa itu lho.. Kayak manisan cermai tapi warnanya coklat."

Ibu dan saya saling berpandangan. Sulit dipercaya, buah yang hampir setiap hari kami makan untuk berbuka, belum mereka kenal.

Kemudian seorang anak lain mengambil satu buah di piring seraya berkata,"Halah… Dimakan saja, gratis ini!" lalu memakan kurma itu dengan lahap. Anak-anak lain mengikuti.emoticon

Komentar tentang buah tersebut mulai bermunculan, macam-macam sekali. Mulai dari rasanya yang manis, kulitnya yang keriput, bijinya yang tidak bulat,…

Kami terharu dengan suasana saat itu. Begitu aneh, asing, tapi nyata kami alami sendiri. Di tengah keharuan tersebut, salah seorang di antara kami mengalihkan perhatian anak-anak tersebut dari buah tadi.

"Ini namanya buah kurma, di sini memang tidak ada pohonnya. Yang ada di daerah arab sana. Berbuka puasa dengan kurma merupakan sunnah Rasul, apalagi dimakan dalam jumlah ganjil, tiga atau lima." jelas teman Ibuemoticon.

"Bu Guru, saya kan tadi baru makan enam, berarti nambah satu lagi boleh ya Bu? Kan biar ganjil.." sahut seorang anak.

Teman Ibu tersenyum mengangguk dan berkata, "Iya, tapi jangan banyak-banyak ya.. Nanti kekenyangan, nggak kuat makan ta’jil lho…" lalu si anak tadi kembali mengambil kurma dengan girang.

Yang menggelitik di sini, apakah selama ini kita begitu acuh dengan orang-orang di sekitar kita? Begitu nikmatnya kita berbuka dengan buah kurma hingga kita lupa sudahkah mereka menikmati berbuka seperti kita? Ketika kita mentradisikan Idul Fitri dengan mudik dan baju baru, berlakukah tradisi itu bagi mereka??emoticon

20 September 2008

Ingin Cum laude Harus Smart

Judul ini saya ambil dari judul bukunya Fani Kartikasari, S.T terbitan PT Elex Media Komputindo tahun 2008. Buku setebal 123 halaman ini dihargai Rp 34.800 di Toko Buku Gramedia. Tampilan dalamnya cukup menarik, tidak membosankan. Content-nya cukup simple dan tidak bertele-tele emoticon. Sebenarnya tips yang diberikan tergolong ringan dan merupakan sesuatu yang jelas sudah kita ketahui, tapi memang sulit diamalkan. Nah, kalo belum sempat beli bukunya, saya beri bocoran dikit deh…emoticon

Di Bab 3, Fani membahas tentang  5 Prinsip Smart utk mencapai Cum Laude, yaitu emoticon:

  1. Be positive thinking
  2. Strong motivation
  3. Ready to change
  4. Disiplin, komitmen, dan konsisten
  5. Do our best, and let God do the rest.

Kemudian pada Bab 4 ada Tip dan Trik di kelas emoticon:

  1. Pilih bangku depan
  2. Siap materi sebelum kuliah
  3. Siap fisik
  4. Buku pegangan sendiri
  5. Aktif di kelas
  6. NO titip absen
  7. Catatan sendiri
  8. Dekati dosen

Nggak cuma di kelas, di rumah pun ada tip dan triknya lho…emoticon

  1. Pintar-pintar bagi waktu
  2. Pilih waktu, tempat, dan suasana paling sreg
  3. Menghafal dengan warna / suara / inisial / gambar
  4. Banyak latihan soal
  5. Buat ringkasan
  6. Jangan menunda

Nah lho, lengkap kan? Tip di kelas sudah, di rumah sudah. Nah..tinggal menanti masa ujian neh.. Tapi ujian pun ternyata ada tip dan triknya juga!emoticon

  • NO SKS (Sistem Kebut Semalam)
  • Cari tahu siapa pembuat soal dan buku pegangannya
  • Cari soal-soal tahun kemarin dari senior
  • Prekdisikan soal yang akan keluar
  • Siap fisik, siap mental
  • Jangan stres ketika melihat soal
  • Pastikan jam dan tempat ujian
  • Tulisan dan cara menjawab

Sebenernya masih ada lagi sih, Gaul Asyik ala Cum Laude, Tip dan Trik Membuat Skripsi sampe ke sidangnya. Tapi kalo ta tulis di sini juga, kasihan Mbak Fani, royalty-nya berkurang karena pada milih baca blog saya daripada bukunya Mbak Fani. Hehehe… Oya, FYI, Mbak Fani ini lulusan Teknik Industri Trisakti yang lulus dengan IPK 3,92 dalam waktu 3,5 tahun emoticon. Bisa enggak ya kita mengikuti jejaknya di jurusan Statistika ITS?emoticon

Semestinya, saya nggak boleh menuliskan ringkasan saya dan mem-publish-nya, nanti banyak saingan sarjana cum laude. Tapi nggak pa pa deh, ilmu kan untuk dibagi, bukan disimpan sendiri. Setuju?

Buat Mbak-Mas yang sudah mengalami cum laude, mohon bimbingan dan koreksinya juga ya, apakah tips dan triknya Mbak Fani ini sesuai dengan apa yang Anda terapkan..??emoticon Buat yang belum Cum laude, bareng-bareng usaha yuk! Aku juga belum cum laude koq…emoticon

28 August 2008

One day

Semua ini memang bukan kehendakku. Kecewa itu memang terlanjur menyayatku. Tapi di hatiku kau masih sama seperti yang dulu, walau tidak bagi mereka. Aku tak peduli apa kata mereka, bagaimana mereka menilaimu bahkan memandangmu sinis penuh tanya.

Aku pun mungkin bukan yang dulu lagi. Mungkin, hingga kau pun bungkam. Tapi aku siap bungkam ketika kau ingin memuntahkan duniamu, gelapmu sekalipun, karena aku pun punya hitam itu.

Kau sahabatku, kau perempuanku. Kau masih punya harta, dan jangan pernah berikan itu pada siapapun.

Suatu hari kau akan tahu, bagaimana rasanya bila apa yang terjadi dan kau alami sekarang terjadi pada adik atau anak perempuanmu. Kemudian kau melihat semua itu, dan hancurlah rasa itu…

Kau Tak Harus Kembali

Waktu memang tak akan kembali

Matahari pun tak akan berbalik arah ke arah terbitnya

Ku tahu kau pun begitu.

Aku tak berharap kau kembali

seperti dirimu yang dulu pernah ku tahu

(atau hanya kau yang berlalu)

Aku hanya ingin kau tahu

kau tak pernah sendiri

sejuta mata mengamatimu

memandangmu dengan pesonamu.

Sejuta pasang tangan mencoba menggapaimu

merengkuhmu dari tepian kecewa.

Tapi,

hidup itu pilihan

pun dengan hidupmu.

Apapun pilihan itu,

aku dan mereka yang kau kira meninggalkanmu

selalu menjagamu dan mencoba menghangatkan kebekuan hatimu…

Untukmu yang ku tau tak kan kembali…

3 April 2008

Beasiswa Bukan Rejeki Nomplok

Saya menulis artikel ini sebagai satu dari sekian banyak mahasiswa yang menerima beasiswa, khususnya Beasiswa Unggulan dari Departemen Pendidikan. Tenang saja, saya hanya satu dari 10 penerima di ITS atau 2200 penerima di Indonesia dengan jenjang S1 koq.emoticon

Mendapatkan beasiswa bukanlah hal yang sulitemoticon. Asal ada niat dengan ekstra kesungguhan dan setetes keberuntungan, insya Allah beasiswa bisa didapat. Beasiswa Unggulan, misalnya. Beasiswa Unggulan adalah salah satu jenis beasiswa yang disediakan Departemen Pendidikan untuk mahasiswa dalam dan luar negeri. Kalau yang dalam negeri biasa disebut Beasiswa Unggulan Reguler. Beasiswa ini bisa Anda lirik bahkan Anda comot langsung di http://www.beasiswaunggulan.diknas.go.id. Dari flyer yang saya baca, sasaran penerima Beasiswa Unggulan antara lain:
1. Lulusan terbaik SMA/MA/SMK/Ponpes/PT yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/Kabupaten/Kota), masyarakat (LSM), dan industri.
2. Lulusan cum-laude dari Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi/Akademi
3. Pemenang Lomba IPTEK/Lomba Karya Ilmiah Remaja/MIPA Tingkat Nasional
4. Pemenang Lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional
5. Pemenang Olimpiade Sains/Teknologi Tingkat Nasional
6. Pemenang Lomba Bidang Olahraga Tingkat Nasional
7. Pemenang Lomba Bidang Seni Tingkat Nasional
8. Pemenang Lomba Bidang Bahasa Tingkat Nasional
9. Para Aktivis Mahasiswa (Pengurus; UKM, BEM, Senat, HMI)
10. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit-unit utama serta jajarannya.emoticon

Dilihat dari sasarannya, beasiswa tersebut memang bukan beasiswa biasa, tapi bukan berarti orang biasa tidak bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada lembaga atau instansi pemberi beasiswa yang mau memberikan beasiswa secara cuma-cuma. Maksud saya, mereka (baca: pemberi beasiswa) pasti selektif dalam memilih penerima beasiswa. Bukan hanya kualitas saja yang mereka perhatikan, tapi juga timbal balik yang bisa mereka dapatkan. Timbal balik di sini bisa berupa pengabdian atau prestasi yang tidak biasa. Sekali lagi saya misalkan pada Beasiswa Unggulan.

"Program beasiswa dalam skala nasional (Beasiswa Unggulan Reguler) dan internasional (Beasiswa Atdikbud RI di luar negeri) yang dikembangkan dalam rangka menyiapkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif sesuai dengan visi pendidikan nasional. Dengan adanya program beasiswa unggulan, diharapkan di akhir program akan muncul critical mass dan bangsa Indonesia yang berdaya saing tinggi di masa yang akan datang," begitu kata flyer-nya.emoticon

Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang nggak doyan beasiswa? Hampir semua mahasiswa apalagi kelas menengah bawah pasti tidak akan menolak beasiswa yang diberikan pada mereka. Bayangkan saja, biaya pendidikan (seperti SPP) sudah tertangani. Biaya hidup juga tersedia dalam jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi uang buku (untuk beli buku kuliah, bukan Komik Detective Conan!) yang juga rutin diberikan. Pokoke makmur!emoticon

Sayangnya yang sering kali terlupakan oleh pelamar juga penerima adalah amanat yang terkandung dalam setiap rupiahnya. Beasiswa bukan rejeki nomplok. Mendapatkan beasiswa bukan berarti kita bisa beli baju Dolce Gabanna, Mango, atau Zara, padahal sebelumnya cukup made in Pasar Blauran. Mendapatkan beasiswa bukan berarti jajanan kita De Espresso (tulisane bener gak yo?), Gelato, Starbucks Coffee, padahal biasanya cukup kacang goreng plus kopi asli warkop lokal. Perbaikan gizi sih boleh saja, tidak dilarang koqemoticon. Tapi mbok ya yang wajar…

Memang benar, beasiswa tidak selalu diberikan pada mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi pun berhak. Bahkan ada juga beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang aktif di organisasi. Apapun jenis beasiswa, berapa pun besarnya, dan siapa pun sasarannya, beasiswa mengandung amanat. Jangan sampai penerima beasiswa ‘mengecewakan’ pemberi beasiswa. Kebayang donk, betapa malunya Anda ketika sudah mendapatkan beasiswa kemudian tiba-tiba dipanggil Pembantu Rektor I karena prestasi Anda yang nol besar…

Jadi, saya sarankan bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, pastikan dahulu bahwa Anda akan mampu mengemban amanat yang dibebankan. Setelah itu baru penuhi syaratnya.

Tenang saja, ada banyak provider beasiswa koq. So far, yang saya tahu dari Majalah Tempo minggu ini (31 Maret-6 April 2008):emoticon
a. Asian Development Bank-Japan Foundation (adb.org)
 tujuan AS, Asia, Australia, waktu aplikasi Januari-Desember
b. ADS (adsjakarta.org)
 tujuan Australia, syarat IELTS 5 atau TOEFL 500, waktu aplikasi 5 September
c. Chevening (chevening.or.id)
 tujuan Inggris Raya (Great Britain), syarat IELTS 6,5, waktu aplikasi 1 September-16 Nobvember
d. Neso (nesoindonesia.or.id)
 tujuan Belanda, syarat IELTS 6 atau TOEFL 550, waktu aplikasi Desember-Maret
e. Sampoerna Foundation (sampoernafoundation.org)
 tujuan AS, Inggris, Australia, Prancis, Singapura, syarat TOEFL 600, waktu aplikasi 30 Mei
f. Departemen Pendidikan (beasiswaunggulan.diknas.go.id)
 tujuan dalam dan luar negeri
g. Aminef (aminef.or.id)
 tujuan AS, syarat TOEFL 550, waktu aplikasi 31 Mei
h. Komisi Eropa (mundus-urbanu.eu)
 tujuan Eropa, waktu aplikasi Juni-Januari
i. ASEAN Foundation (aseanfoundation.org)
 tujuan Thailand, waktu aplikasi 31 Maret
j. Nanyang University (ntu.edu.sg)
 tujuan singapura, waktu aplikasi Desember.

Selamat mencoba!emoticon

26 February 2008

The Real Mr.Gadget (my thanks for Baim)

20:25 20/02/2008emoticon

Sebelum mengerjakan tugas Praktikum Statistika, saya ingin berbagi satu pelajaran berharga yang saya dapat hari ini tentang ‘Mr/s.Gadget’.emoticon

Sejak SD (ketika disk masih segedhe muka dan CPU masih tertindas di kaki monitor CRT)emoticon, saya sudah dikenalkan dengan dunia gadget, baik dalam komputer dan HP, oleh Ibu. Kalau tidak salah, HP Ibu saat itu Nokia 3310 atau berapa itu yang layar warna (dua warna thok maksude) dan baru ada yang namanya eS eM eS. Saya masih ingat betul nomornya, 08122967004 (coba aja miskol, lha wong udah bangkotan. He he he…)emoticon. Emang bawaan lahir, saya sering usil dengan setiap gadget yang saya pegangemoticon. Bahkan pernah HP Ibu itu saya ubah setting bahasanya ke Bahasa Mandarin. Mungkin kedengarannya biasa saja mengubah setting bahasanya, tapi itu kali pertama saya tahu HP, sehingga wajar saja kalau saya sempat berkeringat dingin gara-gara tidak bisa mengembalikan setting bahasa seperti semula.

Di SMP saya semakin akrab dengan dunia gadget. Bedanya, yang saya geluti saat itu lebih primitif, yaitu mesin ketik segedhe mejaemoticon. Saat pelajaran Mengetik, sering jari kelingking saya keseleo karena tutsnya yang ‘tidak manusiawi’ atau lecet karena tuts yang lepas meninggalkan besi tipisemoticon. Yah, tapi pengorbanan saya terbayar lumayan karena setelah beberapa kali ujian kecepatan mengetik sepuluh jari, saya selalu bisa jadi yang tercepat dengan prosentase missed type terkecil.

Masuk SMA, saya kembali ke komputer, bukan mesin ketik, dan saya pun mulai ‘pegang’ HP sendiri. Waktu itu HP saya Samsung layar warna (dua warna juga: biru hitam) dan masih berantenaemoticon. Awal masuk SMA, guru TIK saya lumayan kejam kalau bikin soal. Bayangkan saja, buku bilang materinya Operating System, tapi yang keluar di ujian: Terbuat dari apakah floppy disk? Benar-benar menuntut pengetahuan umum. Sempat shock juga ketika melihat raport muncul angka 98 sedang teman-teman riang gembira dengan nilai 70. Di SMA juga sedikit primitif karena belum ada lab komputer, saat itu. Secara tertulis memang ada, persis di samping kelas saya. Tapi bagi kami, ruangan itu adalah Gudang Hardware, bukan lab komputer karena semuanya serba merakit sendiri dengan hardware seadanya. Hardware-hardware itu kami dapat dari berbagai penjuru, bahkan limbah Korea pun kami gunakan. Jadi ya wajar saja kalau semua komputer di ruangan itu keyboard-nya pakai huruf Korea. Namanya saja Gudang Hardware, komputer-komputernya pun mayoritas ‘telanjang’emoticon, tidak ber-casing, karena setiap kali ada eror langsung bongkar pasang. Saya masih ingat betul, ketika saya dan beberapa teman-teman TOKI (semuanya laki-laki kecuali saya) diminta membuat perintah coding dalam pascal. Satu per satu di antara mereka berguguran meninggalkan Gudang Hardware hingga yang tersisa tinggal saya, Tazul, dan Gigih. Karena tidak kalah bosan dengan teman-teman yang sudah gugur, kami membuat perintah untuk menghapus semua tampilan termasuk start menu. Selanjutnya? Komputer diperkosa lalu kami ganti hardisknya dengan hardisk administrator sebab kami lupa kode perintah mengembalikan start menu seperti semula.emoticon

Sekarang sih enak, sudah ada lab komputer di depan kelas saya itu dengan AC dari sana-sini, berkarpet, mulai dari CPU sampai monitor bisa dibilang sudah canggih, apalagi setelah dilengkapi hotspot.emoticon

Tapi bukan canggih atau tidaknya suatu gadget yang ingin saya sampaikan di siniemoticon, melainkan tentang keangkuhan yang sering kali muncul ketika kita merasa begitu merajai gadgetemoticon. Biasanya penyakit ini menyerang ‘penduduk’ usia remaja hingga dewasaemoticon. Mereka ‘iseng-iseng’ menghapus data, membuat atau menyebarkan virus, menjadi hacker, semua dalam rangka ‘iseng-iseng’. Saat orang lain panas dingin kelimpungan gara-gara ulah kita, pasti ada suara ketawa cekikikan di belakang (suara kita tuh!) karena merasa menang. Saya akui, saya juga mengalami fase tersebut dan masih berpikiran bahwa saya hebat, I am a Ms.Gadgetemoticon, ketika saya berhasil merusak suatu sistem atau jaringan yang begitu sempurna dengan satu klik.

Pemikiran itu baru saya sadari hari ini.emoticon emoticon

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, ada dua teman yang menjadi obyek cerita saya kali ini yaitu si Ali dan si Banu. Banu, laki-laki asal Jakarte ini sekilas sangat biasa. Pakaian casual, badan juga terbilang kurus, tidak ada stiker NOS di sepeda motor, amat sangat biasaemoticon. Saat dia mengerjakan Praktikum Statistika di aula asrama, ia letakkan HPnya di meja lalu menyalakan laptopnya yang juga sangat biasa, masih AMD. Wow! Dopodemoticon! Seorang biasa serupa Banu tidak pernah memunculkan handphone Dopodnya. Kerennya, dia mau meminjamkan Dopodnya pada saya untuk FSan. He he he, biasa, orang Asia Tenggara, bandwith-nya cuma buat friendster. Banu juga mengajari saya cara menggunakan Dopod dengan model slider sekaligus touch screen itu. Saya benar-benar merasa jadi wong ndeso, dan saya tidak pernah merasa sendeso iniemoticon.

Beda lagi dengan Ali. Pakaian selalu necis, gaya top abiz, sering keliatan nyetir mobil orang, jauh berbeda dari Banuemoticon. Lepas dari kenyataan bahwa Ali seorang perokok atau tidak (I hate smoker so much!), sekilas orang pasti menilai Ali lebih keren dari Banu. Apalagi dengan keberaniannya mengeluarkan kata-kata kasar, semakin sempurnalah ke-keren-annyaemoticon.

Sore tadi, dengan terpaksa karena tugas PrakStat, saya harus membawa notebook saya ke kampus. Saya buka di salah satu taman di sana. Ali langsung mengambil alih notebook saya (bahkan saya tidak diijinkan melihat apa yang dia lakukan terhadap laptop saya) membuka suatu jendela yang menampilkan detil notebook iniemoticon.

"Ya ampun…masih 250an? Lelet banget nih?! Ya ampun…Vista? Ini kan produk gagalnya Windows?!…" dan ‘ya ampun ya ampun’ lainnya. Ali masih berkutat dengan flashdisk yang disuntikkan ke notebook saya sembari bercerita tentang BF yang disimpan di flasdisknya, sistem-sistem keren yang dia tau, dan sebagainya dan lain-lain.

Kemudian setelah selesai urusan dengan Ali, notebook kembali di bawah kontrol saya. Banu datang.

"Tik, gue ngopi file dari Ali tadi dunkz," kata Banuemoticon.

Setelah saya persilahkan, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dibungkus kulit dengan tiga port USB. Wow! External Hardiskemoticon! Banu juga tidak pernah cerita atau komentar tentang itu, tiba-tiba saja keluar External Hardisk sekeren Seagate.

"Nu! Seagatenya Free Agent, neh?" tanya saya setengah percaya. Dengan mata yang masih terkonsentrasi di layar monitor dia hanya mengiyakan pelan.

"Wuih, keren! Eh, sekalian dunkz, notebookku belum ada antivirusnya. So, minta antivirusnya dunkz, Nu…"

No talk but action, dia copykan antivirus di notebook saya.

"Tapi sorry nih, aku lupa expirednya kapan. Coba install ulang aja,"emoticon

Ow eM Gee. Cool banget, makhluk yang satu iniemoticon. Dia tidak pernah mengomentari gadget saya yang tertinggal jauh, tapi dia mau membantu saya beberapa langkah lebih maju.

Salut untuk Banu. Saya merasa wajib mengambil 6 SKS di mata kuliahnya, andai ia seorang dosen dan membuka kelas ‘Be Low Profile as Mr/s.Gadget’ yang menjelaskan bahwa Mr/s.Gadget yang mau browsing di selasar rektorat, tekun belajar otodidak, dan tetep low profile jauh lebih keren daripada Mr/s.Gadget yang sibuk komentar sana-sini sementara ia tidak membantu memecahkan masalah.  Banu, ingatkan saya, saya berhutang banyak kepada kamu.

3 December 2007

Have you ever think… (kutipan diary 21 November)

Betapa egoisnya gue, di usia yang nggak lagi bisa dibilang Balita ini, masih banyak yang belum sempat masuk ke tempurung kepala gue. Banyak hal yang belum sempat menjadi bahan pemikiran gue, termasuk tekad gue untuk being same.emoticon

Saat ini gue bisa bilang bullsheet pada popularitas. Gue benci popularitas. Semasa SD, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai anak baru yang juara geguritan. Di SMP, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai Waka OSIS. Di SMA, gue benci orang yang mengenal nama gue sebagai anak immersi atau Ketua Mading. Di kampus, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai juara Olimpiade Statistika apalagi sebagai orang yang dekat dengan Mas ABCD (sensor!).emoticon

Have you ever think….

Ketika elo lagi makan dengan nikmat di kantin, orang yang duduk di meja samping ngomongin elo. "Ya ampun, yang namanya Tika itu lho, koq TePe banget sih?! Bla… bla… bla… Emang yang namanya Tika siapa sih?"

Have you ever think…

Ketika elo asyik diskusi dengan seorang senior, di mana lo sedang berusaha menjadikannya seorang Kakak (lebih dari sekedar senioritas), tercetus kalimat, "O…kamu Tika yang juara Olstat itu ya?"

Sepintas, punya nama beken emang seru. Tapi jadi nggak seru ketika mereka hanya tahu nama, nggak ngerti siapa empunya nama beserta embel-embel nggak jelas itu.

Sepintas, diperhatikan orang banyak memang asyik. Tapi jadi nggak asyik ketika setiap tindakan elo yang sifatnya ‘Suka-suka gue’ dikomentari dengan awalan, "Masa’ juara Olstat bla…bla…bla…"

Hey! So what? Ini gue, manusia semanusianya, bukan manusia setengah dewa, eh, dewi. Gue nggak bisa sempurna, bung!

22 November 2007

Tuhan Sembilan Senti (by Taufik Ismail)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak
tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai
merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira
nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu
nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah
ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen
merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan
ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang
duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di
kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar
pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya
kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi
tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di
toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita
disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di
stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter
pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi
merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam
lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang
ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap
rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip
berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke
mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99
butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan
kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut
tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan
ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau
tak tahan, Di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15
penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000
zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung
rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di
ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan
cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud
untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

21 July 2007

My New Life at ITS Dormitories

Akhirnya, jadi juga gw di ITS. Masih pre engineering sih, tapi seenggaknya administratively, gw dah pegang KTM. Tapi sementara dink!

He he he… Lepas dari gosip miring yang banyak dibicarakan orang tentang ITS dan lingkungannya, gw merasa hommy di sini. Secara, gw tinggal di asrama dengan sejuta kisah. Temen gw lebih banyak dari anak kos umumnya en dari fakultas, jurusan, plus ras yang nggak sama.

This is my new life, at ITS Dormitories. I’ll start my new story about independence here.

Baru seminggu gw di ITS Dormitory, tapi cerita yang gw simpen udah nggak sedikit. Mulai dari jemuran yang nyebur di comberan, kamar mandi antik andalan gw, sampe fenomena nyuci bersama tiap weekend.

Di sini gw selalu belajar en mencoba untuk berbaur dengan semua penghuni asrama. Tapi yang ukhti… Blok gw didominasi nak-nak dari Depag. Jadi, mereka dapet beasiswa dari Depag untuk masuk ITS. Tapi sebelumnya mereka musti ikut matrikulasi en beberapa tes dulu. Kalo lulus tes, baru deh mereka bisa kuliah dengan beasiswa dari Depag. Kalo nggak lulus tes, mereka boleh mengulang matrikulasi selama maksimal satu tahun. Nah, kalo satu tahun matrikulasi masih belum lulus tes, mereka akan dipulangkan kembali ke kampung halaman. Na udzubillah…. That’s why, temen-temen dari Depag tu rajin-rajin banget. Pulang matrikulasi, ishoma, de el el. Malemnya, mereka belajar sama senior di aula belajar. Kadang mereka belajar sampe jam setengah sebelas malem lho. Ntar, setengah dua belasnya mereka rame-rame sholat tahajud. Wah, salut deh.

Gw juga seasrama ma nak-nak PMDK Kemitraan, Mandiri, en Reguler. Mereka sedikit lebih santai. Tapi bukan berarti mereka nggak pernah belajar lho. Kalo anak Depag belajar di aula bareng kakak kelas, temen-temen PMDK itu lebih seneng belajar bareng di kamar siapa, gitu. Mereka lebih fun en kelihatan bener-bener menikmati hidup. Mereka sempet seneng-seneng, tapi tetep belajar giat, nggak melulu di kamar. Kalo bosen, mereka juga nggak sombong sama TV di lantai 2.

Gw? Nggak ngikut keduanya. Gw punya dunia dengan cara dan kebiasaan gw sendiri. Gw tiap hari nyuci. Sendiri, nggak di laundry kayak anak PMDK. Tiap hari, nggak seminggu sekali kayak anak Depag. Gw belajar sendiri di kamar sambil dengerin Prambors atau Hard Rock. Kalo bosen di kamar, gw serbu tuh nak-nak lantai 2 yang seru en gokil.

Keberadaan gw sekarang di warnet ini juga karena gw bosen en sakaw. Gw bosen, en akhirnya gw pinjem sepeda Elly wat ke warnet. Ini pertama kalinya gw puter-puter ke Keputih tanpa Bapak. Dan di kali pertama ini, gw puter-puter sendirian bermodal bismillah. 

11 June 2007

Puisi sendiri…

11:08 11/05/2007
Aku seperti bukan aku
Degupku seperti deru kuda mata merah
Tak ingin ada yang tegak berdiri di depan kornea

Aku seperti bukan aku
Mata merah ini ingin hancurkan segala
Tangan seperti hendak melumat dunia

Ini bukan aku….