Artikel ini saya ketik ulang dari teks Pak SN. Ratmana ketika peluncuran buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis tanpa edit. Tujuannya? 1. Bagi-bagi ilmu; 2. Penghargaan tak ternilai saya untuk beliau.![]()
Menuju “Pribadi Tulis” *)
Oleh SN. Ratmana
Yang saya maksud “pribadi tulis” adalah unsur terkecil dari masyarakat tulis (writing society). Sebutan penulis atau pengarang umumnya ditujuka bagi orang yang sudah berprestasi dan memiliki karya yang memenuhi standar. Sedangkan “pribadi tulis” bisa berlaku bagi siapa saja yang menjadikan menulis sebagai kebiasaan dalam mencurahkan pikiran dan perasaannya serta mendokumentasikannya.
Pribadi tulis bisa lahir karena faktor pembawaan, memang ‘dari sononya’ berpotensi untuk jadi penulis. Namun bisa juga karena dibentuk atau diarahkan. Yang terang writing society adalah tahap lanjutan dari reading society. Demikian pula pribadi tulis adalah tahap lanjutan dari pribadi baca. Jadi pada umumnya pribadi tulis merangkap pribadi baca, alas kutu buku. Dengan demikian mengembangkan minat baca merupakan langkah awal terciptanya pribadi tulis.
Bagi orang awam dan masyarakat dengar (listening society) membaca dianggap sebagai pekerjaan perintang waktu saja. Sinambi kalaning nganggur kata orang Jawa. Tidak mengherankan bila orang semacam itu baru mau membaca sesudah tidak ada pekerjaan atau kegiatan lain yang “lebih bermanfaat”. Atau membaca dianggap sebagai kegiatan yang kelewat berat karena –antara lain- harus memusatkan perhatian pada apa yang dibaca. Bandingkan misalnya dengan mendengar atau menonton yang bisa dilakukan lebih santai, malah bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain bahkan sambil mengantuk.
Kejadian nyata atau fakta yang diulas dan ditelaah pada aspek-aspeknya, bisa melahirkan tulisan yang digolongkan pada nonfiksi. Tulisan semacam itu dicerna dan dikonsumsi oleh otak kita sehingga menambah pengetahuan, memperluaskan wawasan dan mencerdaskan otak. Sebagai imbangannya ada tulisan lain yang oleh penulisnya dimaksud untuk diresapi oleh pembaca sehingga bisa memperkaya batin dan perasaannya. Apa yang terjadi bisa fakta, tetapi bisa fakta melainkan rekaan. Ada semacam pesan yang oleh si penulis secara aluriah ingin dismapaikan kepada pembaca. Itulah tulisan fiksi yang lazim disebut juga karya sastra.
Penulis fiksi umumnya mentransformasikan pengalaman batin dirinya kepada pembaca. Sedangkan pembaca yang dihadapinya adalah manusia yang tidak hanya memiliki otak dan pikiran saja, melainkan juga perasaan, nurani, dan bathin. Karenanya membaca fiksi orang bisa terharu, geram, geli, dan bahkan mencucurkan air mata. Hal itu tidak otomatis fiksi mengabaikan logika maupun fakta.
Karena sasaran kedua jenis tulisan itu tidak sama, maka bis dipahami bila latar belakang yang melahirkannya pun berbeda. Faktor bathiniyah pada tulisan non fiksi tidak sekental penulisan fiksi. Ilham atau inspirasi pada penulisan fiksi bisa digolongkan pada bisik hati yang berbau metafisis. Yang terang ilham penulisan sastra sangat personal dan unik. Itulah sebabnya fiksi tidak bisa lahir atas dasar bujukan, perintah orang lain, apalagi dilakukan secara massal.
Karena sastra sebagai perwujudan fiksi selalu bersifat menusiawi. Padahal nilai-nilai kemanusiaan bersifat abadi. Jadi tidak mengherankan bila karya sastra yang berbobot, tidak hanya monumental tetapi juga abadi. Ramayana, Mahabarata, dan karya-karya Yunani kuno yang berumur ribuan tahun masih relevan dengan kehidupan masa kini. Tulisan Shakespeare, Gide, Tolstoy, dan lain-lain, meski sudah ratusan tahun, masih bisa dinikmati oleh pembaca sekarang. Contoh lain yang sederhana terjadi pada contoh karangan saya yang berjudul Tojo. Untuk pertama kalinya cerpen itu dimuat atau disiarkan oleh Harian KOMPAS, 27 September 1977. Dua puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, cerpen itu disiarkan lagi dalam sebuah antologi cerpennya yang diterbitkan oleh Penerbit KOMPAS padahal fakta yang mengilhami cerpen itu sudah lama dilupakan orang. Para pelakunya pun sudah banyak yang meninggal. Harap maklum, kaean peristiwa yang dituturkan dalam cerpen itu terjadi dalam awal Oktober 1945, 60 tahun yang lalu. Karena Tojo dihimpun dalam sebuah buku, bukan mustahil masih terus akan dibaca pada generasi yang akan datang. Mengapa bisa sampai begitu? Karena cerpen itu menyentuh sisi kehidupan yang manusiawi.
Dari sisi saya telah menunjukkan kelebihan karya fiksi dibandingkan non fiksi. Tentu saja jangan diartikan bahwa karya non fiksi lebih rendah mutu maupun manfaatnya dibandingkan fiksi. Sikap paling adil dicontohkan Akademi Swedia dalam memberi Hadiah Nobel kepada orang-orang berprestasi luar biasa. Penghargaan paling bergengsi itu diberikan kepada orang penemu di bidan sains dan teknologi, penggerak perdamaian, dan penulis sastra.
Pribadi baca dapat diapstikan pernah mengagumi atau terpana oleh kehebatan karya seseorang. Rasa-rasanya tidak mungkin seseorang sampai menjadi “kutu buku” kalau belum pernah jatuh cintah pada sebuah atau bahkan beberapa buah buku. Khusus dalam hal sastra, pembaca yang pernah “kesengsem” oleh sebuah bacaan, biasanya tertantang untuk terampil, minimum mencoba tampil, sebagai penulis. Sebagai orang yang berkepribadian maka pembaca yang tertantang itu biasanya berusaha untuk tidak sepenuhnya di dalam karya sastra yang pernah dikaguminya. Dia pun bisanya berusaha untuk tampil khas.
Pada saat pribadi baca melangkah ke arah pribadi tulis, dapat dipastikan tersandung-sandung aneka kendala. Salah satu kendala itu adalah masalah bahasa. Yang dimaksud bahasa bukanlah semata-mata penguasaan kosakata, atau vocabulary saja, melainkan lebih-lebih ketrampilan “bertutur” secara runtut dan logis. Sebagaimana kita ketahui seorang pembicara berhadapan dengan audiens bisa dibantu oleh gerak tubuh, isyarat, dan bahkan mimik. Sehingga kekuranglengkapan bahasa lisannya tertutup oleh bahasa lainnya. Tidak demikian halnya dengan penulis. Dia harus sepenuhnya bersandar pada kemampuannya berbahasa tulis. Karenanya bahasa tulisnya yang berantakan, tidak kenal aturan dan logika, bisa membuat bingung pembaca. Jadi sebelum mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan seorang pribadi tulis harus lebih dulu menatanya. Kebiasaan menulis buku harian atau catatan sederhana lainnya semacam itu sangat besar manfaatnya bagi tumbuhnya ketrampilan menata pikiran sebelum diwujudkan dalam bentuk tulisan.
Perkembangan media audiovisual seperti televisi dna sejenisnya yang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat, ternyata punya dampak negatif terhadap pembentukan pribadi baca maupun pribadi tulis. Orang bisa asyik berjam-jam lamanya di depan pesawat televisi tanpa harus memeras orang apalagi tenaga. Tanpa bermaksud mengurangi makna televisi sebagai media komunikasi, saya perlu menyampaikan bahwa buku sebenarnya tidak kalah mengasyikannya dibandingkan media itu. Mengapa? Otak manusia, sebagai otak paling mulia di muka bumi, ternyata tidak hanya mapu memecahkan persoalan, menyimpan memori yang luar biasa serta mengatur metabolisme tubuh saja, tetapi juga memiliki imajinasi dan asosiasi yang tidak ada pada otak binatang.
Informasi yang masuk ke otak kita tentang sesuatu daerah yang belum pernha kita lihat misalnya, langsung saja ditanggapi oleh otak kita dengan “bayangan” atau “gambaran” tentang daerah itu. Bila pada suat saat kita dapat datang ke sana, bisa terjadi “bayangan” dan “gambaran” yang pernah bermain di otak kita jauh berbeda dengan kenyataan yang kita saksikan. Kerna itu ketika kita membaca novel atau cerpen misalnya, maka yang bermain di otak kita bukan hanya kata-kata, pengertian-pengertian saja, melainkan juga imajinasi tentang peristiwa yang kita baca. Tokoh-tokohnya, dari tampang sampai tabiatnya, juga lokasi dan alam sekitarnya semuanya membayang. Manakala sebagai pembaca kita bisa larut di dalam apa yang kita baca, maka yang tergambar dalam imajinasi kita serba memikat, menarik, dan tentu saja mengasyikkan.
Novel-novel yang sukses di pasaran sering dibuat film. Itu artinya sang sutradara berupaya memvisual imajinasinya. Ada yang berhasil, tetapi lebih banyak yang gagal dalam arti sebagai tontonan menjadi lebih jelek daripada sebagai bacaan. Contoh film yang justru menjatuhkan martabat sebuah novel yang bagus adalah film Kafir yang mengadaptasi novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.
Buku berisi karangan orang lain saja bisa menimbulkan keasyikan dan kenikmatan bagi pembaca, apalagi kalau buku itu karangan kita sendiri. Untuk bisa menikmati karangan orang lain diperlukan adanya semacam kecocokan transaksi seperti yang berlaku dalam dunia bisnis. Sebagai contoh beberapa orang pembaca menilai novel saya, Ketika Tembok Runtuh sebagai novel yang jelek. Itu berarti saya telah gagal mentransformasikan pikiran dan emosi saya selama menulis novel itu kepada mereka. Atau “harga jual” saya tidak cocok dengan pendekatan mereak. Sebaliknya pihak penerbit – sebagaimana tercerpennya pada kata pengantarnya – bisa menangkap pas apa saja yang bergejolak dalam bathin saja. Karenanya berani menerbitkannya. Meskipun beresik mengalami kerugian secara materi. Alhamdulillah bisa mengalami cetak ulang.
Bagi diri si penulis terbitnya karangannya adalah ibarat kemenangan dalam sebuah perjuangan. Ya nikmat, ya bangga disertai rasa syukur yang mendalam. Sebab, apa-apa yang semula hanya ada di alam imajinasi bisa terwujud, untuk kemudian semua pengalaman bathinnya ditularkan kepada orang lain bahkan bisa mengarungi arus waktu yang tak terbatas. Alangkah ajaibnya!
*) : Disampaikan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis (Penerbit Wacana Bangsa) karya SN. Ratmana yang diadakan oleh Tegal Post Production 6 Maret 2005 di Pendopo Ki Gede Sebayu, Tegal
