28 August 2008
Semua ini memang bukan kehendakku. Kecewa itu memang terlanjur menyayatku. Tapi di hatiku kau masih sama seperti yang dulu, walau tidak bagi mereka. Aku tak peduli apa kata mereka, bagaimana mereka menilaimu bahkan memandangmu sinis penuh tanya.
Aku pun mungkin bukan yang dulu lagi. Mungkin, hingga kau pun bungkam. Tapi aku siap bungkam ketika kau ingin memuntahkan duniamu, gelapmu sekalipun, karena aku pun punya hitam itu.
Kau sahabatku, kau perempuanku. Kau masih punya harta, dan jangan pernah berikan itu pada siapapun.
Suatu hari kau akan tahu, bagaimana rasanya bila apa yang terjadi dan kau alami sekarang terjadi pada adik atau anak perempuanmu. Kemudian kau melihat semua itu, dan hancurlah rasa itu…
Waktu memang tak akan kembali
Matahari pun tak akan berbalik arah ke arah terbitnya
Ku tahu kau pun begitu.
Aku tak berharap kau kembali
seperti dirimu yang dulu pernah ku tahu
(atau hanya kau yang berlalu)
Aku hanya ingin kau tahu
kau tak pernah sendiri
sejuta mata mengamatimu
memandangmu dengan pesonamu.
Sejuta pasang tangan mencoba menggapaimu
merengkuhmu dari tepian kecewa.
Tapi,
hidup itu pilihan
pun dengan hidupmu.
Apapun pilihan itu,
aku dan mereka yang kau kira meninggalkanmu
selalu menjagamu dan mencoba menghangatkan kebekuan hatimu…
Untukmu yang ku tau tak kan kembali…
3 April 2008
Saya menulis artikel ini sebagai satu dari sekian banyak mahasiswa yang menerima beasiswa, khususnya Beasiswa Unggulan dari Departemen Pendidikan. Tenang saja, saya hanya satu dari 10 penerima di ITS atau 2200 penerima di Indonesia dengan jenjang S1 koq.
Mendapatkan beasiswa bukanlah hal yang sulit
. Asal ada niat dengan ekstra kesungguhan dan setetes keberuntungan, insya Allah beasiswa bisa didapat. Beasiswa Unggulan, misalnya. Beasiswa Unggulan adalah salah satu jenis beasiswa yang disediakan Departemen Pendidikan untuk mahasiswa dalam dan luar negeri. Kalau yang dalam negeri biasa disebut Beasiswa Unggulan Reguler. Beasiswa ini bisa Anda lirik bahkan Anda comot langsung di http://www.beasiswaunggulan.diknas.go.id. Dari flyer yang saya baca, sasaran penerima Beasiswa Unggulan antara lain:
1. Lulusan terbaik SMA/MA/SMK/Ponpes/PT yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/Kabupaten/Kota), masyarakat (LSM), dan industri.
2. Lulusan cum-laude dari Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi/Akademi
3. Pemenang Lomba IPTEK/Lomba Karya Ilmiah Remaja/MIPA Tingkat Nasional
4. Pemenang Lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional
5. Pemenang Olimpiade Sains/Teknologi Tingkat Nasional
6. Pemenang Lomba Bidang Olahraga Tingkat Nasional
7. Pemenang Lomba Bidang Seni Tingkat Nasional
8. Pemenang Lomba Bidang Bahasa Tingkat Nasional
9. Para Aktivis Mahasiswa (Pengurus; UKM, BEM, Senat, HMI)
10. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit-unit utama serta jajarannya.
Dilihat dari sasarannya, beasiswa tersebut memang bukan beasiswa biasa, tapi bukan berarti orang biasa tidak bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada lembaga atau instansi pemberi beasiswa yang mau memberikan beasiswa secara cuma-cuma. Maksud saya, mereka (baca: pemberi beasiswa) pasti selektif dalam memilih penerima beasiswa. Bukan hanya kualitas saja yang mereka perhatikan, tapi juga timbal balik yang bisa mereka dapatkan. Timbal balik di sini bisa berupa pengabdian atau prestasi yang tidak biasa. Sekali lagi saya misalkan pada Beasiswa Unggulan.
"Program beasiswa dalam skala nasional (Beasiswa Unggulan Reguler) dan internasional (Beasiswa Atdikbud RI di luar negeri) yang dikembangkan dalam rangka menyiapkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif sesuai dengan visi pendidikan nasional. Dengan adanya program beasiswa unggulan, diharapkan di akhir program akan muncul critical mass dan bangsa Indonesia yang berdaya saing tinggi di masa yang akan datang," begitu kata flyer-nya.
Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang nggak doyan beasiswa? Hampir semua mahasiswa apalagi kelas menengah bawah pasti tidak akan menolak beasiswa yang diberikan pada mereka. Bayangkan saja, biaya pendidikan (seperti SPP) sudah tertangani. Biaya hidup juga tersedia dalam jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi uang buku (untuk beli buku kuliah, bukan Komik Detective Conan!) yang juga rutin diberikan. Pokoke makmur!
Sayangnya yang sering kali terlupakan oleh pelamar juga penerima adalah amanat yang terkandung dalam setiap rupiahnya. Beasiswa bukan rejeki nomplok. Mendapatkan beasiswa bukan berarti kita bisa beli baju Dolce Gabanna, Mango, atau Zara, padahal sebelumnya cukup made in Pasar Blauran. Mendapatkan beasiswa bukan berarti jajanan kita De Espresso (tulisane bener gak yo?), Gelato, Starbucks Coffee, padahal biasanya cukup kacang goreng plus kopi asli warkop lokal. Perbaikan gizi sih boleh saja, tidak dilarang koq
. Tapi mbok ya yang wajar…
Memang benar, beasiswa tidak selalu diberikan pada mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi pun berhak. Bahkan ada juga beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang aktif di organisasi. Apapun jenis beasiswa, berapa pun besarnya, dan siapa pun sasarannya, beasiswa mengandung amanat. Jangan sampai penerima beasiswa ‘mengecewakan’ pemberi beasiswa. Kebayang donk, betapa malunya Anda ketika sudah mendapatkan beasiswa kemudian tiba-tiba dipanggil Pembantu Rektor I karena prestasi Anda yang nol besar…
Jadi, saya sarankan bagi Anda yang sedang mencari beasiswa, pastikan dahulu bahwa Anda akan mampu mengemban amanat yang dibebankan. Setelah itu baru penuhi syaratnya.
Tenang saja, ada banyak provider beasiswa koq. So far, yang saya tahu dari Majalah Tempo minggu ini (31 Maret-6 April 2008):
a. Asian Development Bank-Japan Foundation (adb.org)
tujuan AS, Asia, Australia, waktu aplikasi Januari-Desember
b. ADS (adsjakarta.org)
tujuan Australia, syarat IELTS 5 atau TOEFL 500, waktu aplikasi 5 September
c. Chevening (chevening.or.id)
tujuan Inggris Raya (Great Britain), syarat IELTS 6,5, waktu aplikasi 1 September-16 Nobvember
d. Neso (nesoindonesia.or.id)
tujuan Belanda, syarat IELTS 6 atau TOEFL 550, waktu aplikasi Desember-Maret
e. Sampoerna Foundation (sampoernafoundation.org)
tujuan AS, Inggris, Australia, Prancis, Singapura, syarat TOEFL 600, waktu aplikasi 30 Mei
f. Departemen Pendidikan (beasiswaunggulan.diknas.go.id)
tujuan dalam dan luar negeri
g. Aminef (aminef.or.id)
tujuan AS, syarat TOEFL 550, waktu aplikasi 31 Mei
h. Komisi Eropa (mundus-urbanu.eu)
tujuan Eropa, waktu aplikasi Juni-Januari
i. ASEAN Foundation (aseanfoundation.org)
tujuan Thailand, waktu aplikasi 31 Maret
j. Nanyang University (ntu.edu.sg)
tujuan singapura, waktu aplikasi Desember.
Selamat mencoba!
31 March 2008
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
1307100054 1307100054 1307100054
29 February 2008
Kau percaya karma?
Ketika karma nyata dan menyakitkan…
Bila karma hanya mimpi
aku ingin segera terjaga dan jauh dari mimpi
Bila karma memang nyata
biarkan aku tertidur dan tak lagi terjaga
by: P.Nadjalank
26 February 2008
20:25 20/02/2008
Sebelum mengerjakan tugas Praktikum Statistika, saya ingin berbagi satu pelajaran berharga yang saya dapat hari ini tentang ‘Mr/s.Gadget’.
Sejak SD (ketika disk masih segedhe muka dan CPU masih tertindas di kaki monitor CRT)
, saya sudah dikenalkan dengan dunia gadget, baik dalam komputer dan HP, oleh Ibu. Kalau tidak salah, HP Ibu saat itu Nokia 3310 atau berapa itu yang layar warna (dua warna thok maksude) dan baru ada yang namanya eS eM eS. Saya masih ingat betul nomornya, 08122967004 (coba aja miskol, lha wong udah bangkotan. He he he…)
. Emang bawaan lahir, saya sering usil dengan setiap gadget yang saya pegang
. Bahkan pernah HP Ibu itu saya ubah setting bahasanya ke Bahasa Mandarin. Mungkin kedengarannya biasa saja mengubah setting bahasanya, tapi itu kali pertama saya tahu HP, sehingga wajar saja kalau saya sempat berkeringat dingin gara-gara tidak bisa mengembalikan setting bahasa seperti semula.
Di SMP saya semakin akrab dengan dunia gadget. Bedanya, yang saya geluti saat itu lebih primitif, yaitu mesin ketik segedhe meja
. Saat pelajaran Mengetik, sering jari kelingking saya keseleo karena tutsnya yang ‘tidak manusiawi’ atau lecet karena tuts yang lepas meninggalkan besi tipis
. Yah, tapi pengorbanan saya terbayar lumayan karena setelah beberapa kali ujian kecepatan mengetik sepuluh jari, saya selalu bisa jadi yang tercepat dengan prosentase missed type terkecil.
Masuk SMA, saya kembali ke komputer, bukan mesin ketik, dan saya pun mulai ‘pegang’ HP sendiri. Waktu itu HP saya Samsung layar warna (dua warna juga: biru hitam) dan masih berantena
. Awal masuk SMA, guru TIK saya lumayan kejam kalau bikin soal. Bayangkan saja, buku bilang materinya Operating System, tapi yang keluar di ujian: Terbuat dari apakah floppy disk? Benar-benar menuntut pengetahuan umum. Sempat shock juga ketika melihat raport muncul angka 98 sedang teman-teman riang gembira dengan nilai 70. Di SMA juga sedikit primitif karena belum ada lab komputer, saat itu. Secara tertulis memang ada, persis di samping kelas saya. Tapi bagi kami, ruangan itu adalah Gudang Hardware, bukan lab komputer karena semuanya serba merakit sendiri dengan hardware seadanya. Hardware-hardware itu kami dapat dari berbagai penjuru, bahkan limbah Korea pun kami gunakan. Jadi ya wajar saja kalau semua komputer di ruangan itu keyboard-nya pakai huruf Korea. Namanya saja Gudang Hardware, komputer-komputernya pun mayoritas ‘telanjang’
, tidak ber-casing, karena setiap kali ada eror langsung bongkar pasang. Saya masih ingat betul, ketika saya dan beberapa teman-teman TOKI (semuanya laki-laki kecuali saya) diminta membuat perintah coding dalam pascal. Satu per satu di antara mereka berguguran meninggalkan Gudang Hardware hingga yang tersisa tinggal saya, Tazul, dan Gigih. Karena tidak kalah bosan dengan teman-teman yang sudah gugur, kami membuat perintah untuk menghapus semua tampilan termasuk start menu. Selanjutnya? Komputer diperkosa lalu kami ganti hardisknya dengan hardisk administrator sebab kami lupa kode perintah mengembalikan start menu seperti semula.
Sekarang sih enak, sudah ada lab komputer di depan kelas saya itu dengan AC dari sana-sini, berkarpet, mulai dari CPU sampai monitor bisa dibilang sudah canggih, apalagi setelah dilengkapi hotspot.
Tapi bukan canggih atau tidaknya suatu gadget yang ingin saya sampaikan di sini
, melainkan tentang keangkuhan yang sering kali muncul ketika kita merasa begitu merajai gadget
. Biasanya penyakit ini menyerang ‘penduduk’ usia remaja hingga dewasa
. Mereka ‘iseng-iseng’ menghapus data, membuat atau menyebarkan virus, menjadi hacker, semua dalam rangka ‘iseng-iseng’. Saat orang lain panas dingin kelimpungan gara-gara ulah kita, pasti ada suara ketawa cekikikan di belakang (suara kita tuh!) karena merasa menang. Saya akui, saya juga mengalami fase tersebut dan masih berpikiran bahwa saya hebat, I am a Ms.Gadget
, ketika saya berhasil merusak suatu sistem atau jaringan yang begitu sempurna dengan satu klik.
Pemikiran itu baru saya sadari hari ini.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, ada dua teman yang menjadi obyek cerita saya kali ini yaitu si Ali dan si Banu. Banu, laki-laki asal Jakarte ini sekilas sangat biasa. Pakaian casual, badan juga terbilang kurus, tidak ada stiker NOS di sepeda motor, amat sangat biasa
. Saat dia mengerjakan Praktikum Statistika di aula asrama, ia letakkan HPnya di meja lalu menyalakan laptopnya yang juga sangat biasa, masih AMD. Wow! Dopod
! Seorang biasa serupa Banu tidak pernah memunculkan handphone Dopodnya. Kerennya, dia mau meminjamkan Dopodnya pada saya untuk FSan. He he he, biasa, orang Asia Tenggara, bandwith-nya cuma buat friendster. Banu juga mengajari saya cara menggunakan Dopod dengan model slider sekaligus touch screen itu. Saya benar-benar merasa jadi wong ndeso, dan saya tidak pernah merasa sendeso ini
.
Beda lagi dengan Ali. Pakaian selalu necis, gaya top abiz, sering keliatan nyetir mobil orang, jauh berbeda dari Banu
. Lepas dari kenyataan bahwa Ali seorang perokok atau tidak (I hate smoker so much!), sekilas orang pasti menilai Ali lebih keren dari Banu. Apalagi dengan keberaniannya mengeluarkan kata-kata kasar, semakin sempurnalah ke-keren-annya
.
Sore tadi, dengan terpaksa karena tugas PrakStat, saya harus membawa notebook saya ke kampus. Saya buka di salah satu taman di sana. Ali langsung mengambil alih notebook saya (bahkan saya tidak diijinkan melihat apa yang dia lakukan terhadap laptop saya) membuka suatu jendela yang menampilkan detil notebook ini
.
"Ya ampun…masih 250an? Lelet banget nih?! Ya ampun…Vista? Ini kan produk gagalnya Windows?!…" dan ‘ya ampun ya ampun’ lainnya. Ali masih berkutat dengan flashdisk yang disuntikkan ke notebook saya sembari bercerita tentang BF yang disimpan di flasdisknya, sistem-sistem keren yang dia tau, dan sebagainya dan lain-lain.
Kemudian setelah selesai urusan dengan Ali, notebook kembali di bawah kontrol saya. Banu datang.
"Tik, gue ngopi file dari Ali tadi dunkz," kata Banu
.
Setelah saya persilahkan, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dibungkus kulit dengan tiga port USB. Wow! External Hardisk
! Banu juga tidak pernah cerita atau komentar tentang itu, tiba-tiba saja keluar External Hardisk sekeren Seagate.
"Nu! Seagatenya Free Agent, neh?" tanya saya setengah percaya. Dengan mata yang masih terkonsentrasi di layar monitor dia hanya mengiyakan pelan.
"Wuih, keren! Eh, sekalian dunkz, notebookku belum ada antivirusnya. So, minta antivirusnya dunkz, Nu…"
No talk but action, dia copykan antivirus di notebook saya.
"Tapi sorry nih, aku lupa expirednya kapan. Coba install ulang aja,"
Ow eM Gee. Cool banget, makhluk yang satu ini
. Dia tidak pernah mengomentari gadget saya yang tertinggal jauh, tapi dia mau membantu saya beberapa langkah lebih maju.
Salut untuk Banu. Saya merasa wajib mengambil 6 SKS di mata kuliahnya, andai ia seorang dosen dan membuka kelas ‘Be Low Profile as Mr/s.Gadget’ yang menjelaskan bahwa Mr/s.Gadget yang mau browsing di selasar rektorat, tekun belajar otodidak, dan tetep low profile jauh lebih keren daripada Mr/s.Gadget yang sibuk komentar sana-sini sementara ia tidak membantu memecahkan masalah. Banu, ingatkan saya, saya berhutang banyak kepada kamu.
13 February 2008
Artikel ini saya tulis dalam rangka menunggu diputarnya film Ayat Ayat Cinta di bioskop Surabaya.
Penantian ini bukan karena saya penasaran dengan ceritanya, lha wong bukunya sudah booming lebih dulu. Saya menanti diputarnya film tersebut karena ingin memastikan bahwa film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman Elshirazy ini tidak akan mengecewakan saya untuk kedua kalinya.
Koq kedua kalinya?
Kekecewaan pertama adalah sebuah kekecewaan yang sering dialami oleh penggemar novel. Ketika beredar kabar bahwa novel yang pernah kita baca akan difilmkan, pasti yang pertama muncul adalah rasa penasaran
. Apakah tokoh-tokohnya seperti yang kita imajinasikan saat membaca novelnya? Apakah settingnya seindah yang digambarkan dalam novel? Apakah detil yang ditampilkan betul-betul mewakili sebagaimana diuraikan si penulis? Apakah jalan ceritanya akan selembut alur dari penulis? Intinya, apakah filmnya akan lebih baik, sama, atau lebih buruk dari novelnya?
Selama ini, saya selalu kecewa karena jawaban yang saya peroleh adalah bahwa film yang diangkat dari sebuah novel selalu jauh lebih buruk dari novel itu sendiri.
Kekecewaan yang biasanya muncul pertama kali adalah ketika kita melihat tokoh-tokoh dalam film tersebut tidak seperti yang tergambar dalam imajinasi kita saat membaca novelnya. Dealova, misalnya. Saat membaca novel teenlit Dealova, imajinasi saya meng-create sosok Kara sebagai seorang perempuan yang enerjik (karena dia suka dengan basket) dan cantik (karena berkali-kali kakaknya memujinya dan ia diperebutkan lebih dari satu laki-laki). Ketika melihat filmnya… Ow eM Gee! It’s not her
! Itu bukan Kara yang saya bayangkan. Semestinya tingkahnya lebih dewasa namun tetap sporty. Film Safe Harbour yang diangkat dari novel Danielle Steel pun melakukan kesalahan yang sama. Terutama pada tokoh Matt. Tokoh Matt yang ada pada film tersebut lebih gemuk dan lebih tinggi dari yang saya bayangkan.
Sebenarnya, saya kecewa atas terpilihnya Fedi Nuril sebagai tokoh Fahri bin Abdillah dan Riyanti Cartwright sebagai Aisha. Fahri jadi terlalu lembek
, tidak sekeren imajinasi saya. Apalagi dipasangkan dengan Ryanti, sense Mesirnya jadi ilang
! Yang saya khawatirkan, beberapa media menyebutkan bahwa film tersebut nantinya lebih menonjolkan cerita cintanya daripada norma-norma yang justru membuat Ayat-Ayat Cinta lebih punya greget. Maksud saya begini, cerita cinta itu biasa. Sangat biasa. Si A cinta si B, si C cinta si A, semua itu sangat biasa. Namun Habibburahman sukses membuatnya jadi luar biasa ketika cinta itu masih melekat dengan norma agama dan norma sosial yang berlaku di daerahnya. Ketika norma itu dikaburkan dan hanya cinta yang ditonjolkan, aduh…mending nonton sinetron aja deh! Biar nanti layar TVnya saya selimuti kain hitam secara horizontal supaya semua pemainnya terlihat bercadar. He..he… Tapi semoga saja apa yang dikatakan orang-orang itu tidak benar. Dengan kata lain, semoga film Ayat-Ayat Cinta tetep punya greget dibanding novelnya.
Bicara tentang tokoh, ada satu film yang tidak membuat saya kecewa yaitu film Jomblo. Ketika kelas satu SMA saya membaca novel tersebut. Habiz, kovernya menarik banget sih, ditambah lagi komentar Sarah Sechan yang sukses membuat batin saya berkata, "Wah, bakal seru nih buku!". Adhitya Mulya sukses membuat saya terpingkal-pingkal dengan gaya bahasanya. Ya, walau agak jorok-jorok gimana…gitu, apalagi bagi saya yang saat itu masih cinta monyet-monyetan
. Sampai sekarang, imajinasi yang ada dalam pikiran saya tentang tokoh Agus adalah seorang pemuda udik alias ndeso dengan segala keluguannya. Imajinasi saya juga melukiskan Agus berwajah ndeso. Suatu hari, saya membaca majalah remaja yang mewawancarai Ringgo sebagai pemeran tokoh Agus. Melihat foto Agus plus pengalamannya sebagai penyiar radio, saya berkomentar, "Walau tampangnya udah culun tapi orang ini terlalu keren jadi si Agus!"
. Tak lama, film Jomblo pun diputar di bioskop. Wow! Akting Ringgo di film tersebut lebih sempurna daripada yang diputar di imajinasi saya. Lebih udik, lebih culun, pokoknya lebih deh! Two thumbs up buat bagian casting
.
Kekecewaan yang biasa muncul setelah tokoh adalah cerita yang tidak utuh. Dalam novel Dealova, terdapat cerita tentang liburan di pantai
. Pada halaman-halaman tersebut imajinasi saya menangkap indahnya pantai dan momen-momen di sana. Apalagi saya memang sangat menggemari suasana pantai dengan setting sunset. Sayang, hal tersebut tidak ada dalam versi filmnya. Sedikit berbeda dengan Dealova, alur dalam film Jomblo memang lebih rapi. Tapi detil dalam novel yang mampu mengocok perut sulit didapat pada versi film. Bagaimana Agus membandingkan fisik gang-nya dengan fisik lulusan SMA Taruna Nusantara, bagaimana Adhitya Mulya menuliskan detil ‘aktivitas’ yang dilakukan Agus saat mengapel Rita dalam bentuk tabel yang justru membuat adegan panjang itu simpel namun tetap kocak, bagaimana perjuangan mencari Durex dari warung satu ke warung lain, dan sebagainya. Runtutan cerita yang ada pada film Jomblo tak sekocak novelnya.
Dalam artikel ini saya menggunakan Dealova dan Jomblo sebagai sampelnya karena memang dua novel tersebut yang cukup berkesan bagi saya. Saya tidak terlalu banyak menyinggung tentang Danielle Steel’s Safe Harbour karena memang novel roman dewasa seperti Danielle Steel kurang cocok untuk difilmkan. Apabila novel semacam itu nekat difilmkan, justru terasa datar dan sama sekali tidak mengena. Karena itu, saya berharap film Ayat-Ayat Cinta tidak akan mengecewakan.
Artikel ini saya ketik ulang dari teks Pak SN. Ratmana ketika peluncuran buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis tanpa edit. Tujuannya? 1. Bagi-bagi ilmu; 2. Penghargaan tak ternilai saya untuk beliau.
Menuju “Pribadi Tulis” *)
Oleh SN. Ratmana
Yang saya maksud “pribadi tulis” adalah unsur terkecil dari masyarakat tulis (writing society). Sebutan penulis atau pengarang umumnya ditujuka bagi orang yang sudah berprestasi dan memiliki karya yang memenuhi standar. Sedangkan “pribadi tulis” bisa berlaku bagi siapa saja yang menjadikan menulis sebagai kebiasaan dalam mencurahkan pikiran dan perasaannya serta mendokumentasikannya.
Pribadi tulis bisa lahir karena faktor pembawaan, memang ‘dari sononya’ berpotensi untuk jadi penulis. Namun bisa juga karena dibentuk atau diarahkan. Yang terang writing society adalah tahap lanjutan dari reading society. Demikian pula pribadi tulis adalah tahap lanjutan dari pribadi baca. Jadi pada umumnya pribadi tulis merangkap pribadi baca, alas kutu buku. Dengan demikian mengembangkan minat baca merupakan langkah awal terciptanya pribadi tulis.
Bagi orang awam dan masyarakat dengar (listening society) membaca dianggap sebagai pekerjaan perintang waktu saja. Sinambi kalaning nganggur kata orang Jawa. Tidak mengherankan bila orang semacam itu baru mau membaca sesudah tidak ada pekerjaan atau kegiatan lain yang “lebih bermanfaat”. Atau membaca dianggap sebagai kegiatan yang kelewat berat karena –antara lain- harus memusatkan perhatian pada apa yang dibaca. Bandingkan misalnya dengan mendengar atau menonton yang bisa dilakukan lebih santai, malah bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain bahkan sambil mengantuk.
* * *
Kejadian nyata atau fakta yang diulas dan ditelaah pada aspek-aspeknya, bisa melahirkan tulisan yang digolongkan pada nonfiksi. Tulisan semacam itu dicerna dan dikonsumsi oleh otak kita sehingga menambah pengetahuan, memperluaskan wawasan dan mencerdaskan otak. Sebagai imbangannya ada tulisan lain yang oleh penulisnya dimaksud untuk diresapi oleh pembaca sehingga bisa memperkaya batin dan perasaannya. Apa yang terjadi bisa fakta, tetapi bisa fakta melainkan rekaan. Ada semacam pesan yang oleh si penulis secara aluriah ingin dismapaikan kepada pembaca. Itulah tulisan fiksi yang lazim disebut juga karya sastra.
Penulis fiksi umumnya mentransformasikan pengalaman batin dirinya kepada pembaca. Sedangkan pembaca yang dihadapinya adalah manusia yang tidak hanya memiliki otak dan pikiran saja, melainkan juga perasaan, nurani, dan bathin. Karenanya membaca fiksi orang bisa terharu, geram, geli, dan bahkan mencucurkan air mata. Hal itu tidak otomatis fiksi mengabaikan logika maupun fakta.
Karena sasaran kedua jenis tulisan itu tidak sama, maka bis dipahami bila latar belakang yang melahirkannya pun berbeda. Faktor bathiniyah pada tulisan non fiksi tidak sekental penulisan fiksi. Ilham atau inspirasi pada penulisan fiksi bisa digolongkan pada bisik hati yang berbau metafisis. Yang terang ilham penulisan sastra sangat personal dan unik. Itulah sebabnya fiksi tidak bisa lahir atas dasar bujukan, perintah orang lain, apalagi dilakukan secara massal.
Karena sastra sebagai perwujudan fiksi selalu bersifat menusiawi. Padahal nilai-nilai kemanusiaan bersifat abadi. Jadi tidak mengherankan bila karya sastra yang berbobot, tidak hanya monumental tetapi juga abadi. Ramayana, Mahabarata, dan karya-karya Yunani kuno yang berumur ribuan tahun masih relevan dengan kehidupan masa kini. Tulisan Shakespeare, Gide, Tolstoy, dan lain-lain, meski sudah ratusan tahun, masih bisa dinikmati oleh pembaca sekarang. Contoh lain yang sederhana terjadi pada contoh karangan saya yang berjudul Tojo. Untuk pertama kalinya cerpen itu dimuat atau disiarkan oleh Harian KOMPAS, 27 September 1977. Dua puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, cerpen itu disiarkan lagi dalam sebuah antologi cerpennya yang diterbitkan oleh Penerbit KOMPAS padahal fakta yang mengilhami cerpen itu sudah lama dilupakan orang. Para pelakunya pun sudah banyak yang meninggal. Harap maklum, kaean peristiwa yang dituturkan dalam cerpen itu terjadi dalam awal Oktober 1945, 60 tahun yang lalu. Karena Tojo dihimpun dalam sebuah buku, bukan mustahil masih terus akan dibaca pada generasi yang akan datang. Mengapa bisa sampai begitu? Karena cerpen itu menyentuh sisi kehidupan yang manusiawi.
Dari sisi saya telah menunjukkan kelebihan karya fiksi dibandingkan non fiksi. Tentu saja jangan diartikan bahwa karya non fiksi lebih rendah mutu maupun manfaatnya dibandingkan fiksi. Sikap paling adil dicontohkan Akademi Swedia dalam memberi Hadiah Nobel kepada orang-orang berprestasi luar biasa. Penghargaan paling bergengsi itu diberikan kepada orang penemu di bidan sains dan teknologi, penggerak perdamaian, dan penulis sastra.
* * *
Pribadi baca dapat diapstikan pernah mengagumi atau terpana oleh kehebatan karya seseorang. Rasa-rasanya tidak mungkin seseorang sampai menjadi “kutu buku” kalau belum pernah jatuh cintah pada sebuah atau bahkan beberapa buah buku. Khusus dalam hal sastra, pembaca yang pernah “kesengsem” oleh sebuah bacaan, biasanya tertantang untuk terampil, minimum mencoba tampil, sebagai penulis. Sebagai orang yang berkepribadian maka pembaca yang tertantang itu biasanya berusaha untuk tidak sepenuhnya di dalam karya sastra yang pernah dikaguminya. Dia pun bisanya berusaha untuk tampil khas.
Pada saat pribadi baca melangkah ke arah pribadi tulis, dapat dipastikan tersandung-sandung aneka kendala. Salah satu kendala itu adalah masalah bahasa. Yang dimaksud bahasa bukanlah semata-mata penguasaan kosakata, atau vocabulary saja, melainkan lebih-lebih ketrampilan “bertutur” secara runtut dan logis. Sebagaimana kita ketahui seorang pembicara berhadapan dengan audiens bisa dibantu oleh gerak tubuh, isyarat, dan bahkan mimik. Sehingga kekuranglengkapan bahasa lisannya tertutup oleh bahasa lainnya. Tidak demikian halnya dengan penulis. Dia harus sepenuhnya bersandar pada kemampuannya berbahasa tulis. Karenanya bahasa tulisnya yang berantakan, tidak kenal aturan dan logika, bisa membuat bingung pembaca. Jadi sebelum mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan seorang pribadi tulis harus lebih dulu menatanya. Kebiasaan menulis buku harian atau catatan sederhana lainnya semacam itu sangat besar manfaatnya bagi tumbuhnya ketrampilan menata pikiran sebelum diwujudkan dalam bentuk tulisan.
* * *
Perkembangan media audiovisual seperti televisi dna sejenisnya yang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat, ternyata punya dampak negatif terhadap pembentukan pribadi baca maupun pribadi tulis. Orang bisa asyik berjam-jam lamanya di depan pesawat televisi tanpa harus memeras orang apalagi tenaga. Tanpa bermaksud mengurangi makna televisi sebagai media komunikasi, saya perlu menyampaikan bahwa buku sebenarnya tidak kalah mengasyikannya dibandingkan media itu. Mengapa? Otak manusia, sebagai otak paling mulia di muka bumi, ternyata tidak hanya mapu memecahkan persoalan, menyimpan memori yang luar biasa serta mengatur metabolisme tubuh saja, tetapi juga memiliki imajinasi dan asosiasi yang tidak ada pada otak binatang.
Informasi yang masuk ke otak kita tentang sesuatu daerah yang belum pernha kita lihat misalnya, langsung saja ditanggapi oleh otak kita dengan “bayangan” atau “gambaran” tentang daerah itu. Bila pada suat saat kita dapat datang ke sana, bisa terjadi “bayangan” dan “gambaran” yang pernah bermain di otak kita jauh berbeda dengan kenyataan yang kita saksikan. Kerna itu ketika kita membaca novel atau cerpen misalnya, maka yang bermain di otak kita bukan hanya kata-kata, pengertian-pengertian saja, melainkan juga imajinasi tentang peristiwa yang kita baca. Tokoh-tokohnya, dari tampang sampai tabiatnya, juga lokasi dan alam sekitarnya semuanya membayang. Manakala sebagai pembaca kita bisa larut di dalam apa yang kita baca, maka yang tergambar dalam imajinasi kita serba memikat, menarik, dan tentu saja mengasyikkan.
Novel-novel yang sukses di pasaran sering dibuat film. Itu artinya sang sutradara berupaya memvisual imajinasinya. Ada yang berhasil, tetapi lebih banyak yang gagal dalam arti sebagai tontonan menjadi lebih jelek daripada sebagai bacaan. Contoh film yang justru menjatuhkan martabat sebuah novel yang bagus adalah film Kafir yang mengadaptasi novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.
Buku berisi karangan orang lain saja bisa menimbulkan keasyikan dan kenikmatan bagi pembaca, apalagi kalau buku itu karangan kita sendiri. Untuk bisa menikmati karangan orang lain diperlukan adanya semacam kecocokan transaksi seperti yang berlaku dalam dunia bisnis. Sebagai contoh beberapa orang pembaca menilai novel saya, Ketika Tembok Runtuh sebagai novel yang jelek. Itu berarti saya telah gagal mentransformasikan pikiran dan emosi saya selama menulis novel itu kepada mereka. Atau “harga jual” saya tidak cocok dengan pendekatan mereak. Sebaliknya pihak penerbit – sebagaimana tercerpennya pada kata pengantarnya – bisa menangkap pas apa saja yang bergejolak dalam bathin saja. Karenanya berani menerbitkannya. Meskipun beresik mengalami kerugian secara materi. Alhamdulillah bisa mengalami cetak ulang.
Bagi diri si penulis terbitnya karangannya adalah ibarat kemenangan dalam sebuah perjuangan. Ya nikmat, ya bangga disertai rasa syukur yang mendalam. Sebab, apa-apa yang semula hanya ada di alam imajinasi bisa terwujud, untuk kemudian semua pengalaman bathinnya ditularkan kepada orang lain bahkan bisa mengarungi arus waktu yang tak terbatas. Alangkah ajaibnya!
*) : Disampaikan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Soetji Menulis di Balik Papan Tulis (Penerbit Wacana Bangsa) karya SN. Ratmana yang diadakan oleh Tegal Post Production 6 Maret 2005 di Pendopo Ki Gede Sebayu, Tegal
23 January 2008
Membaca judulnya, tidak jarang yang langsung pasang lima (atau lebih) kali sepuluh senti kerutan di dahi Anda.
Awas, nanti cepet tua!
Blog ini saya tulis setelah roundtrip di berbagai pusat perbelanjaan di Surabaya dan Sidoarjo.
Sebagai cewek, tidak terlalu mengherankan bila saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar window shopping atau shopping beneran di mall
. Kalau sudah window shopping, rasanya mata ini segar kembali
. He he he.. Aneh ya? Window shopping selama berjam-jam tidak berarti boleh melupakan kewajiban utama sebagai muslimah dunkz.. Yup! Sholat.
Karena hobi window shopping ini, mushola di berbagai mall sudah pernah saya jajal. Mulai dari mal se-eksklusif Mal Galaxy sampai yang belum selesai dibangun seperti SunCity Mall (Sidoarjo)
. Berikut perbandingan eye-report saya di beberapa mal (pusat perbelanjaan) di Surabaya dan Sidoarjo.
Sun City Mal (Sidoarjo)
Pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Pahlawan ini memang belum selesai dibangun. Dengan Giant sebagai pasar raya-nya, mall ini diprediksi mampu menyedot pengunjung dalam jumlah yang tidak sedikit. Pengunjung yang datang tentu saja didominasi penduduk setempat yaitu masyarakat Sidoarjo. Masyarakat Surabaya jelas pikir dua kali bila hendak mengunjungi mall ini. Selain karena letaknya yang jauh dari perbatasan Surabaya-Sidoarjo, desain interior dan tata ruangnya sangat tidak menarik. Mengapa saya katakan tidak menarik? Alasan pertamanya adalah Sun City yang pelit lahan sekedar untuk meletakkan mesin ATM yang tidak lengkap (nggak ada BNI-nya. Hehehehe). Saking pelitnya, mesin-mesin tersebut diletakkan di bawah eskalator. Jadi, jangan terkejut kalau nanti mall ini memunculkan sensasi di media masa dengan tajuk mengenai pengunjung yang pingsan karena kejedot ketika melakukan transaksi di ATM Center Sun City Mall.
Alasan kedua, yang jadi inti pembicaraan, adalah musholla. Musholla yang disediakan oleh pihak Sun City amat sangat tidak memenuhi syarat. Saya tidak tahu maksud dibalik keikhalsan Sun City menyediakan 2 x 5 kuota jamaah saja untuk sekian banyak pengunjung dan karyawan yang notabene adalah muslim. Untungnya, toilet yang dipergunakan untuk wudhu tergolong bersih dan letaknya tidak jauh dari mushola.
(Mall-mall lain? To be continued…) 
3 December 2007
Betapa egoisnya gue, di usia yang nggak lagi bisa dibilang Balita ini, masih banyak yang belum sempat masuk ke tempurung kepala gue. Banyak hal yang belum sempat menjadi bahan pemikiran gue, termasuk tekad gue untuk being same.
Saat ini gue bisa bilang bullsheet pada popularitas. Gue benci popularitas. Semasa SD, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai anak baru yang juara geguritan. Di SMP, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai Waka OSIS. Di SMA, gue benci orang yang mengenal nama gue sebagai anak immersi atau Ketua Mading. Di kampus, gue benci orang-orang yang mengenal nama gue sebagai juara Olimpiade Statistika apalagi sebagai orang yang dekat dengan Mas ABCD (sensor!).
Have you ever think….
Ketika elo lagi makan dengan nikmat di kantin, orang yang duduk di meja samping ngomongin elo. "Ya ampun, yang namanya Tika itu lho, koq TePe banget sih?! Bla… bla… bla… Emang yang namanya Tika siapa sih?"
Have you ever think…
Ketika elo asyik diskusi dengan seorang senior, di mana lo sedang berusaha menjadikannya seorang Kakak (lebih dari sekedar senioritas), tercetus kalimat, "O…kamu Tika yang juara Olstat itu ya?"
Sepintas, punya nama beken emang seru. Tapi jadi nggak seru ketika mereka hanya tahu nama, nggak ngerti siapa empunya nama beserta embel-embel nggak jelas itu.
Sepintas, diperhatikan orang banyak memang asyik. Tapi jadi nggak asyik ketika setiap tindakan elo yang sifatnya ‘Suka-suka gue’ dikomentari dengan awalan, "Masa’ juara Olstat bla…bla…bla…"
Hey! So what? Ini gue, manusia semanusianya, bukan manusia setengah dewa, eh, dewi. Gue nggak bisa sempurna, bung!