Artikel ini saya tulis dalam rangka menunggu diputarnya film Ayat Ayat Cinta di bioskop Surabaya.
Penantian ini bukan karena saya penasaran dengan ceritanya, lha wong bukunya sudah booming lebih dulu. Saya menanti diputarnya film tersebut karena ingin memastikan bahwa film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman Elshirazy ini tidak akan mengecewakan saya untuk kedua kalinya.
Koq kedua kalinya?
Kekecewaan pertama adalah sebuah kekecewaan yang sering dialami oleh penggemar novel. Ketika beredar kabar bahwa novel yang pernah kita baca akan difilmkan, pasti yang pertama muncul adalah rasa penasaran
. Apakah tokoh-tokohnya seperti yang kita imajinasikan saat membaca novelnya? Apakah settingnya seindah yang digambarkan dalam novel? Apakah detil yang ditampilkan betul-betul mewakili sebagaimana diuraikan si penulis? Apakah jalan ceritanya akan selembut alur dari penulis? Intinya, apakah filmnya akan lebih baik, sama, atau lebih buruk dari novelnya?
Selama ini, saya selalu kecewa karena jawaban yang saya peroleh adalah bahwa film yang diangkat dari sebuah novel selalu jauh lebih buruk dari novel itu sendiri.![]()
Kekecewaan yang biasanya muncul pertama kali adalah ketika kita melihat tokoh-tokoh dalam film tersebut tidak seperti yang tergambar dalam imajinasi kita saat membaca novelnya. Dealova, misalnya. Saat membaca novel teenlit Dealova, imajinasi saya meng-create sosok Kara sebagai seorang perempuan yang enerjik (karena dia suka dengan basket) dan cantik (karena berkali-kali kakaknya memujinya dan ia diperebutkan lebih dari satu laki-laki). Ketika melihat filmnya… Ow eM Gee! It’s not her
! Itu bukan Kara yang saya bayangkan. Semestinya tingkahnya lebih dewasa namun tetap sporty. Film Safe Harbour yang diangkat dari novel Danielle Steel pun melakukan kesalahan yang sama. Terutama pada tokoh Matt. Tokoh Matt yang ada pada film tersebut lebih gemuk dan lebih tinggi dari yang saya bayangkan.
Sebenarnya, saya kecewa atas terpilihnya Fedi Nuril sebagai tokoh Fahri bin Abdillah dan Riyanti Cartwright sebagai Aisha. Fahri jadi terlalu lembek
, tidak sekeren imajinasi saya. Apalagi dipasangkan dengan Ryanti, sense Mesirnya jadi ilang
! Yang saya khawatirkan, beberapa media menyebutkan bahwa film tersebut nantinya lebih menonjolkan cerita cintanya daripada norma-norma yang justru membuat Ayat-Ayat Cinta lebih punya greget. Maksud saya begini, cerita cinta itu biasa. Sangat biasa. Si A cinta si B, si C cinta si A, semua itu sangat biasa. Namun Habibburahman sukses membuatnya jadi luar biasa ketika cinta itu masih melekat dengan norma agama dan norma sosial yang berlaku di daerahnya. Ketika norma itu dikaburkan dan hanya cinta yang ditonjolkan, aduh…mending nonton sinetron aja deh! Biar nanti layar TVnya saya selimuti kain hitam secara horizontal supaya semua pemainnya terlihat bercadar. He..he… Tapi semoga saja apa yang dikatakan orang-orang itu tidak benar. Dengan kata lain, semoga film Ayat-Ayat Cinta tetep punya greget dibanding novelnya.
Bicara tentang tokoh, ada satu film yang tidak membuat saya kecewa yaitu film Jomblo. Ketika kelas satu SMA saya membaca novel tersebut. Habiz, kovernya menarik banget sih, ditambah lagi komentar Sarah Sechan yang sukses membuat batin saya berkata, "Wah, bakal seru nih buku!". Adhitya Mulya sukses membuat saya terpingkal-pingkal dengan gaya bahasanya. Ya, walau agak jorok-jorok gimana…gitu, apalagi bagi saya yang saat itu masih cinta monyet-monyetan
. Sampai sekarang, imajinasi yang ada dalam pikiran saya tentang tokoh Agus adalah seorang pemuda udik alias ndeso dengan segala keluguannya. Imajinasi saya juga melukiskan Agus berwajah ndeso. Suatu hari, saya membaca majalah remaja yang mewawancarai Ringgo sebagai pemeran tokoh Agus. Melihat foto Agus plus pengalamannya sebagai penyiar radio, saya berkomentar, "Walau tampangnya udah culun tapi orang ini terlalu keren jadi si Agus!"
. Tak lama, film Jomblo pun diputar di bioskop. Wow! Akting Ringgo di film tersebut lebih sempurna daripada yang diputar di imajinasi saya. Lebih udik, lebih culun, pokoknya lebih deh! Two thumbs up buat bagian casting
.
Kekecewaan yang biasa muncul setelah tokoh adalah cerita yang tidak utuh. Dalam novel Dealova, terdapat cerita tentang liburan di pantai
. Pada halaman-halaman tersebut imajinasi saya menangkap indahnya pantai dan momen-momen di sana. Apalagi saya memang sangat menggemari suasana pantai dengan setting sunset. Sayang, hal tersebut tidak ada dalam versi filmnya. Sedikit berbeda dengan Dealova, alur dalam film Jomblo memang lebih rapi. Tapi detil dalam novel yang mampu mengocok perut sulit didapat pada versi film. Bagaimana Agus membandingkan fisik gang-nya dengan fisik lulusan SMA Taruna Nusantara, bagaimana Adhitya Mulya menuliskan detil ‘aktivitas’ yang dilakukan Agus saat mengapel Rita dalam bentuk tabel yang justru membuat adegan panjang itu simpel namun tetap kocak, bagaimana perjuangan mencari Durex dari warung satu ke warung lain, dan sebagainya. Runtutan cerita yang ada pada film Jomblo tak sekocak novelnya.
Dalam artikel ini saya menggunakan Dealova dan Jomblo sebagai sampelnya karena memang dua novel tersebut yang cukup berkesan bagi saya. Saya tidak terlalu banyak menyinggung tentang Danielle Steel’s Safe Harbour karena memang novel roman dewasa seperti Danielle Steel kurang cocok untuk difilmkan. Apabila novel semacam itu nekat difilmkan, justru terasa datar dan sama sekali tidak mengena. Karena itu, saya berharap film Ayat-Ayat Cinta tidak akan mengecewakan.
