10 January 2007

Murid Tiri Punya Mimpi II

Filed under: Manusiawi

Daripada sakit hati terus-menerus, aku meletakkan diriku sebagai murid tiri, kasta paling hina lagi rendah di dunia pendidikan. Dengan memposisikan diriku sedemikian rendah aku tidak terlalu sakit hati bila aku diperlakukan tidak menyenangkan. Ketika aku jadi bahan pembicaraan guru dengan murid kelas-kelas lain, aku selalu berkata dalam hati, “Wajar aku diperlakukan demikian. Aku kan trouble maker,”. Gelar trouble maker melekat erat di diriku. Semua tahu itu.
Selama setahun aku tenggelam dalam sanksi sosial yang semestinya tidak ku terima. Aku nggak punya teman dekat apalagi sahabat. Aku ingin hancurkan sekolahku, tapi aku nggak mau sekolahku musnah. Semua yang aku rasakan, hanya tertuang dalam buku harian. Aku nggak pernah curhat seperti temen-temen lain. Aku akui aku ember, tapi aku jarang cerita tentang diriku sendiri kecuali sama Sim, buku harianku. Gurat-gurat luka pun hanya ku kisahkan pada Sim, pendengar yang baik. Kalau mau nangis-nangis ya malem-malem kalau semua udah tidur. Tangisku cuma Sim dan Tuhan yang tahu. Ups, Snowy, temen tidurku, juga tahu. Aku suka berbagi kisah, tapi bukan berbagi air mata karena aku merasa jijik dengan air mata.
Sanksi sosial itu juga lah yang mendorongku bermimpi. Aku ingin jauh dari lingkungan SMA setelah lulus nanti. Bukan mau ngelupain almamater, tapi aku nggak pengen dibayang-bayangi masa SMA yang katanya masa paling indah. Aku pengen kuliah di PTN Level 1 atau ST yang sama sekali nggak ada alumni atau koneksi guru-guruku di situ. UI, UGM, ITB, STAN, STIS, UNDIP, hampir semua sekolah tinggi dan perguruan tinggi negeri di negara kecil ini selalu ada alumni SMAku, kecuali ITS. Ya, ITS. Pendidikan di daerahku memang selalu berkiblat ke Jakarta, Jogja, Bandung, atau Semarang. Jarang banget ada alumni yang mau singgah ke Surabaya.
ITS jadi mimpiku. Nyaliku sempat ciut ketika tahu passing grade ITS yang sangat tinggi. Virus pesimis menyerang. Untung aku punya orang tua yang nggak pernah capek kasih aku support. Mereka meyakinkanku kalau SPMB bisa ku lalui dengan baik, termasuk passing grade itu.
Sejak awal kelas tiga, aku meningkatkan keseriusanku terhadap pelajaran. Sanksi sosial yang nggak pernah habis ku abaikan. Ku anggap tak pernah terjadi apa-apa dan aku akan baik-baik saja.
Suatu hari, Guru Matematikaku mengumumkan ada Olimpiade Statistika dengan hadiah free pass masuk ITS dan STIS. ITS? Wow, sasaran empuk neh! Seempuk marshmallow. Hm…nyam nyam! Aku harus ikut!
Ketika beliau bertanya, “Siapa yang mau ikut?” nggak ada satu siswa pun yang tunjuk jari kecuali aku. Temen-temenku punya sasaran yang lebih tinggi dari sekedar STIS atau ITS. ITB, STAN, UI, adalah mimpi mereka. Aku celingukan. Pe-De banget ya aku? Hehe, nggak pa-pa deh, demi. Guru Matematika yang juga ilfil denganku terhenyak. Kalau aku jadi beliau, mungkin aku juga kaget setengah mati. Seorang panitia remidi matematika mau ikut olimpiade statistika? Yang bener aja! Mimpi kali ye…
Sayangnya, ternyata aku nggak ditunjuk mewakili sekolah untuk kompetisi itu. Yang ditunjuk malah Liya, Yani, Agung, dan Norma, orang-orang yang sama sekali nggak pernah bermimpi masuk STIS.
Nyaliku kembali ciut. Mereka emang the bestnya matematika. Tapi aku nggak boleh nyerah! Kalau aku nyerah, aku akan semakin dipandang rendah, kacamata guru-guru terhadapku pun akan semakin buram. Aku berusaha sekuat tenaga dan sekuat hati memenuhi syarat-syarat lomba seperti karya tulis dan evaluasi potensi akademik. Bahasa Jawanya, I’ll do everything for this.
Keajaiban muncul perlahan. Karya tulisku masuk ke jajaran sepuluh besar dalam olimpiade tingkat nasional ini. Keajaiban berikutnya adalah dukungan penuh dari temen-temen. Yang lebih ajaib adalah kemenanganku dalam kompetisi tersebut. Bahkan salah satu harian menyebutkan bahwa tes potensi akademikku meraih skor tertinggi. Padahal satu-satunya kompetensi dasarku yang belum memenuhi batas tuntas adalah Statistika.
Yah, inilah keajaiban. Inilah bukti nyata bahwa Allah selalu menepati janji-Nya. Janji-Nya, Dia selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya. Berjuta terima kasih ingin ku sampaikan pada orang-orang di belakangku. Ibu yang selalu membakar semangatku, Bapak yang selalu menjadi pelindungku, Nisa yang mau ngalah main game, keluarga besar Bani Siswoyo yang selalu bisa memaklumi kealpaanku dalam acara keluarga, Bu Narni, Bu Jeki dan Bu Mimik yang menjadi sumbu lilin semangatku, Bu Ani yang sangat bijak, Bu Ratmi yang membuka mataku tentang SMA, karyawan TU yang ikhlas membantuku, Papa Sa dengan ide briliannya, Pak Herdi yang sangat kooperatif dan profesional, Mbak Eti, Vita, Gibran dan Sie IV yang selalu membuatku beruntung mengenal mereka, Liya dan Yani yang ngalah buat aku dan mau berbagi sama aku, Mas Rizqon yang ternyata memperhatikan aku dan nggak bosen telepon aku pagi-pagi buat kasih support, Resti yang mendorongku berani bermimpi, Agung dan Dian yang menarik langkahku untuk maju, Lana yang biar nyeleneh tapi ikut support aku, Isna who keeps my smile, Eka yang mengajakku berpikir lebih dewasa, temen-temen kelas immersi yang jadi alasanku untuk tetep survive, Pak Bambang Heru yang ramah banget, Pak Sahid yang profesional dan welcome banget sama peserta bawel kayak aku, Mbak Farizul yang selalu kasih aku semangat, Bu Agnes Tuti yang cermat, BPS, STIS, Ikatan Perstatistikan Indonesia dan ITS yang telah menyelenggarakan olimpiade, Mbak Nur yang telaten ngeladeni aku, Tante Ida yang ikut repot cariin referensi, Warnet Biru yang udah kasih pelayanan internet terbaik, dan semua pihak yang sayang aku dan aku sayang, makasih bwanget yah…

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://tikaw.blogsome.com/2007/01/10/murid-tiri-punya-mimpi-ii/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.