8 September 2008

Nama Rakyat Kecil, Mainan Baru Para Pembesar Negeri

Sebelumnya, simak artikel yang saya ambil dari Tempo Interaktif.

LELAKI DARI DUNIA TAK NYATA

SEJUMLAH karyawan Grup Media mengenal pria itu sebagai teknisi pendingin ruangan. Ia biasa datang bila ada masalah pada alat pendingin gedung di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Asiong, begitu pria pertengahan 40-an tahun itu dikenal.

Nama aslinya Alfian Sanjaya. Ia lahir dan besar di Jambi. ”Saya ini orang kampung, hanya lulus sekolah menengah pertama,” katanya. Kenyataannya, Asiong bukan orang kampung biasa.

Alfian tercatat sebagai Komisaris PT Vista Bella Pratama, perusahaan pembeli hak tagih (cessie) pemerintah di PT Timor Putra Nasional. Membeli cessie dengan harga Rp 446 miliar dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 2003, Vista berhak atas piutang senilai hampir Rp 4,5 triliun di perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto itu.

Kepada Tempo, Alfian mengaku tak tahu apa-apa soal pembelian hak tagih Timor itu. ”Saya dulu cuma disuruh tanda tangan. Setelah itu, enggak tahu apa-apa,” ujarnya. ”Bahkan saya enggak tahu bila Anda tanya: apa itu cessie?”

Menurut sumber Tempo, nama Alfian sebenarnya hanya dipakai untuk kepentingan Surya Paloh, pemilik Grup Media, dalam transaksi hak tagih utang Timor. Ia memang dikenal dekat dengan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar itu. Ia antara lain biasa menyiapkan berbagai hal jika Surya berlibur ke Kaliage, pulau di kawasan Kepulauan Seribu milik sang pengusaha.

Awalnya adalah keputusan Surya Paloh mengikuti tender pembelian piutang Timor, yang dinilai sebagai ”barang bagus”. Politikus Partai Beringin itu meminta Taufik Surya Darma, 43 tahun, juga orang kepercayaannya, membentuk perusahaan guna keperluan ini. Dipakailah Vista Bella, perusahaan yang pada akta awal pendiriannya dibuat untuk perdagangan dan kontraktor umum, yang akhirnya memenangi tender.

Taufik cukup berpengalaman menjalankan bisnis Surya Paloh. Pada 1992, ia memimpin pembangunan Hotel Sheraton Media di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Ia juga berperan penting antara lain dalam pembangunan Hotel Tiara, Medan, dan gedung Metro TV di Jakarta.

Pembangunan Hotel Sheraton juga menjadi awal pertautan Alfian Sanjaya dengan Surya Paloh. Sumber Tempo memastikan, Alfian terlibat dalam pemasangan instalasi listrik, termasuk pemasangan alat penyejuk udara, di hotel bintang lima itu. Sejak itu, ia pelan-pelan masuk lingkaran dekat Surya Paloh, hingga akhirnya diminta menjadi Komisaris Vista Bella.

Alfian tidak menjawab tegas ketika dimintai konfirmasi soal hubungannya dengan Surya Paloh. ”Saya enggak mau banyak berkomentar, takut salah,” katanya. Ketika kemudian ditanyai mengapa bisa menjadi Komisaris Vista Bella, Alfian menjawab, ”Anda tahu sendirilah, zaman sekarang, mana ada yang riil?” Taufik Surya juga menolak menjelaskan kaitan Vista dengan Surya Paloh.

Surya Paloh belum bisa dimintai konfirmasi soal keterkaitannya dengan Vista Bella. Kepada Tempo, yang mengirim faksimile daftar pertanyaan konfirmasi ke kantornya, sekretaris Surya Paloh mengatakan bosnya sedang ke luar negeri. Dalam wawancara sebelumnya dengan Tempo, Presiden Komisaris PT Media Televisi Indonesia itu membantah memiliki kaitan dengan Vista Bella.

Sumber Tempo menuturkan, Komisi Pemberantasan Korupsi, yang terlibat dalam usaha pembatalan transaksi Vista Bella, telah meminta keterangan Taufik dan Alfian, juga seorang anggota staf Surya Paloh yang tahu soal jual-beli itu. Candra M. Hamzah, Wakil Ketua Komisi, membenarkan soal pemanggilan itu. ”Saya lupa siapa saja,” katanya, ”tapi kami memang memanggil berbagai pihak untuk dimintai keterangan.”

Budi Setyarso, Sahala Lumbanraja, Vennie Melyani

Bisa Anda bayangkan, seorang teknisi pendingin ruangan yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga SMP saja namanya bisa tercatat sebagai Komisaris PT. Bella Vista Pratama dengan transaksi pembelian cessie senilai Rp 446 miliar. Di artikel tersebut ditulis pula pernyataan Asiong yang hanya membubuhkan tanda tangan tanpa tahu apa yang sedang terjadi dengan namanya.

Peristiwa semacam ini bukan yang pertama kali terjadi di negara kita yang unik ini. Nama-nama wong cilik juga pernah terdaftar sebagai donatur kampanye partai di putaran Pemilu 2004 lalu. Pemulung, tukang becak, nama mereka terdaftar sebagai donatur dengan nominal donasi yang tidak kecil, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Bagimana bisa hal ini terjadi di sini?

Masyarakat bawah yang bersahabat dengan kemiskinan memang pihak yang paling rawan menjadi pelanduk ketika dua gajah bertarung. Mereka tidak tahu banyak mengenai pergolakan orang-orang besar di negeri ini. Mereka tidak tahu dunia perbankan, strategi politik, apalagi cessie. Yang jadi pemikiran mereka bukan bagaimana mendapatkan dana yang cukup besar untuk lancarnya kampanye Pemilu, tapi bagaimana mendapatkan sesuap nasi untuk sekedar mengganjal perut yang lapar. Tak harus enak, yang penting terisi.

Kita tak perlu membahas, mengapa gajah-gajah itu tega melakukan hal ini pada pelanduk, bisa jadi mereka adalah gajah dengan strategi kancil yang selalu dikisahkan mencuri timun, tanpa ada kisah pertobatan atau pengakuan dosa. Yang perlu menjadi perhatian kita adalah betapa kemiskinan menimbulkan multiply effect di beberapa aspek kehidupan. Bukan salah mereka untuk tidak peduli, atau tepatnya kurang perhatian, terhadap permasalahan politik apalagi bisnis mikro. Bukan kehendak mereka juga untuk menjadi miskin dan lapar.

Memang tak banyak yang bisa kita perbuat atas situasi ini. Tapi kita tetap tidak bisa diam berpangku tangan, membiarkan mereka menjadi bahan lelucon orang besar. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini?

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://tikaw.blogsome.com/2008/09/08/nama-rakyat-kecil-mainan-baru-para-pembesar-negeri/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.