10 January 2007

Murid Tiri Punya Mimpi I

Filed under: Manusiawi

Rabu, 27 Desember 2006

Hidup terlalu singkat untuk dilalui tanpa mimpi. Jangan pernah takut bermimpi.
Itulah yang selama ini jadi kacamata yang punya peran dalam menjalani hidupku yang kata temen-temen nggak gampang. Hidup emang nggak pernah gampang, guys! Kalo mau gampang, nggak usah hidup, tidur aja di kuburan. Ups, tidur di kuburan aja nggak gampang dink!
Sejak kelas satu SMA, suasana sekolah mengukir kata tiri di akhir statusku. Ya, akulah murid tiri. Aku murid SMA yang cuma bisa bikin masalah. Semester pertama di SMA aja aku dah bikin masalah sama guru Bahasa Inggrisku. Gara-gara ngerjain tugas Bahasa Inggris di perpustakaan, aku dipecat dari jabatan ketua kelas. Aku juga diekstradisi dari tim debat. Nggak Cuma sampe situ. Di kelas, di hadapan 23 temen-temenku, semua belangku tumpah oleh beliau, Bu Guru Bahasa Inggris yang terhormat. Yah… tapi itu masih sedikit lebih baik dari pada dipendam, seperti guru Matematikaku.
Beliau nggak suka aku. Bahkan, ada kesan illfeel yang tertangkap dari mata dan katanya. Segores senyumnya nggak pernah tergaris buatku. Padahal, temen-temenku ngefans banget sama beliau. Sebenernya aku juga kagum. Beliau guru yang disiplin, sayang sama murid-muridnya, sayang banget. Sayang, beliau nggak pernah bilang kalau aku udah bikin beliau illfeel atau jijik sama aku sampai guru Bahasa Inggrisku itu cerita semua di kelas.
Aku masih inget banget suasananya. Waktu itu aku duduk di bangku paling depan. Di depan mataku, guru Bahasa Inggris itu ngelempar buku yang dipegangnya karena marah sama aku. Hihi, bener-bener murid yang badung ya, sampe bisa bikin guru darah tinggi.
Sejak saat itu, aku jadi pengamatan guru-guru, khususnya guru yang ngajar kelas immersi. Sejak saat itu juga, pandanganku tentang sekolah berubah. Kita bukan belajar tentang kalkulus, larutan, hukum Newton, atau teori-teori semacam itu di sekolah. Yang harus kita pelajari di sekolah adalah bagaimana cara membaca pikiran guru, apa yang dipikirkan guru tentang kita.
Selain itu, sejak peristiwa itu pula semua guru adalah abu-abu dan hitam di mataku, kecuali guru Bahasa Indonesiaku. Beliau guru yang sabar, profesional, disiplin, tapi menyenangkan. Semua guru menghormati beliau dan salut padanya. Begitu juga aku.
Tapi sekali lagi aku dikecewakan. Agustus 2005, gossip tentang orang tuaku menyebar. Gossip murahan itu memposisikan keluargaku sebagai keluarga yang materialistis. Gossip? Ku rasa bukan. Lebih tepatnya ku sebut fitnah. Parahnya, fitnah itu terlontar dari wakil kepala sekolahku sendiri. Kalau ditanya motifnya, aku lebih memilih bungkam. Karena kalau aku bilang yang sebenernya, namanya yang sebenarnya memang sudah dikenal kurang baik akan semakin kurang baik. Intinya, fitnah itu muncul karena istri Pak Wakasek yang kurang suka dengan Ibu. Itulah. Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah.
Fitnah itu melempar keberadaanku jauh-jauh. Guru Bahasa Indonesiaku itu marah dan kecewa, walaupun orang tuaku udah klarifikasi ke beliau dan sekolah. Tapi percuma. Siapa sih yang mau ndengerin seorang siswi trouble maker?
Peristiwa itu adalah titik jatuhku. Posisiku di kepengurusan OSIS jatuh, aku digeser ke bagian yang sama sekali bukan bidangku. Ke posisi paling bawah, anggota dua. Aku pun dipingit, nggak boleh ikut kompetisi apapun. Sanksi sosial yang lebih memberatkan adalah kacamata kotor dan hina yang mereka gunakan ketika memandangku. Apapun yang aku lakukan selalu dianggap salah. Hal positif yang berhasil aku kerjakan selalu diikuti kata ‘tapi’. ‘Tika itu pinter tapi..’, ‘Sebetulnya dia cerdas tapi..’, ‘Dia good organizer tapi…’ selalu ada kata ‘tapi’ di belakang penilaian positif terhadapku.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://tikaw.blogsome.com/2007/01/10/murid-tiri-punya-mimpi-i/trackback/

  1. Wah hebat donk dikenal guru…
    Lha aku?
    Gak ada guru yang kenal ma aku.
    Hohoho….

    Comment by Tong — 25 October 2009 @ 8:21 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.