Manusia ditakdirkan terlahir sebagai makhluk sosial, membutuhkan
dan dibutuhkan orang lain
. Begitu juga takdir saya, membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Saya membutuhkan orang lain untuk sekedar berdiskusi tentang gairah berideologi, berbagi kesan melintasi God’s traffic,… Orang lain pun membutuhkan saya untuk berbagi cerita sampai benerin komputer
.
Bicara tentang berbagi cerita atau yang lebih dikenal dengan istilah curhat, sebetulnya saya masih terheran-heran kenapa mereka (oknum-oknum bermasalah) mempercayakan saya sebagai sasaran curhat. Mungkin gaya bicara saya memang sering kali seperti sedang menasehati (padahal menggurui) sampai-sampai saya mendapat gelar Mbah dari teman-teman
. Padahal jawaban yang saya berikan pada mereka pada umumnya sama, "Urip ki sakjane gampang. Dhasar menungsone dhewe sing nggawe angel."
Ya, hidup itu mudah, kita sendiri yang membuatnya rumit. Kenapa? Karena sering di antara kita berani menjatuhkan pilihan tanpa mau menganggung resiko dan konsekuensinya. Setiap pilihan selalu diikuti dengan konsekuensi. Ketika kita memilih untuk banyak makan, maka konsekuensi yang harus dihadapi adalah kekenyangan bahkan kegemukan. Ketika kita memilih tidur di siang hari, maka konsekuensinya adalah tidak merasakan hangat atau terik matahari siang itu.
Begitulah keakraban yang terjalin antara pilihan dan konsekuensi, hingga mereka tak mungkin terpisahkan. Dua sekawan itu akan terus mengikuti kita hingga tiba pilihan pada sebuah akhir yang disebut ajal.
Seorang teman rajin mengirim pesan singkat atau telpon tiap malam untuk menceritakan kesendiriannya. Tak bosan ia meratapi kesehariannya tanpa kawan. Di curhatnya yang pertama, saya katakan, "Cobalah kamu ikut himpunan mahasiswa atau organisasi apapun. Di sana kamu akan mendapati beraneka macam manusia, tinggal kamu pilih mana yang sesuai untuk menjadi sahabatmu." Tahu jawabnya? "Himpunan? Organisasi? Malas ah, banyak menyita waktu. Lebih baik tidur di kos atau main game."
Kalau pilihan jatuh pada main game, ya konsekuensi yang dihadapi adalah keakraban dengan game tersebut.

Saya milih cinta Tuhan saja, manusia juga. Selain keluarga ada lagi yang masih nempel di hati saya, huhh,…. siapa ya???
Ni anak sombong banget.. maen donk ke Blog orang…
Comment by lutfiana — 8 November 2008 @ 2:21 am