Pada blog lalu, saya sudah sedikit membahas tentang pembajakan. Tujuan saya menulis blog tersebut bukan untuk mendukung pembajakan, melainkan untuk sedikit membuka mata para korban pembajakan
Beberapa waktu lalu dalam acara bernuansa musik country di salah satu televisi swasta, Tantowi Yahya sempat menanyakan kepasifan Raja Dangdut Roma Irama. Menanggapi pertanyaan tersebut, Roma Irama mengatakan bahwa kepasifannya menyangkut pembajakan yang –katanya- mencapai 90% di Indonesia.
Hal tersebut sangat saya sayangkan.
Memang tindakan pemerintah dalam memberantas pembajakan di Indonesia saat ini kurang tegas. Pernah terpikir mengapa? Sebab ‘pemberantas barang bajakan’ tersebut juga ‘konsumen barang bajakan’. Cobalah cek rumah Satpol PP atau polisi-polisi yang pernah ikut merazia VCD bajakan. Saya yakin terdapat VCD bajakan di rumah mereka, lebih-lebih yang tinggal di daerah.
Lantas, BAGAIMANA SOLUSI TEPAT MENGURANGI ANGKA PEMBAJAKAN DI INDONESIA?
Pertama, TINGKATKAN PEMASARAN. Bebarapa konsumen barang bajakan seperti software, VCD, dan MP3 mengaku terpaksa membeli produk bajakan karena di tempat mereka tidak ada yang menjual produk orisinil. Mereka harus ke luar kota atau ke ibukota untuk mendapatkan produk orisinil. Padahal harga produk yang hendak dibeli tidak seberapa dibandingkan ongkos transport yang harus mereka bayar. Ya…daripada jauh-jauh, beli yang deket aja deh…
Kedua, TARIK MINAT KONSUMEN DENGAN FITUR-FITUR KHUSUS. Bagi beberapa konsumen produk bajakan, mereka tidak merasa rugi dengan menggunakan produk bajakan sebab fasilitas yang diberikan produk asli dan bajakan tidak jauh berbeda bahkan terkadang sama. Dengan perbedaan fasilitas atau fitur yang sangat tipis itu, selisih uang yang harus mereka keluarkan sangat jauh. Namanya saja bajakan, ya harus lebih murah dari yang orisinil donk. Masalah harga dapat dikover dengan memberi fasilitas, fitur, atau bonus yang hanya bisa diperoleh konsumen produk orisinil. Misalnya, untuk pembeli VCD orisinil Band ABC akan mendapatkan kaos keren, atau informasi-informasi up to date untuk konsumen software orisinil, dan lain-lain.
Ketiga?
Tunggu blok selanjutnya setelah komen Anda!
Pembajakan Meraja, Seniman Tak Berdaya
Pembajakan di Indonesia : Tindakan Bejat atau Penyelamat?
Akhir-akhir ini para seniman musik maupun perfilman banyak melakukan aksi anti-pembajakan. Mulai dari mendesak pemerintah, “pasang” logo Stop Pembajakan di kaset-kaset, sampai aksi-aksi yang bener-bener bikin yang nonton bergidik merinding denger kata PEMBAJAKAN.
Pembajakan di Indonesia sebenarnya merupakan sebuah dilema. Di satu sisi, pembajakan adalah suatu pelanggaran Hak Cipta. Di sisi lain, hasil atau produk pembajakan adalah malaikat penyelamat bagi rakyat kecil yang butuh hiburan.
Inilah yang selama ini mungkin tidak terpikirkan oleh para korban pembajakan. Kebanyakan dari mereka hanya mengklaim pembajakan sebagai suatu pelanggaran yang tentu saja merugikan mereka terutama finansial mereka.
Kalau saja seniman-seniman korban pembajakan itu mau turun tangan langsung merazia para pembajak VCD atau bahkan DVD se-Indonesia, ada banyak hal yang akan mereka temui.
Pembajakan bukan terjadi tanpa alasan.
Memang saat ini tekhnologi semakin canggih. Rekaman pita kaset hampir dianggap barang punah setelah muncul MP3. VCD pun semakin ketinggalan jaman setelah lahir DVD. Seperti yang kita ketahui bersama, hampir tidak ada orang yang mau dianggap ketinggalan jaman apalagi gagap tekhnologi. Dengan alasan itulah mereka berbondong-bondong membeli MP3 player atau DVD player. Tapi, apa gunanya MP3 Player dan DVD player kalau tidak ada MP3 atau DVD itu sendiri? Karena itulah mereka membeli kepingan DVD atau MP3 terbaik, biar playernya nggak rusak. Namun sayangnya besarnya keinginan untuk membeli DVD atau MP3 tersebut tidak diimbangi dengan luasnya pemasaran DVD dan MP3 asli atau original.
Di Kabupaten Tegal, contohnya. Kalau mau cari lagunya Inul sampai Beethoven, semua ada. Tapi ya bajakan. Kenapa? Karena memang di sini tidak ada toko atau kios yang menjual DVD atau MP3 asli. Jadi ya terpaksa beli yang palsu.
Hal ini perlu direnungkan untuk kemudian dicari solusinya. Semoga para seniman korban pembajakan itu mau mengerti dan mau meninggalkan sepatah kata untuk mengomentari tulisan ini. Amin…
