Bedug kemenangan tak lama lagi terdengar. Takbir pun segera dikumandangkan. Saat itulah kebanyakan dari kita merasa menang semenang-menangnya. Sebulan penuh melawan hawa nafsu seakan-akan sia-sia. Ketupat, opor ayam, sambal goreng, semua terhidang di meja. Makanan itu tak lama pasti membuat kita kenyang hingga di atas meja makan yang tersisa hanya piring-piring kotor dengan tulang belulang diatasnya. Ya.. kalau tinggal tulang. Kalau ada yang menyisakan makanannya?
Bersamaan dengan itu, berlembar-lembar uang dibagikan pada anak-anak kecil. Bangga sekali kita memberikan itu pada mereka, anak-anak yang masih belum tahu betul betapa sulit memperoleh tiap rupiahnya. Lalu anak-anak itu berlalu bersama sorak sorai dan uang salam tempel di tangan. Mereka pamer pada orangtuanya, “Ma, aku dapet uang dari Om Kaya!”. Si Orang tua hanya tersenyum melihat kegembiraan anaknya. “Jangan untuk jajan ya, Nak, ditabung saja,” kata orang tua kemudian. Ya.. kalau orang tua mereka menyarankan untuk ditabung, kalau tidak? “Jangan untuk beli jajan ya, Nak,” kata orang tua yang lain. Si Anak mengangguk lalu segera terbang lagi bersama uangnya dan hinggap di pedagang petasan. Uang ditukar dengan petasan. Petasan dibunyikan dengan dibakar. Tampaknya, suara petasan meletus sedikit pun tidak membuat kita yang memberi uang itu berpikir, “Uangku dibakar untuk kesenangan sementara, untuk tawa riang yang penuh resiko.”
Itukah kemenangan? Benarkah kita telah menang melawan hawa nafsu? Haruskah kita merayakan kemenangan atas hawa nafsu itu dengan hawa nafsu? Bukankah itu artinya perjuangan kita selama sebulan sia-sia saja?
Ironis. Kita berkumpul bersama keluarga di Hari Raya Idul Fitri sementara saudara-saudara kita di Aceh, di Jogja, di Pangandaran masih terluka karena kehilangan keluarga mereka beberapa waktu lalu.
Kita membagi-bagikan harta kita hanya untuk tradisi salam tempel sementara mereka tak punya uang untuk membangun rumah mereka kembali.
Kita melahap habis makanan khas Idul Fitri sementara mereka makan dengan beras jatah yang tak seberapa banyak.
Itukah kemenangan?
Ku rasa, kita terlalu tinggi menempatkan diri kita sehingga kita tak mampu lagi melihat tangan-tangan di bawah. Maaf, bukan maksudku merendahkan tradisi kita dalam merayakan Hari Kemenangan. Tapi apa salahnya kita ubah tradisi itu sedikit saja? Dengan berbagi makanan dan menggeser penerima salam tempel, itu saja. Ajak mereka untuk ikut merasakan kemenangan. Kenapa tidak? Bukan kah dengan begitu kemenangan kita akan semakin mutlak? Ya, kita menang melawan nafsu berfoya-foya, kita menang melawan keserakahan, kita menang melawan sifat kikir kita, kita menang! Kita menang! Kita menang!
19 October 2006
