14 September 2008

Amanah Sebuah Beasiswa

Filed under: Manusiawi

Pukul 9 pagi, seorang teman menelepon saya. Bramas, namanya. Mahasiswa semester 3 jurusan Sistem Perkapalan tersebut meminta saya segera datang ke Rektorat. Saya baru ingat emoticon, hari itu akan ada pertemuan dengan DR AB Susanto, Koordinator Beasiswa Unggulan di Rektorat. Seketika itu juga saya langsung meraih kunci motor kawan dan segera melaju menuju Rektorat. Di loby Gedung Rektorat sudah ada Sulfahri (mahasiswa Biologi), Ika (mahasiswi Teknik Lingkungan), Bramas, dan Pak Syafsir Akhlus (Koordinator Beasiswa Unggulan ITS). Bisa dibiliang, saya belum terlalu terlambat karena masih ada 6 mahasiswa lain yang belum datang emoticon begitu juga DR AB Susanto yang akrab disapa Pak Abe.

Pukul 9.45 Pak Abe datang bersama Bu Hermina, sekretaris Beasiswa Unggulan ITS. Delapan mahasiswa pun sudah siap bercengkerama dengannya.

Pertemuan hari itu diawali dengan perkenalan. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri. Nama, asal, IPS-IPK dan prestasi kami selama setahun terakhir menjadi konten perkenalan. Saya mengawali sesi perkenalan itu. Saya menyebutkan nama saya, kemudian prestasi saya yang memang hanya satu yaitu English Debate Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS. Mengenai IPS dan IPK, alhamdulillah tidak memalukan walau belum mencapai target pribadi. Untuk menutupi kepasifan prestasi, saya juga sedikit menceritakan aktifitas saya. Dengan lancar saya mengatakan bahwa saya tidak bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan, namun bergabung di Jamaah Masjid Manarul Ilmi sebagai staff SU-DPU dan reporter di Statistics Corner. Tak lupa saya memberi deskripsi tentang apa yang saya kerjakan dan peran saya di dua organisasi tersebut.

Setelah saya mengakhiri perkenalan saya, Pak Abe bertanya, "Cita-citamu apa?"

Saya berpikir kilat. Sangat tidak lucu kalau saya jawab bahwa saya ingin menjadi seorang jurnalis sementara jurusan saya Statistika. Jadilah pertanyaan itu saya jawab sekenanya, "Consultant atau Market Research".

Pak Abe mengerutkan dahinya, "Consultant?!".

"Ya, saya menghendaki atmosphere dunia kerja seperti AC Nielsen".

"Kamu kepikiran nggak bekerja sebagai Market Research di Siemens?"

Siemens? Kenapa harus Siemens? Siemens Surabaya apa Jakarte neh emoticon? Saya bertanya dalam hati.

Seperti bisa membaca pikiran saya, Pak Abe menambahkan, "Maksudnya Market Research Siemens Jerman?".

Glek! Jerman emoticon? Mimpi aja enggak..!! Terbengong saya mendengarnya. "Belum ada bayangan ke sana, Pak…"

"Kalau begitu mulai sekarang, bayangkanlah! Bermimpilah!" jawab Pak Abe tegas.

Saya mengangguk dan duduk kembali. Berikutnya, Fahri memperkenalkan diri. Masalah prestasi, jangan ditanya! Dia punya segudang prestasi, mulai dari pertanian hingga perfilman. Map yang ia bawa pun tebal oleh sertifikat juara. Sayang, IP Semester 2 nya jatuh hingga 0,74 poin. Sebuah harga mahal yang harus dibayar untuk segudang prestasi emoticon.

Selanjutnya, mahasiswa lain pun memperkenalkan diri. Beberapa juga menceritakan prestasi saat SMA. Dua mahasiswa yang datang terlambat juga tak ketinggalan memperkenalkan diri. Dari perkenalan kesepuluh mahasiswa tersebut, yang paling seru adalah perkenalan Bramas.

Bramas adalah mahasiswa Sistem Perkapalan yang masuk ITS melalui PMDK Prestasi. Prestasi yang mengantarnya ke ITS terbilang cukup unik yaitu Juara Nasional Bola Voli. Kiprahnya di ITS pun masih berkenaan dengan voli, membangunkan UKM Voli yang telah lama tidur. Prestasinya sebagai mahasiswa Sistem Perkapalan sama sekali belum nampak. Agaknya hal tersebut sedikit mengecewakan Pak Abe, terlebih lagi IPKnya yang belum mencapai batas minimal beasiswa.

"Saya minta kamu bikin kapal kecil yang bisa dikendalikan ke mana-mana dan menyelam hingga kedalaman tertentu. Kemudian di dasar laut kapal mini itu bisa mengambil gambar kondisi bawah laut dan foto-foto itu langsung dikirim melalui satelit menuju laptopmu dengan software khusus. Saya yakin kamu bisa melakukan itu. Bukannya saya tidak setuju dengan kegiatanmu di voli, tapi kalau tingkatannya hanya ITS, tinggalkan! emoticon" tanggapan yang cukup menohok seandainya saya menjadi Bramas. Tapi memang begitulah seharusnya. Tak hanya Bramas, hampir setiap mahasiswa mendapat tantangan dari Pak Abe, termasuk saya. Pak Abe menantang saya untuk mewawancara 25 penerima Beasiswa Unggulan (10 mahasiswa angkatan saya dan 15 mahasiswa angkatan 2008) dan mempublikasikannya ke media massa minimal selevel Kompas atau Jawa Pos emoticon.

Masih ingat artikel saya tanggal 3 April 2008 (Beasiswa Bukan Rejeki Nomplok)? Di artikel tersebut saya katakan bahwa ada amanat yang terkandung dalam tiap rupiah beasiswa. Apalagi beasiswa ini adalah uang rakyat. Makanan yang kami makan, buku-buku yang kami beli, kamar kos yang kami tinggali, semua dibayar dengan uang rakyat. Tiap titik ilmu yang kami dapat di bangku perkuliahan pun terbayarkan oleh uang rakyat emoticon.

Hh, saya harus menghela napas panjang bila mengingat hal ini. Betapa besar hutang saya pada rakyat . SPP dan biaya hidup saya selama empat tahun ditopang oleh rakyat. Tentunya rakyat yang bayar pajak..

Mengingat itu, saya merasa malu sekali belum bisa mengganti uang rakyat dengan prestasibemoticon . Apalagi begitu besar harapan yang digantungkan di leher saya.

Pada pertemuan itu, Pak Abe menguraikan harapan-harapannya pada kami. Jangka pendek, beliau menginginkan kami memimpin ITS untuk mempererat hubungan kami dan berprestasi di tingkat nasional. Selain itu, beliau juga berharap kami bisa meraih double degree dengan kuliah 3 tahun di ITS dan 1 tahun di Belanda. Harapan jangka pendek lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa kami harus mampu berkompetisi dengan mahasiswa asing yang akan masuk ITS dalam program pertukaran mahasiswa. Jangka panjang, beliau berharap kami bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK minimal 3,25 dan TOEFL internasional minimal 550 supaya kami bisa melanjutkan S2 di luar negeri, terutama di Jepang, tanpa mengkhawatirkan urusan dana. Tak hanya itu saja, Pak Abe juga mengatakan, "Anda mendapat beasiswa tanpa meraih gelar doktor, RUGI!! Silahkan Anda ke Jepang, belajar di sana, berinovasilah, dan ingat, jangan ganti kewarganegaraan. Selama Anda masih berkewarganegaraan Indonesia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan beasiswa. Kalau bisa, sebelum usia Anda 30 tahun, gelar doktor itu sudah di tangan Anda. Anda tidak buru-buru nikah to?"emoticon

Pak Abe tidak hanya menuntut dan berarap, beliau juga memotivasi kami. Dia menunjukkan foto-fotonya di Jepang kemarin (beliau baru saja tiba dari Jepang) bersama beberapa mahasiswa. Ada mahasiswa dari Udayana, UGM, Unhas, beberapa di antaranya berjilbab. Hal itu sedikit melegakan saya emoticon.

"Kalian mau foto dengan saya? Nggak pa pa, tapi jangan di ITS. Saya mau foto dengan kalian di Tokyo Tower atau Eiffel. Dari sorot mata kalian, saya yakin kalian bisa!" Kalimat itu benar-benar memacu semangat kami. Rasanya ingin segera mewujudkan hal tersebut.

Pak Abe juga menceritakan beberapa profesor di sana yang berasal dari Indonesia, salah satunya profesor penerima Beasiswa Habibi. Dia menjadi dosen di Chiba University dan membuat sebuah satelit dengan ukuran yang lebih kecil dari satelit lain. Satelit itu bisa mendeteksi wabah demam berdarah di suatu negara. Dia hendak mempersembahkan satelit itu untuk Indonesia setelah selesai diujicobakan di Jepangemoticon.

Tak hanya menampilkan slide foto-fotonya di Jepang, laki-laki bergelar doktor ini juga menunjukkan grafik anggaran yang dikeluarkan untuk Beasiswa Unggulan. Tahun 2006, pemerintah mengeluarkan 3,303,297 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler (Dalam Negeri). Di tahun berikutnya, anggaran menjadi 24,945,055 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 2,600,307 USD untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri. Di tahun 2008, anggaran tersebut menurut drastis, 15,610,989 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 2,141,824 untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri. Dalam tahap pembahasan, anggaran untuk tahun 2009 lebih kecil lagi yaitu 14,560,440 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 1,502,824 untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri.

Angka-angka yang mencengangkan, apalagi dalam kurs USD. Semakin malu rasanya pada rakyat Indonesia. Tapi rasa malu itulah yang terus memotivasi saya untuk terus berprestasi. Ya Allah, ringankan langkahku untuk memenuhi amanat ini…

Kini, di dinding kamar saya tertempel jelas sebuah kalimat: UANG RAKYAT BUKAN BUAT BELANJA TAPI BUAT BELAJAR!!emoticon

Maka dari itu, bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, sekali lagi saya ingatkan, siapkah Anda dengan amanah itu? Karena tiap rupiah yang Anda dapat dari beasiswa tersebut tentu akan dipertanggungjawabkan secara hitam di atas putih dan di akhirat kelak.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://tikaw.blogsome.com/2008/09/14/78/trackback/

  1. Nah, ada alasan kuat untuk tidak bolos khan??

    Comment by A. Widyaningtyas — 19 September 2008 @ 12:19 pm

  2. Makasih atas info n spiritnya…

    Comment by badrus — 3 October 2008 @ 2:31 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.