20 September 2008

Ingin Cum laude Harus Smart

Judul ini saya ambil dari judul bukunya Fani Kartikasari, S.T terbitan PT Elex Media Komputindo tahun 2008. Buku setebal 123 halaman ini dihargai Rp 34.800 di Toko Buku Gramedia. Tampilan dalamnya cukup menarik, tidak membosankan. Content-nya cukup simple dan tidak bertele-tele emoticon. Sebenarnya tips yang diberikan tergolong ringan dan merupakan sesuatu yang jelas sudah kita ketahui, tapi memang sulit diamalkan. Nah, kalo belum sempat beli bukunya, saya beri bocoran dikit deh…emoticon

Di Bab 3, Fani membahas tentang  5 Prinsip Smart utk mencapai Cum Laude, yaitu emoticon:

  1. Be positive thinking
  2. Strong motivation
  3. Ready to change
  4. Disiplin, komitmen, dan konsisten
  5. Do our best, and let God do the rest.

Kemudian pada Bab 4 ada Tip dan Trik di kelas emoticon:

  1. Pilih bangku depan
  2. Siap materi sebelum kuliah
  3. Siap fisik
  4. Buku pegangan sendiri
  5. Aktif di kelas
  6. NO titip absen
  7. Catatan sendiri
  8. Dekati dosen

Nggak cuma di kelas, di rumah pun ada tip dan triknya lho…emoticon

  1. Pintar-pintar bagi waktu
  2. Pilih waktu, tempat, dan suasana paling sreg
  3. Menghafal dengan warna / suara / inisial / gambar
  4. Banyak latihan soal
  5. Buat ringkasan
  6. Jangan menunda

Nah lho, lengkap kan? Tip di kelas sudah, di rumah sudah. Nah..tinggal menanti masa ujian neh.. Tapi ujian pun ternyata ada tip dan triknya juga!emoticon

  • NO SKS (Sistem Kebut Semalam)
  • Cari tahu siapa pembuat soal dan buku pegangannya
  • Cari soal-soal tahun kemarin dari senior
  • Prekdisikan soal yang akan keluar
  • Siap fisik, siap mental
  • Jangan stres ketika melihat soal
  • Pastikan jam dan tempat ujian
  • Tulisan dan cara menjawab

Sebenernya masih ada lagi sih, Gaul Asyik ala Cum Laude, Tip dan Trik Membuat Skripsi sampe ke sidangnya. Tapi kalo ta tulis di sini juga, kasihan Mbak Fani, royalty-nya berkurang karena pada milih baca blog saya daripada bukunya Mbak Fani. Hehehe… Oya, FYI, Mbak Fani ini lulusan Teknik Industri Trisakti yang lulus dengan IPK 3,92 dalam waktu 3,5 tahun emoticon. Bisa enggak ya kita mengikuti jejaknya di jurusan Statistika ITS?emoticon

Semestinya, saya nggak boleh menuliskan ringkasan saya dan mem-publish-nya, nanti banyak saingan sarjana cum laude. Tapi nggak pa pa deh, ilmu kan untuk dibagi, bukan disimpan sendiri. Setuju?

Buat Mbak-Mas yang sudah mengalami cum laude, mohon bimbingan dan koreksinya juga ya, apakah tips dan triknya Mbak Fani ini sesuai dengan apa yang Anda terapkan..??emoticon Buat yang belum Cum laude, bareng-bareng usaha yuk! Aku juga belum cum laude koq…emoticon

14 September 2008

Amanah Sebuah Beasiswa

Filed under: Manusiawi

Pukul 9 pagi, seorang teman menelepon saya. Bramas, namanya. Mahasiswa semester 3 jurusan Sistem Perkapalan tersebut meminta saya segera datang ke Rektorat. Saya baru ingat emoticon, hari itu akan ada pertemuan dengan DR AB Susanto, Koordinator Beasiswa Unggulan di Rektorat. Seketika itu juga saya langsung meraih kunci motor kawan dan segera melaju menuju Rektorat. Di loby Gedung Rektorat sudah ada Sulfahri (mahasiswa Biologi), Ika (mahasiswi Teknik Lingkungan), Bramas, dan Pak Syafsir Akhlus (Koordinator Beasiswa Unggulan ITS). Bisa dibiliang, saya belum terlalu terlambat karena masih ada 6 mahasiswa lain yang belum datang emoticon begitu juga DR AB Susanto yang akrab disapa Pak Abe.

Pukul 9.45 Pak Abe datang bersama Bu Hermina, sekretaris Beasiswa Unggulan ITS. Delapan mahasiswa pun sudah siap bercengkerama dengannya.

Pertemuan hari itu diawali dengan perkenalan. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri. Nama, asal, IPS-IPK dan prestasi kami selama setahun terakhir menjadi konten perkenalan. Saya mengawali sesi perkenalan itu. Saya menyebutkan nama saya, kemudian prestasi saya yang memang hanya satu yaitu English Debate Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS. Mengenai IPS dan IPK, alhamdulillah tidak memalukan walau belum mencapai target pribadi. Untuk menutupi kepasifan prestasi, saya juga sedikit menceritakan aktifitas saya. Dengan lancar saya mengatakan bahwa saya tidak bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan, namun bergabung di Jamaah Masjid Manarul Ilmi sebagai staff SU-DPU dan reporter di Statistics Corner. Tak lupa saya memberi deskripsi tentang apa yang saya kerjakan dan peran saya di dua organisasi tersebut.

Setelah saya mengakhiri perkenalan saya, Pak Abe bertanya, "Cita-citamu apa?"

Saya berpikir kilat. Sangat tidak lucu kalau saya jawab bahwa saya ingin menjadi seorang jurnalis sementara jurusan saya Statistika. Jadilah pertanyaan itu saya jawab sekenanya, "Consultant atau Market Research".

Pak Abe mengerutkan dahinya, "Consultant?!".

"Ya, saya menghendaki atmosphere dunia kerja seperti AC Nielsen".

"Kamu kepikiran nggak bekerja sebagai Market Research di Siemens?"

Siemens? Kenapa harus Siemens? Siemens Surabaya apa Jakarte neh emoticon? Saya bertanya dalam hati.

Seperti bisa membaca pikiran saya, Pak Abe menambahkan, "Maksudnya Market Research Siemens Jerman?".

Glek! Jerman emoticon? Mimpi aja enggak..!! Terbengong saya mendengarnya. "Belum ada bayangan ke sana, Pak…"

"Kalau begitu mulai sekarang, bayangkanlah! Bermimpilah!" jawab Pak Abe tegas.

Saya mengangguk dan duduk kembali. Berikutnya, Fahri memperkenalkan diri. Masalah prestasi, jangan ditanya! Dia punya segudang prestasi, mulai dari pertanian hingga perfilman. Map yang ia bawa pun tebal oleh sertifikat juara. Sayang, IP Semester 2 nya jatuh hingga 0,74 poin. Sebuah harga mahal yang harus dibayar untuk segudang prestasi emoticon.

Selanjutnya, mahasiswa lain pun memperkenalkan diri. Beberapa juga menceritakan prestasi saat SMA. Dua mahasiswa yang datang terlambat juga tak ketinggalan memperkenalkan diri. Dari perkenalan kesepuluh mahasiswa tersebut, yang paling seru adalah perkenalan Bramas.

Bramas adalah mahasiswa Sistem Perkapalan yang masuk ITS melalui PMDK Prestasi. Prestasi yang mengantarnya ke ITS terbilang cukup unik yaitu Juara Nasional Bola Voli. Kiprahnya di ITS pun masih berkenaan dengan voli, membangunkan UKM Voli yang telah lama tidur. Prestasinya sebagai mahasiswa Sistem Perkapalan sama sekali belum nampak. Agaknya hal tersebut sedikit mengecewakan Pak Abe, terlebih lagi IPKnya yang belum mencapai batas minimal beasiswa.

"Saya minta kamu bikin kapal kecil yang bisa dikendalikan ke mana-mana dan menyelam hingga kedalaman tertentu. Kemudian di dasar laut kapal mini itu bisa mengambil gambar kondisi bawah laut dan foto-foto itu langsung dikirim melalui satelit menuju laptopmu dengan software khusus. Saya yakin kamu bisa melakukan itu. Bukannya saya tidak setuju dengan kegiatanmu di voli, tapi kalau tingkatannya hanya ITS, tinggalkan! emoticon" tanggapan yang cukup menohok seandainya saya menjadi Bramas. Tapi memang begitulah seharusnya. Tak hanya Bramas, hampir setiap mahasiswa mendapat tantangan dari Pak Abe, termasuk saya. Pak Abe menantang saya untuk mewawancara 25 penerima Beasiswa Unggulan (10 mahasiswa angkatan saya dan 15 mahasiswa angkatan 2008) dan mempublikasikannya ke media massa minimal selevel Kompas atau Jawa Pos emoticon.

Masih ingat artikel saya tanggal 3 April 2008 (Beasiswa Bukan Rejeki Nomplok)? Di artikel tersebut saya katakan bahwa ada amanat yang terkandung dalam tiap rupiah beasiswa. Apalagi beasiswa ini adalah uang rakyat. Makanan yang kami makan, buku-buku yang kami beli, kamar kos yang kami tinggali, semua dibayar dengan uang rakyat. Tiap titik ilmu yang kami dapat di bangku perkuliahan pun terbayarkan oleh uang rakyat emoticon.

Hh, saya harus menghela napas panjang bila mengingat hal ini. Betapa besar hutang saya pada rakyat . SPP dan biaya hidup saya selama empat tahun ditopang oleh rakyat. Tentunya rakyat yang bayar pajak..

Mengingat itu, saya merasa malu sekali belum bisa mengganti uang rakyat dengan prestasibemoticon . Apalagi begitu besar harapan yang digantungkan di leher saya.

Pada pertemuan itu, Pak Abe menguraikan harapan-harapannya pada kami. Jangka pendek, beliau menginginkan kami memimpin ITS untuk mempererat hubungan kami dan berprestasi di tingkat nasional. Selain itu, beliau juga berharap kami bisa meraih double degree dengan kuliah 3 tahun di ITS dan 1 tahun di Belanda. Harapan jangka pendek lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa kami harus mampu berkompetisi dengan mahasiswa asing yang akan masuk ITS dalam program pertukaran mahasiswa. Jangka panjang, beliau berharap kami bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK minimal 3,25 dan TOEFL internasional minimal 550 supaya kami bisa melanjutkan S2 di luar negeri, terutama di Jepang, tanpa mengkhawatirkan urusan dana. Tak hanya itu saja, Pak Abe juga mengatakan, "Anda mendapat beasiswa tanpa meraih gelar doktor, RUGI!! Silahkan Anda ke Jepang, belajar di sana, berinovasilah, dan ingat, jangan ganti kewarganegaraan. Selama Anda masih berkewarganegaraan Indonesia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan beasiswa. Kalau bisa, sebelum usia Anda 30 tahun, gelar doktor itu sudah di tangan Anda. Anda tidak buru-buru nikah to?"emoticon

Pak Abe tidak hanya menuntut dan berarap, beliau juga memotivasi kami. Dia menunjukkan foto-fotonya di Jepang kemarin (beliau baru saja tiba dari Jepang) bersama beberapa mahasiswa. Ada mahasiswa dari Udayana, UGM, Unhas, beberapa di antaranya berjilbab. Hal itu sedikit melegakan saya emoticon.

"Kalian mau foto dengan saya? Nggak pa pa, tapi jangan di ITS. Saya mau foto dengan kalian di Tokyo Tower atau Eiffel. Dari sorot mata kalian, saya yakin kalian bisa!" Kalimat itu benar-benar memacu semangat kami. Rasanya ingin segera mewujudkan hal tersebut.

Pak Abe juga menceritakan beberapa profesor di sana yang berasal dari Indonesia, salah satunya profesor penerima Beasiswa Habibi. Dia menjadi dosen di Chiba University dan membuat sebuah satelit dengan ukuran yang lebih kecil dari satelit lain. Satelit itu bisa mendeteksi wabah demam berdarah di suatu negara. Dia hendak mempersembahkan satelit itu untuk Indonesia setelah selesai diujicobakan di Jepangemoticon.

Tak hanya menampilkan slide foto-fotonya di Jepang, laki-laki bergelar doktor ini juga menunjukkan grafik anggaran yang dikeluarkan untuk Beasiswa Unggulan. Tahun 2006, pemerintah mengeluarkan 3,303,297 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler (Dalam Negeri). Di tahun berikutnya, anggaran menjadi 24,945,055 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 2,600,307 USD untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri. Di tahun 2008, anggaran tersebut menurut drastis, 15,610,989 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 2,141,824 untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri. Dalam tahap pembahasan, anggaran untuk tahun 2009 lebih kecil lagi yaitu 14,560,440 USD untuk Beasiswa Unggulan Reguler dan 1,502,824 untuk Beasiswa Unggulan Luar Negeri.

Angka-angka yang mencengangkan, apalagi dalam kurs USD. Semakin malu rasanya pada rakyat Indonesia. Tapi rasa malu itulah yang terus memotivasi saya untuk terus berprestasi. Ya Allah, ringankan langkahku untuk memenuhi amanat ini…

Kini, di dinding kamar saya tertempel jelas sebuah kalimat: UANG RAKYAT BUKAN BUAT BELANJA TAPI BUAT BELAJAR!!emoticon

Maka dari itu, bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, sekali lagi saya ingatkan, siapkah Anda dengan amanah itu? Karena tiap rupiah yang Anda dapat dari beasiswa tersebut tentu akan dipertanggungjawabkan secara hitam di atas putih dan di akhirat kelak.

11 September 2008

Lie with Statistics

Filed under: Manusiawi
Membaca artikel ini, sebagai seorang mahasiswi statistika saya merasa sangat gemes. BPS yang merupakan pusat dari segala data statistik memang semestinya bersifat independen, tidak tersentuh intervensi dari pemerintah seperti yang diungkapkan dosen saya, Pak Kresnayana Yahya, pada kuliah Official Statistika pagi tadi. Apabila suatu lembaga, biro, atau badan statistika yang menangani pendataan secara langsung ke masyarakat ini mendapat intervensi dari pemerintah, jelas akan sangat mudah untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan pemerintah.
Contoh kasusnya adalah pendataan mengenai jumlah keluarga miskin di Indonesia. Supaya jumlah keluarga miskin di Indonesia ini terkesan menurun, BPS bisa saja mengubah patokan dengan cara:
1. Memperbesar batas penghasilan maksimum untuk masuk kategori miskin. Bila sebelumnya suatu keluarga dikatakan miskin bila berpenghasilan di bawah Rp 540.000 maka untuk perhitungan kali ini menjadi di bawah Rp 600.000.
2. Memanipulasi data dengan sedikit merubah keadaan sekitar responden sebelum disurvey seperti menurunkan harga beras, mengeluarkan bantuan keuangan (BLT, beasiswa, dsb), menaikkan UMR, dan sebagainya. Namun, perubahan ke arah yang positif ini tidak dilakukan jauh-jauh hari sebelum ada survey dan setelah survey dilakukan.
3. Metode perhitungan yang tidak aktual dan tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Pada artikel tersebut dikatakan bahwa metode perhitungan telah digunakan selama 20 tahun. Menurut saya, rentang waktu itu bukanlah rentang waktu yang patut dibanggakan karena fluktuasi perekonomian 20 tahun lalu dan tahun-tahun belakangan ini jelas berbeda sehingga diperlukan metode baru yang lebih akurat.
Namun kesalahan tidak bisa ditumpahkan sepenuhnya pada BPS sebagai penghimpun dan pengolah data. Tuntutan Serikat Masyarakat Miskin pun tidak bisa seluruhnya benar. Tidak memiliki tempat tinggal yang sehat tidak selalu karena kemiskinan yang diderita, namun lebih karena kurangnya pengetahuan akan tempat tinggal yang sehat dan kebiasaan yang kurang sehat. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan makanan yang sehat juga tidak selalu karena kemiskinan. Perlu diingat, di daerah nusa tenggara pernah terjadi kasus balita busung lapar namun dia bukan dari keluarga miskin. Ayahnya tengah kuliah S2 Elektro dan Ibu dari balita itu juga kuliah S2 Biologi. Bila kedua orangtua mampu menempuh jenjang perkuliahan hingga S2 apakah bisa dikatakan keluarga miskin?
Permasalahan kemiskinan dan pembohongan publik di Indonesia memang seperti tidak ada habisnya. Masyarakat terus menerus menyalahkan pihak pemerintah dan pemerintah pun tidak lelah membohongi masyarakat. Seandainya kejujuran melekat di kedua pihak, maka permasalahan demikian tentu tidak akan terjadi.
— On Tue, 9/9/08, korandigital <korandigital@gmail.com> wrote:

From: korandigital <korandigital@gmail.com>
Subject: [Koran-Digital] Serikat Rakyat Miskin Gugat BPS
To: koran-digital@googlegroups.com
Date: Tuesday, September 9, 2008, 8:13 AM


Serikat Rakyat Miskin Gugat BPS

Akibat data BPS, sebagian orang miskin tak mendapatkan bantuan pemerintah.
JAKARTA — Ketua Umum Serikat Rakyat Miskin Marlo Sitompul menggugat Badan Pusat Statistik karena dinilai salah menetapkan kriteria dan data jumlah keluarga miskin di Indonesia. Gugatan warga negara terhadap penyelenggara negara atau citizen law suit tersebut diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemarin.
BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin Indonesia per-Maret 2008 mencapai 34,96 juta orang. Jumlah ini turun 2,21 juta dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Mereka menilai data itu salah karena BPS tidak jujur dan tidak netral dalam menentukan tingkat kemiskinan rakyat.
BPS menetapkan 14 kriteria keluarga miskin, antara lain luas lantai bangunan tempat tinggalnya kurang dari 8 meter persegi per orang dan sumber penghasilan kepala keluarga di bawah Rp 600 ribu per bulan. Padahal, kata Habiburokhman, kuasa hukum Serikat Rakyat Miskin, Bank Dunia memakai patokan pendapatan per kapita per hari paling banyak US$ 2 atau sekitar Rp 18 ribu. "Kriteria BPS tidak tepat, rancu, sehingga angka riil jumlah orang miskin tertutupi," ujarnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengumumkan tingkat kemiskinan menurun dari 17,7 persen pada 2006 menjadi 15,4 persen.
Menurut Habiburokhman, akibat data tersebut, sebagian orang miskin dirugikan. "Mereka tidak mendapat fasilitas seperti Kredit Usaha Rakyat, beras untuk orang miskin, bantuan operasional sekolah, Jaminan Kesehatan Masyarakat, dan bantuan langsung tunai," ujarnya.
Dalam gugatannya, dia meminta majelis hakim memerintahkan BPS mengubah kriteria keluarga miskin. Menurut mereka, keluarga miskin adalah keluarga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan makan yang sehat, tidak bisa mencukupi kebutuhan pakaian yang layak, tidak punya tempat tinggal yang sehat, tidak dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pendidikan setidak-tidaknya sampai sekolah menengah atas.
Deputi Statistik Sosial BPS Arizal Ahnaf mengaku belum tahu gugatan tersebut. "Kami tunggu dulu, apa yang dipermasalahkan," kata Arizal. Kemarin BPS telah mengirimkan surat kepada Serikat Rakyat Miskin yang berisi penjelasan tentang kriteria dan bagaimana cara menghitung jumlah rakyat miskin. "Metode tersebut telah digunakan selama 20 tahun dan tidak bermasalah," katanya.
Data rakyat miskin yang dikeluarkan BPS, dia menambahkan, tidak berpengaruh terhadap komponen fasilitas atau bantuan yang diberikan pemerintah. Ia mencontohkan bantuan langsung tunai, yang jumlahnya dua kali lipat dibandingkan dengan data penduduk miskin BPS. Bantuan ini diberikan kepada 19,1 juta keluarga. Kalau rata-rata satu keluarga ada empat orang, jumlah orang yang mendapat bantuan langsung lebih dari 76 juta. "Jauh lebih besar dibanding angka orang miskin yang diumumkan BPS," kata Arizal. Sutarto | Reh Atemalem Susanti
8 September 2008

Nama Rakyat Kecil, Mainan Baru Para Pembesar Negeri

Sebelumnya, simak artikel yang saya ambil dari Tempo Interaktif.

LELAKI DARI DUNIA TAK NYATA

SEJUMLAH karyawan Grup Media mengenal pria itu sebagai teknisi pendingin ruangan. Ia biasa datang bila ada masalah pada alat pendingin gedung di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Asiong, begitu pria pertengahan 40-an tahun itu dikenal.

Nama aslinya Alfian Sanjaya. Ia lahir dan besar di Jambi. ”Saya ini orang kampung, hanya lulus sekolah menengah pertama,” katanya. Kenyataannya, Asiong bukan orang kampung biasa.

Alfian tercatat sebagai Komisaris PT Vista Bella Pratama, perusahaan pembeli hak tagih (cessie) pemerintah di PT Timor Putra Nasional. Membeli cessie dengan harga Rp 446 miliar dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 2003, Vista berhak atas piutang senilai hampir Rp 4,5 triliun di perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto itu.

Kepada Tempo, Alfian mengaku tak tahu apa-apa soal pembelian hak tagih Timor itu. ”Saya dulu cuma disuruh tanda tangan. Setelah itu, enggak tahu apa-apa,” ujarnya. ”Bahkan saya enggak tahu bila Anda tanya: apa itu cessie?”

Menurut sumber Tempo, nama Alfian sebenarnya hanya dipakai untuk kepentingan Surya Paloh, pemilik Grup Media, dalam transaksi hak tagih utang Timor. Ia memang dikenal dekat dengan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar itu. Ia antara lain biasa menyiapkan berbagai hal jika Surya berlibur ke Kaliage, pulau di kawasan Kepulauan Seribu milik sang pengusaha.

Awalnya adalah keputusan Surya Paloh mengikuti tender pembelian piutang Timor, yang dinilai sebagai ”barang bagus”. Politikus Partai Beringin itu meminta Taufik Surya Darma, 43 tahun, juga orang kepercayaannya, membentuk perusahaan guna keperluan ini. Dipakailah Vista Bella, perusahaan yang pada akta awal pendiriannya dibuat untuk perdagangan dan kontraktor umum, yang akhirnya memenangi tender.

Taufik cukup berpengalaman menjalankan bisnis Surya Paloh. Pada 1992, ia memimpin pembangunan Hotel Sheraton Media di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Ia juga berperan penting antara lain dalam pembangunan Hotel Tiara, Medan, dan gedung Metro TV di Jakarta.

Pembangunan Hotel Sheraton juga menjadi awal pertautan Alfian Sanjaya dengan Surya Paloh. Sumber Tempo memastikan, Alfian terlibat dalam pemasangan instalasi listrik, termasuk pemasangan alat penyejuk udara, di hotel bintang lima itu. Sejak itu, ia pelan-pelan masuk lingkaran dekat Surya Paloh, hingga akhirnya diminta menjadi Komisaris Vista Bella.

Alfian tidak menjawab tegas ketika dimintai konfirmasi soal hubungannya dengan Surya Paloh. ”Saya enggak mau banyak berkomentar, takut salah,” katanya. Ketika kemudian ditanyai mengapa bisa menjadi Komisaris Vista Bella, Alfian menjawab, ”Anda tahu sendirilah, zaman sekarang, mana ada yang riil?” Taufik Surya juga menolak menjelaskan kaitan Vista dengan Surya Paloh.

Surya Paloh belum bisa dimintai konfirmasi soal keterkaitannya dengan Vista Bella. Kepada Tempo, yang mengirim faksimile daftar pertanyaan konfirmasi ke kantornya, sekretaris Surya Paloh mengatakan bosnya sedang ke luar negeri. Dalam wawancara sebelumnya dengan Tempo, Presiden Komisaris PT Media Televisi Indonesia itu membantah memiliki kaitan dengan Vista Bella.

Sumber Tempo menuturkan, Komisi Pemberantasan Korupsi, yang terlibat dalam usaha pembatalan transaksi Vista Bella, telah meminta keterangan Taufik dan Alfian, juga seorang anggota staf Surya Paloh yang tahu soal jual-beli itu. Candra M. Hamzah, Wakil Ketua Komisi, membenarkan soal pemanggilan itu. ”Saya lupa siapa saja,” katanya, ”tapi kami memang memanggil berbagai pihak untuk dimintai keterangan.”

Budi Setyarso, Sahala Lumbanraja, Vennie Melyani

Bisa Anda bayangkan, seorang teknisi pendingin ruangan yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga SMP saja namanya bisa tercatat sebagai Komisaris PT. Bella Vista Pratama dengan transaksi pembelian cessie senilai Rp 446 miliar. Di artikel tersebut ditulis pula pernyataan Asiong yang hanya membubuhkan tanda tangan tanpa tahu apa yang sedang terjadi dengan namanya.

Peristiwa semacam ini bukan yang pertama kali terjadi di negara kita yang unik ini. Nama-nama wong cilik juga pernah terdaftar sebagai donatur kampanye partai di putaran Pemilu 2004 lalu. Pemulung, tukang becak, nama mereka terdaftar sebagai donatur dengan nominal donasi yang tidak kecil, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Bagimana bisa hal ini terjadi di sini?

Masyarakat bawah yang bersahabat dengan kemiskinan memang pihak yang paling rawan menjadi pelanduk ketika dua gajah bertarung. Mereka tidak tahu banyak mengenai pergolakan orang-orang besar di negeri ini. Mereka tidak tahu dunia perbankan, strategi politik, apalagi cessie. Yang jadi pemikiran mereka bukan bagaimana mendapatkan dana yang cukup besar untuk lancarnya kampanye Pemilu, tapi bagaimana mendapatkan sesuap nasi untuk sekedar mengganjal perut yang lapar. Tak harus enak, yang penting terisi.

Kita tak perlu membahas, mengapa gajah-gajah itu tega melakukan hal ini pada pelanduk, bisa jadi mereka adalah gajah dengan strategi kancil yang selalu dikisahkan mencuri timun, tanpa ada kisah pertobatan atau pengakuan dosa. Yang perlu menjadi perhatian kita adalah betapa kemiskinan menimbulkan multiply effect di beberapa aspek kehidupan. Bukan salah mereka untuk tidak peduli, atau tepatnya kurang perhatian, terhadap permasalahan politik apalagi bisnis mikro. Bukan kehendak mereka juga untuk menjadi miskin dan lapar.

Memang tak banyak yang bisa kita perbuat atas situasi ini. Tapi kita tetap tidak bisa diam berpangku tangan, membiarkan mereka menjadi bahan lelucon orang besar. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini?