Sebagai seorang Mahasiswa Baru yang dianggap belum tahu kerasnya dunia perguruan tinggi, hampir di setiap acara ada sesi renungan. Diawali ESQ, berlanjut ke acara-acara lainnya.
Entah sudah berapa kali renungan itu saya ikuti hingga tuntas. Tapi hasilnya nihil. Di setiap renungan, respon saya sama : TIDUR.
Sungguh, itu bukan kehendak saya. Saya ingin menangis tersedu-sedu bahkan sampai mata bengkak atau hidung ikut nangis, tapi koq nggak bisa ya? ESQ yang sehari bisa sampai empat kali renungan juga sama saja. Renungan terakhir yang membawa saya ke alam mimpi adalah saat PRM ITS.
ESQ yang kemarin diadakan ITS di Graha ITS bukanlah yang pertama bagi saya. Ketika masih kelas dua SMA, saya juga mengikuti kegiatan yang serupa. Ketika puncaknya tiba, lampu dipadamkan, sound efect dinyalakan, puisi imajinatif dibacakan, dan kami diminta menutup mata kami untuk membayangkan apa yang instruktur katakan. Saya mengikuti apa yang instruktur itu bilang. Tutup mata, membayangkan. Berimajinasi.
Tapi imajinasi saya kebablasan!! Bahkan jadi mimpi indah tak terlupakan.
Suatu ketika, instruktur meminta kami membayangkan :
Sepulang dari sekolah, rumah kami dipenuhi orang-orang berbaju hitam-hitam. Mungkin teman-teman sudah membayangkan ada yang berduka, tapi tidak dengan saya. Dengan imajinasi konyol ini, saya bergumam ,"Wah, Black Mat kumpul lagi neh!". Ya, Black Mat, sebuah gangster di daerah saya yang dikenal selalu berpakaian hitam-hitam dengan tata rias gothic.
Kemudian instruktur mengatakan bahwa ada bendera kuning melambai di sana. Jelaslah asumsi teman-teman tentang duka cita. Tapi tidak dengan saya. Saya malah bertanya-tanya, "Lho? Benderanya Black Mat koq ganti? Kayaknya hitam skeleton putih deh? Ada apa ini ada apa? (Ala Jelang Siang)"
Di titik itulah kemudian cerita mengalir lewat mimpi saya. Sementara teman-teman lain menangis bahkan histeris, saya sedang bermimpi sedang ada reuni Black Mat di rumah saya. Saya bertemu Noe, Harry, dan teman-teman lain yang pernah saya kenal saat masih SMP.
Kemudian saya lupa kelanjutannya, seingat saya, saya terbangun karena lampu dinyalakan. Kata teman di samping saya, sudah waktunya sholat Ashar.
Di tempat wudhu, semua mata kami merah. Bedanya, merah mereka karena menangis, saya karena bangun tidur. Swear deh, badan malah jadi fresh banget!
Astaghfirullah hal adzim…. Yang seperti ini jangan ditiru ya!
Saya tidak jarang bermuhasabah atau merenung. Tapi saya tidak bisa merenung atas komando orang lain dengan membayangkan-membayangkan. Terkadang, bayangan yang mereka ciptakan tidak seseram yang saya alami. Mereka mengimajinasikan kalau masa remaja kita tidak kita lalui dengan ayah kita. Serem? Enggak! Sejak SMP saya hanya bertemu Ayah saya kurang lebih setiap dua atau satu bulan sekali hingga saya SMA. Sekarang saya hampir tiap minggu bertemu Ayah, tapi tidak pernah bertemu Ibu.
Imajinasi lain misalnya, ketika kita membayangkan teman yang kita musuhi tiba-tiba meninggal tanpa sempat kita meminta maaf padanya. Serem? Enggak! Ketika kelas dua SMA, teman dekat saya meninggal dengan kondisi yang mengenaskan. Dia jatuh dari motor pacarnya tanpa disadari si pacar. Kepalanya hancur karena terlindas truk. Yang unforgetable buat saya, dia membonceng pacarnya karena saya membatalkan rencana saya untuk memfotokopi LKS Kimia dengannya. Bisa dibayangkan betapa terpukulnya saya saat itu, terlebih ketika melihat foto jasadnya di TKP. Foto itu saya dapat dari seorang wartawan yang juga rekan jurnalis saya.
Hari Selasa lalu, saya bolos kuliah Fisika Dasar. Murni membolos. Ini pertama kalinya saya bolos! Jam Fisika Dasar saya habiskan di Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menulis diary. Saya berdialog dengan Tuhan yang selalu bersemayam di hati saya.
"Tuhan, di bawah naungan bait-Mu, aku memanggil-Mu seru. Aku yakin Kau mendengar teriakku. Tuhan!! Aku memanggil-Mu… Tuhan!! Aku merindukan Mu…
Tuhan, entah berapa hari Ramadhan-Mu ku lalui. Sia-sia. Begitu sia-sia. Yang ku buat hanya debu pasir. Tertiup angin lalu berserak. Tuhan, bukan ini yang aku mau. Bukan ini yang aku ingin.
Detik-detikku hitung hanya untuk menanti datangnya makanan catering dan waktu berbuka. Adzan Maghrib seperti hanya alarm menuju liar. Sholat lima waktu pun pernah terlewat. Lagi-lagi karena kuliah, tugas, atau berkumpul dengan teman-teman. Astagfirullah…
Tuhan, ini bukan aku! Bukan! Begitu tingginya orang menilaiku. Padahal aku begitu hina dan munafik. Tugas Probabilitas tak pernah ku catat. Tugas Fisika pun selalu Anna yang menulis. Kalkulus? Hanya tangan bergerak! Kimia pun seperti lomba menjiplak transparan!…"
Semua dosa-dosa yang pernah saya lakukan saya tulis, saya katakan pada Tuhan saya. Ini lebih manjur dalam membuat saya menangis dan merubah diri saya daripada renungan-renungan. Dengan mengingat kehinaan-kehinaan saya, memandang betapa menjijikannya saya, tekad kuat pun tumbuh.
"…Berjalan di atas sebilah bambu ini begitu tidak mudah. Gandeng aku, Tuhan. Biarkan aku berpegang dengan-Mu.
Tuhan, ijinkan aku bertanya. Apakah aku begitu egois? Tak pernah leleh airmataku oleh renungan. Apakah aku begitu sombong juga?
Tuhan, peluk aku. Dalam sendiri ini, biarkan aku merasakan hangat cinta dan kasih-Mu. Aku ingin selalu Kau temani. Aku ingin selalu bisa bercengkrama bersama-Mu, mengisahkan tiap detik yang ku lalui. Tuhan, maukah Kau memaafkanku? Mengapa Kau tak marah padaku? Aku kan jadi malu, Tuhan. Kau begitu baik padaku, tapi aku hampir tak peduli pada-Mu.
Tuhan, maukah kau kembali bersamaku? Agar setiap langkahku adalah karena Mu?
Tuhan, bolehkah aku mencintai Mu?"
Cara orang untuk kembali ke titik nadir memang berbeda-beda. Ada yang bisa berubah dalam sekali perenungan, ada yang tidak. Karena itu, bagi teman-teman yang tak pernah terlelehkan oleh perenungan yang berkomando, jangan khawatir. Bukan berarti hatimu sekeras baja atau telingamu tertinggal di Afrika. Yakinlah saja Tuhan itu ada…

Kita sama non,
Kadang, kalo merenung sendiri, bisa nangis-nangis gitu (padahal aku kan cowok). Kalo disuruh merenung, berimajinasi, eh malah yang nggak-nggak (mikirnya jadi yang lucu-lucu loh, bukan ngeres).
Ngomongin masalah temen deket yang meninggal, aku juga pernah ngalamin. Pacar aku (sampai sekarang masih aku anggap pacar, coz lum pernah ada kata putus), meninggal jatuh dari motor, karena aku telat 10 menit nganterin dia les. Akhirnya dia naek motor sendiri, trus terjadilah kecelakaan itu.
Kadang aku membayangkan, seandainya aku nggak kesiangan pulang dari sekolah. Seandainya 11 lampu merah sialan itu nggak merah pas aku lewat. Apa dia masih hidup? Mungkin tetap nggak juga.
Awalnya aku shock, tapi sadar bahwa itu takdir. Ikhlas deh … mo gimana lagi. Lagipula dia emang cewek terbaik yang bisa aku dapet. Semoga dia tenang di alam sana.
(
Comment by Iwan Rystiono — 9 October 2007 @ 12:06 am