Sebagaimana sudah menjadi tradisi umat Muslim di Indonesia, beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri datang, saya pulang ke daerah asal saya di Kabupaten Tegal. Artinya, saya sempat menghabiskan hari-hari terakhir bulan Ramadhan di sana.
Ada yang berbeda dengan bulan Ramadhan tahun ini. Ibu mengajak saya ke suatu perkampungan di belakang pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di sana ada suatu daerah dinamakan Legok yang berarti cekungan. Ya, daerah tersebut merupakan cekungan yang seharusnya menjadi jalan mengalirnya air kali, namun malah dibangun gubug-gubug kecil untuk ditinggali beberapa keluarga. Keluarga yang tinggal di sana bukan keluarga biasa. Anak-anak mereka sudah pandai bekerja : mengemis di pusat perbelanjaan
. Ayah-ibu bekerja sebagai pecinta lingkungan yang peduli akan kebersihan kota : pemulung.
Sudah beberapa bulan, Ibu saya dan teman-teman pengajiannya mengajar ngaji di sana dengan perlengkapan ala kadarnya. Para orangtua menyambut dengan antusias. Saya masih ingat awal perjumpaan kami dulu. Ketika itu, saya, Ibu dan teman-temanya (terkadang ikut pula sukarelawan) datang, beberapa ibu langsung menggelar tikar. Ibu-ibu yang lain ngoprak-oprak anak-anaknya untuk segera ganti baju, menutup aurat, dan bergabung bersama kami sambil berdiri menyusui (entah anak yang ke berapa). Jangan bayangkan mereka mengenakan baju muslim rapi dan indah seperti yang biasa dikenakan saat hendak mengikuti pengajian. Mereka mengenakan kaos sponsor dari parpol atau promo warung makan yang kebesaran sehingga cukup menutup tangan mereka. Yang perempuan juga mengenakan jilbab lusuh dan kekecilan. Mungkin itu jilbab turun-temurun dari kakaknya yang dia pake sejak kecil sampai sekarang.
<img src=’/images/legok1.JPG’ alt=’Anak-anak Legok’ />
Ada pula bapak-bapak yang marah-marah
karena anaknya malu bergabung dengan kami. Dia menegur anaknya hingga si anak mau bergabung masih dengan rasa malu dan mungkin sedikit terpaksa.
Tak lama, kami sudah bisa melangsungkan kegiatan belajar. Suasananya ramai, tapi semarak
. Para orang tua dari anak-anak tersebut duduk mengelilingi kami mengawasi anak mereka kalau-kalau berulah atau membuat kegaduhan. Lucu memang, tapi itulah semangat mereka. Walaupun beralas tikar beratap rimbunnya rumpun bambu, tapi semangat mereka (Subhanallah) luar biasa.
<img src=’/images/Legok2.JPG’ alt='’ />
Saat hari-hari terakhir Ramadhan kemarin, kami mengadakan buka puasa bersama dengan mereka. Suguhannya sangat sederhana, minuman ta’jil, nasi bungkus, dan salah satu buah yang biasa menjadi hidangan berbuka puasa. Kami sedikit khawatir mereka kurang antusias karena menu tersebut.
Ternyata yang terjadi sebaliknya
.
Buah yang kami suguhkan hanya mereka pandangi. Salah seorang dari mereka memberanikan diri mengambil satu buah, lalu bertanya pada Ibu, "Bu Guru, ini apa?"
. Teman-temannya menoleh ke arah anak itu seperti memiliki pertanyaan yang sama. Seorang yang lain menyahut, "Itu jajanan yang biasanya dijual kalo puasa itu lho.. Kayak manisan cermai tapi warnanya coklat."
Ibu dan saya saling berpandangan. Sulit dipercaya, buah yang hampir setiap hari kami makan untuk berbuka, belum mereka kenal.
Kemudian seorang anak lain mengambil satu buah di piring seraya berkata,"Halah… Dimakan saja, gratis ini!" lalu memakan kurma itu dengan lahap. Anak-anak lain mengikuti.
Komentar tentang buah tersebut mulai bermunculan, macam-macam sekali. Mulai dari rasanya yang manis, kulitnya yang keriput, bijinya yang tidak bulat,…
Kami terharu dengan suasana saat itu. Begitu aneh, asing, tapi nyata kami alami sendiri. Di tengah keharuan tersebut, salah seorang di antara kami mengalihkan perhatian anak-anak tersebut dari buah tadi.
"Ini namanya buah kurma, di sini memang tidak ada pohonnya. Yang ada di daerah arab sana. Berbuka puasa dengan kurma merupakan sunnah Rasul, apalagi dimakan dalam jumlah ganjil, tiga atau lima." jelas teman Ibu
.
"Bu Guru, saya kan tadi baru makan enam, berarti nambah satu lagi boleh ya Bu? Kan biar ganjil.." sahut seorang anak.
Teman Ibu tersenyum mengangguk dan berkata, "Iya, tapi jangan banyak-banyak ya.. Nanti kekenyangan, nggak kuat makan ta’jil lho…" lalu si anak tadi kembali mengambil kurma dengan girang.
Yang menggelitik di sini, apakah selama ini kita begitu acuh dengan orang-orang di sekitar kita? Begitu nikmatnya kita berbuka dengan buah kurma hingga kita lupa sudahkah mereka menikmati berbuka seperti kita? Ketika kita mentradisikan Idul Fitri dengan mudik dan baju baru, berlakukah tradisi itu bagi mereka??

kalau kita sering melihat kebawah
kita akan semakin hati hati
(dan bersyukur)
kalau kita sering melihat keatas,
kita akan kurang waspada
(dan akan tersungkur)
Comment by Babe — 17 May 2009 @ 8:58 am