20:25 20/02/2008
Sebelum mengerjakan tugas Praktikum Statistika, saya ingin berbagi satu pelajaran berharga yang saya dapat hari ini tentang ‘Mr/s.Gadget’.
Sejak SD (ketika disk masih segedhe muka dan CPU masih tertindas di kaki monitor CRT)
, saya sudah dikenalkan dengan dunia gadget, baik dalam komputer dan HP, oleh Ibu. Kalau tidak salah, HP Ibu saat itu Nokia 3310 atau berapa itu yang layar warna (dua warna thok maksude) dan baru ada yang namanya eS eM eS. Saya masih ingat betul nomornya, 08122967004 (coba aja miskol, lha wong udah bangkotan. He he he…)
. Emang bawaan lahir, saya sering usil dengan setiap gadget yang saya pegang
. Bahkan pernah HP Ibu itu saya ubah setting bahasanya ke Bahasa Mandarin. Mungkin kedengarannya biasa saja mengubah setting bahasanya, tapi itu kali pertama saya tahu HP, sehingga wajar saja kalau saya sempat berkeringat dingin gara-gara tidak bisa mengembalikan setting bahasa seperti semula.
Di SMP saya semakin akrab dengan dunia gadget. Bedanya, yang saya geluti saat itu lebih primitif, yaitu mesin ketik segedhe meja
. Saat pelajaran Mengetik, sering jari kelingking saya keseleo karena tutsnya yang ‘tidak manusiawi’ atau lecet karena tuts yang lepas meninggalkan besi tipis
. Yah, tapi pengorbanan saya terbayar lumayan karena setelah beberapa kali ujian kecepatan mengetik sepuluh jari, saya selalu bisa jadi yang tercepat dengan prosentase missed type terkecil.
Masuk SMA, saya kembali ke komputer, bukan mesin ketik, dan saya pun mulai ‘pegang’ HP sendiri. Waktu itu HP saya Samsung layar warna (dua warna juga: biru hitam) dan masih berantena
. Awal masuk SMA, guru TIK saya lumayan kejam kalau bikin soal. Bayangkan saja, buku bilang materinya Operating System, tapi yang keluar di ujian: Terbuat dari apakah floppy disk? Benar-benar menuntut pengetahuan umum. Sempat shock juga ketika melihat raport muncul angka 98 sedang teman-teman riang gembira dengan nilai 70. Di SMA juga sedikit primitif karena belum ada lab komputer, saat itu. Secara tertulis memang ada, persis di samping kelas saya. Tapi bagi kami, ruangan itu adalah Gudang Hardware, bukan lab komputer karena semuanya serba merakit sendiri dengan hardware seadanya. Hardware-hardware itu kami dapat dari berbagai penjuru, bahkan limbah Korea pun kami gunakan. Jadi ya wajar saja kalau semua komputer di ruangan itu keyboard-nya pakai huruf Korea. Namanya saja Gudang Hardware, komputer-komputernya pun mayoritas ‘telanjang’
, tidak ber-casing, karena setiap kali ada eror langsung bongkar pasang. Saya masih ingat betul, ketika saya dan beberapa teman-teman TOKI (semuanya laki-laki kecuali saya) diminta membuat perintah coding dalam pascal. Satu per satu di antara mereka berguguran meninggalkan Gudang Hardware hingga yang tersisa tinggal saya, Tazul, dan Gigih. Karena tidak kalah bosan dengan teman-teman yang sudah gugur, kami membuat perintah untuk menghapus semua tampilan termasuk start menu. Selanjutnya? Komputer diperkosa lalu kami ganti hardisknya dengan hardisk administrator sebab kami lupa kode perintah mengembalikan start menu seperti semula.
Sekarang sih enak, sudah ada lab komputer di depan kelas saya itu dengan AC dari sana-sini, berkarpet, mulai dari CPU sampai monitor bisa dibilang sudah canggih, apalagi setelah dilengkapi hotspot.
Tapi bukan canggih atau tidaknya suatu gadget yang ingin saya sampaikan di sini
, melainkan tentang keangkuhan yang sering kali muncul ketika kita merasa begitu merajai gadget
. Biasanya penyakit ini menyerang ‘penduduk’ usia remaja hingga dewasa
. Mereka ‘iseng-iseng’ menghapus data, membuat atau menyebarkan virus, menjadi hacker, semua dalam rangka ‘iseng-iseng’. Saat orang lain panas dingin kelimpungan gara-gara ulah kita, pasti ada suara ketawa cekikikan di belakang (suara kita tuh!) karena merasa menang. Saya akui, saya juga mengalami fase tersebut dan masih berpikiran bahwa saya hebat, I am a Ms.Gadget
, ketika saya berhasil merusak suatu sistem atau jaringan yang begitu sempurna dengan satu klik.
Pemikiran itu baru saya sadari hari ini.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, ada dua teman yang menjadi obyek cerita saya kali ini yaitu si Ali dan si Banu. Banu, laki-laki asal Jakarte ini sekilas sangat biasa. Pakaian casual, badan juga terbilang kurus, tidak ada stiker NOS di sepeda motor, amat sangat biasa
. Saat dia mengerjakan Praktikum Statistika di aula asrama, ia letakkan HPnya di meja lalu menyalakan laptopnya yang juga sangat biasa, masih AMD. Wow! Dopod
! Seorang biasa serupa Banu tidak pernah memunculkan handphone Dopodnya. Kerennya, dia mau meminjamkan Dopodnya pada saya untuk FSan. He he he, biasa, orang Asia Tenggara, bandwith-nya cuma buat friendster. Banu juga mengajari saya cara menggunakan Dopod dengan model slider sekaligus touch screen itu. Saya benar-benar merasa jadi wong ndeso, dan saya tidak pernah merasa sendeso ini
.
Beda lagi dengan Ali. Pakaian selalu necis, gaya top abiz, sering keliatan nyetir mobil orang, jauh berbeda dari Banu
. Lepas dari kenyataan bahwa Ali seorang perokok atau tidak (I hate smoker so much!), sekilas orang pasti menilai Ali lebih keren dari Banu. Apalagi dengan keberaniannya mengeluarkan kata-kata kasar, semakin sempurnalah ke-keren-annya
.
Sore tadi, dengan terpaksa karena tugas PrakStat, saya harus membawa notebook saya ke kampus. Saya buka di salah satu taman di sana. Ali langsung mengambil alih notebook saya (bahkan saya tidak diijinkan melihat apa yang dia lakukan terhadap laptop saya) membuka suatu jendela yang menampilkan detil notebook ini
.
"Ya ampun…masih 250an? Lelet banget nih?! Ya ampun…Vista? Ini kan produk gagalnya Windows?!…" dan ‘ya ampun ya ampun’ lainnya. Ali masih berkutat dengan flashdisk yang disuntikkan ke notebook saya sembari bercerita tentang BF yang disimpan di flasdisknya, sistem-sistem keren yang dia tau, dan sebagainya dan lain-lain.
Kemudian setelah selesai urusan dengan Ali, notebook kembali di bawah kontrol saya. Banu datang.
"Tik, gue ngopi file dari Ali tadi dunkz," kata Banu
.
Setelah saya persilahkan, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dibungkus kulit dengan tiga port USB. Wow! External Hardisk
! Banu juga tidak pernah cerita atau komentar tentang itu, tiba-tiba saja keluar External Hardisk sekeren Seagate.
"Nu! Seagatenya Free Agent, neh?" tanya saya setengah percaya. Dengan mata yang masih terkonsentrasi di layar monitor dia hanya mengiyakan pelan.
"Wuih, keren! Eh, sekalian dunkz, notebookku belum ada antivirusnya. So, minta antivirusnya dunkz, Nu…"
No talk but action, dia copykan antivirus di notebook saya.
"Tapi sorry nih, aku lupa expirednya kapan. Coba install ulang aja,"
Ow eM Gee. Cool banget, makhluk yang satu ini
. Dia tidak pernah mengomentari gadget saya yang tertinggal jauh, tapi dia mau membantu saya beberapa langkah lebih maju.
Salut untuk Banu. Saya merasa wajib mengambil 6 SKS di mata kuliahnya, andai ia seorang dosen dan membuka kelas ‘Be Low Profile as Mr/s.Gadget’ yang menjelaskan bahwa Mr/s.Gadget yang mau browsing di selasar rektorat, tekun belajar otodidak, dan tetep low profile jauh lebih keren daripada Mr/s.Gadget yang sibuk komentar sana-sini sementara ia tidak membantu memecahkan masalah. Banu, ingatkan saya, saya berhutang banyak kepada kamu.

setuju, itu yang dia lakukan kepada saya juga…saya tulis komen ini saat saya sedang bersamanya di emperan rektorat, tapi dia lagi ke mesjid….ssssttt ssst ssst..
Comment by me.... — 6 March 2008 @ 7:16 am
nice and clear blog… respect !
Comment by marmotji — 13 September 2008 @ 1:42 am
Top dah….
Comment by Wahyu — 18 February 2009 @ 4:17 am