…dedicated to Christiani……….
Namanya Christiani, gadis Chinese kelahiran 29 April 1989. Cantik, manis, ulet, dan ternyata sangat perhatian.
Mostly perfect…
Tapi Tuhan mengakhiri hidupnya tepat 44 hari setelah sang Ayah dipanggil atau tepat 28 hari sebelum ia merayakan sweet seventeennya…
Hari itu, Sabtu siang, wajah sumringah terlukis di SMAku. Secara, hari itu kami pulang lebih cepat karena hari Senin kami akan menghadapi ujian. Rencananya, aku, Eky dan Ani (begitu kami memanggilnya) hendak mem-fotokopi LKS Kimia teman-teman dari kelas reguler. Tapi…
Seketika, sebuah pesan singkat dikirim oleh adik kelasku. Pesan singkat yang ditujukan padaku itu memintaku untuk membantu mereka penerbitan majalah dinding. Teringat sumpah akan tanggung jawabku sebagai ketua mading, rencana fotokopi ku tunda.
Karena penundaan tersebut, Ani pulang bersama Bayu, kekasihnya saat itu.
15 menit kemudian…
Aku hendak membimbing adik-adikku menempelkan artikel. Di koridor sekitar 2 meter sebelum papan mading, aku bertemu Ani.
"Lho? Ni? Koq masih di sini?" sapaku.
"Iya, aku masih pengen di sini," jawabnya dengan pandangan hampa.
Tak ingin mengganggunya, aku berlalu menuju papan mading. Belum ada lima artikel ku pasang, dua orang siswi kelas sepuluh berbisik. Katanya, ada kawan mereka yang meninggal.
Cuek aku dengan bisik-bisik itu karena aku tak terlalu akrab dengan kelas sepuluh selain kelas immersi dan adik-adik Mading.
Artikel hampir selesai ku pasang. Aku kembali ke ruang mading memastikan tak ada artikel yang tertinggal di sana. Kemudian aku kembali ke papan mading. Kau tahu apa yang ku temukan?
Teman-temanku menangis histeris di depan gerbang SMA.
"Tika, Ani udah nggak ada…." kata mereka tersedu.
Percaya? Tentu saja tidak. Spontan ku hubungi HPnya. Nada sambung Kenangan Terindah dari Samsons terdengar. Sepintas aku teringat ceritanya tentang nada sambung pemberian Bayu.
"Halo?" seorang wanita yang ternyata perawat rumah sakit menjawab teleponku. Ia katakan bahwa empunya HP sedang di rumah sakit dan belum ada yang menjenguknya. Ketika ku tanya keadaannya, sang perawat menjawab,
"Sudah almarhumah, Mbak.."
Kau tau yang terjadi???
Ani pulang dengan Bayu. Di daerah Kajen yang jalannya memnyempit, Bayu mendahului sebuah truk. Tanpa Bayu sadari, Ani terjatuh dari motornya ketika mereka melintas di atas aspal labil yang berupa cekungan. Tak jauh dari tempat Ani jatuh, orang-orang meneriakki Bayu.
"Koq mereka neriakin kita, Ni?" tanya Bayu. Barulah ia sadari, pacar pertamanya tak lagi di sisi. Ia berbalik arah, kembali ke jalan semula. Terkejutlah ia tatkala menemukan raga kekasihnya ditutup daun pisang dengan darah segar di sekitarnya. Kepalanya hancur tak berbentuk (maaf) karena terlindas ban truk.
Kini Ani bersemayam di balik bongpay tak jauh dari rumahku. Mau tak mau, aku melewatinya setiap hari. Mau tak mau, senyumnya masih berbekas di ingatanku…

sesuatu yang bernafas pasti mati..
teringat juga kisah tragis yang menimpa bulik (adik ibuku).
4 Januari 2007 beliau sedang punya hajat menikahkan putra sulungnya. Alhamdulillah, acara mantenan berlangsung tanpa ada suatu halangan apapun. sampai resepsi selesai. jam 10 malam tersisa keluarga besar yang sedang asyik bersilaturahmi, ngobrol-ngobrol. saat itu, bulik ke dapur sebentar untuk meminta budhe-ku membuatkan nasi goreng untuk orang-orang yang didepan. “mbakyu, segone digoren ae ya, kanggo sing ning ngarep aku tak leren sedhelok” (mbak, nasinya digoreng saja ya, saya mau istirahat dulu sebentar).
kemudian beliau ke kamar untuk istirahat. sekitar sepuluh menit kemudian, paklik cari selimut karena merasa kasihan pada istrinya yang sedang tidur tanpa selimut. tapi yang terjadi, beliau melihat wajah pucat yang masih hangat dari istri tercintanya itu.
entah karena sudah ada ikatan batin atau sebab lain, dengan mata berkaca-kaca paklik malah bertanya pada bapakku perihal kondisi bulik. dan setelah bapakku melihat ke kamar dan memastikan keadaan sesungguhnya seketika itu juga tangis meledak dari keluarga besar kami yang seharusnya adalah tangis kebahagiaan karena bertambahnya anggota keluarga baru, tapi justru tangis musibah yang muncul.
itulah misteri Ilahi.
dari kejadian yang dialami keluargaku, kejadian yang kamu alami terhadap temanmu, juga kejadian-kejadian tragis yang lain merupakan sebuah pertanda bagi yang masih hidup bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu dan itu menjadi Hak Sang Pengcipta. sementara yang hidup hanya bisa mempersiapkan bagaimana kita nanti harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia tanpa tahu kapan kematian akan menjemput.
wallahu’alam..
Comment by onnosz — 7 November 2007 @ 7:30 am
aq juga ingin menambahkan sedikit dari pengalamanku. Sebagai orang yang diberi sedikit anugerah untuk menyalurkan berkat penyembuhan, aku mengusahakan sebaik mungkin untuk dapat membantu meringankan beban derita mereka. Ada yang sembuh total, namun ada juga yang “berhasil” dan berkumpul kembali kepada Allah Sang Pencipta. Sebaik-baiknya berusaha toh, aku tidak punya kuasa atas hidup mereka. Kadang pahit dan begitu pilu menyaksikan mereka telah meninggalkan dunia ini. Tapi apa boleh buat, LIFE MUST GO ON. Aku tetap menjalankan profesiku tanpa pamrih apapun, karena semua berasal dari-Nya. Yang aku bangga bahwa semua hal telah aku usahakan dengan baik. Kehilangan adalah bagian dari hidup juga.
Comment by paul — 15 November 2007 @ 10:33 am
tikkk,,,,kamu buat aku merinding dengan ceritamu….sukses ya,,,
created:asrama its a-207
Comment by fairy-tekla — 14 April 2008 @ 9:53 am